My Bule Husband

My Bule Husband
Perayaan


__ADS_3

"Steve..." panggil Naina setelah masuk ke dalam kamar Steve sambil membawa segelas susu.


"Mama..." jawab Steve yang berada di meja belajarnya. Naina menyimpan gelas di nakas kemudian mendekati Steve.


"Pr-nya udah siap?"


"Dikit lagi Ma." jawab Steve.


"Selesaikan cepat. Abis itu minum susu dulu sebelum tidur."


Steve mengangguk lalu menyelesaikan tugas sekolahnya. Hanya butuh waktu lima menit, Steve menyelesaikannya.


"Udah Mah."


"Jangan lupa masukin bukunya ke tas. Jangan ada yang ketinggalan." ucap Naina yang menunggu di sebelah Steve.


Steve melakukannya, kemudian berjalan ke dekat tempat tidur. Sebelumnya Steve menghabiskan susunya.


"Sikat gigi dulu Steve."


Steve hampir lupa. Dia menurut, pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi. Setelahnya naik ke tempat tidur.


"Besok Mama kerja?" tanya Steve.


Naina mengangguk, "Papa belum pulang ya."


Naina mengangguk lagi, "Tidurlah, besok sekolah."


"Ma bisa bacain cerita buat Steve? Steve nggak bisa tidur." pinta Steve.


Naina mengangkat alisnya, sebelumnya Steve tidak pernah sudi Naina yang melakukannya.


"Boleh." ucapnya sambil duduk di sebelah Steve yang sudah berbaring.


Tiba-tiba Steve memegang tangannya, "Mama, maafin Steve ya. Selama ini Steve selalu kasar sama Mama." ucap bocah itu.


Naina mengusap kepalanya, selama ini dia juga tidak pernah memasukkan ke hati semua hinaan Steve. Baginya Steve adalah anak kecil yang kurang kasih sayang dan tidak tahu apa-apa.


"Iya sayang. Mama udah maafin kok. Udah jangan dipikirin lagi. Yang penting mulai hari ini sampai seterusnya Steve nggak boleh ngomong kayak gitu lagi. Apalagi sama orang-orang kecil nggak punya apa-apa kayak Mama. Kita semua sama di mata Tuhan sayang. Jadi kita juga harus saling menyayangi, baik itu miskin, kaya, cantik ataupun jelek." nasihat Naina.


Steve mengangguk pasti, "Iya Mama. Steve janji nggak gitu lagi." janjinya.


"Baguslah. Mama nggak nyangka kamu bisa nurut kayak gini." ucap Naina.


Steve tersenyum, "Mama selalu baik sama Steve, padahal Steve selalu jahat sama Mama. Steve akhirnya tahu kalau ternyata Mama sayang sama Steve. Steve benarkan Ma, kalau Mama sayang Steve?" tanya bocah itu dengan wajah lucunya.


Naina terkekeh, gemas dengan putranya ini, "Tentu saja sayang. Mama sangat menyayangimu." sambil mengacak rambut Steve.

__ADS_1


Steve juga tertawa, "Steve juga sayang Mama."


***


Naina keluar dari kamar Steve setelah memastikan anak itu tertidur. Sudah pukul sepuluh malam lewat saat Naina masuk ke dalam kamarnya. Kamar masih kosong, berarti Reygan belum pulang. Naina tidak terlalu memikirkan Reygan belum pulang atau tidak. Wanita itu bergegas tidur pada akhirnya.


Keesokan harinya, Naina menjalani aktivitasnya seperti sedia kala. Bersiap-siap untuk ke kantor, membantu Steve memakai seragamnya, sarapan bersama lalu berangkat mengantar Steve ke sekolah lalu pergi ke tempatnya bekerja. Hanya saja pagi ini Reygan tidak menampakkan batang hidungnya, pria itu tidak pulang kemarin malam.


Sesampainya di kantor Naina langsung ke meja kerjanya yang ada di dekat ruangan Chris. Naina masuk ke ruangan Chris setelah sebelumnya disuruh oleh Chris.


Tapi Naina heran karena tidak ada seorangpun di dalam sana.


"Kak Chris..." panggilnya, tapi tidak ada jawaban.


Saat Naina berbalik gadis itu terkejut melihat Chris sudah berdiri di belakangnya.


"Kakak..." pekiknya sambil membekap mulutnya. Matanya melebar melihat Chris memegang cake berukuran sedang dengan lilin angka dua puluh tiga di atasnya.


"Selamat ulang tahun adikku sayang." ucap Chris dengan riang.


Naina tidak bisa berkata-kata, dia baru ingat ulang tahunnya adalah hari ini. Maniknya berkaca-kaca melihat lilin yang terbakar hampir setengahnya.


"Kakak ingat ulang tahunku?" tanya Naina, tidak menyangka.


"Ingat dong. Mana mungkin Kakak lupa." ucap Chris.


Naina tertawa bahagia, sangat terharu akan kejutan ini. Sudah lama sejak keluar dari panti, Naina jarang merayakan ulang tahunnya. Beberapa kali hanya Risa yang membuat kejutan untuknya.


Naina meniup lilin setelah Chris menyelesaikan lagunya.


"Makasih banyak Kak Chris udah buat kejutan buat Naina. Nai aja lupa kalau hari ini Naina ulang tahun."


Chris tersenyum, "Kamu itu adalah orang terpenting di hidup Kakak. Kakak pasti selalu melakukan apapun asal kamu bahagia."


Naina mengerucutkan bibirnya senang, "Kakak..." memeluk Steve, "Naina juga sayang Kak Chris. Sayang banget malah."


Keduanya tertawa bahagia, "Ayo duduk dulu, kita makan kuenya."


Naina semangat duduk di sofa. Gadis itu mengambil alih kue, memotong dalam potongan kecil.


"Kak... aaaa..." meminta Chris membuka mulutnya.


"Nanti sore karyawan lain mau ngerayain ulang tahun kamu." ucap Chris yang merupakan sebuah pernyataan.


"Kaak..." protesnya.


"Risa juga udah siapin kafenya buat sore nanti." tambahnya lagi tanpa peduli rengekan Naina.

__ADS_1


Naina mendengus, sedangkan Chris malah mencubit kedua pipinya.


"Nggak boleh marah-marah di hari ulang tahun loh. Kakak tahu kamu nggak pernah rayain ulang tahun lagi semenjak keluar dari panti. Jadi untuk hari ini, biarkan yang lain ikut merayakan hari bahagiamu Nai." ucap Chris.


Naina mengerucutkan bibirnya, "Ya udah deh. Terserah Kakak aja."


Sebenarnya ulang tahun Naina bukanlah hari kelahirannya yang sesungguhnya. Dia adalah seorang yatim piatu yang benar-benar tidak tahu keluarga kandungnya. Naina ditemukan di depan panti saat tengah malam dua puluh tiga tahun lalu. Sehingga tanggal lahirnya disesuaikan saat hari dimana mereka ditemukan.


Saat sore tiba, tepatnya pukul lima, para karyawan kantor selesai bekerja lebih cepat. Mereka diundang untuk merayakan ulang tahun sekretaris bos mereka. Naina. Mereka langsung meluncur ke tempat perayaan.


Dan di Cafe Orchid, mereka sudah berkumpul termasuk Naina yang menjadi pusat perhatian sore itu. Banyak ucapan selamat yang Naina terima di sana. Senyumnya tiada luntur menghiasi wajah cantiknya.


"Selamat ulang tahun ya Nai." ucap Risa kemudian memeluk dan mencium kedua pipinya.


"Makasih Kak. Kakak yang dekor semua ini?"


"Nggaklah. Anak-anak yang nyiapin." ucapnya.


"Makasih ya Kak udah siapin semua ini."


"Ih kamu tuh kayak sama siapa aja. Kamu kan adik aku."


"Iya Kak. Naina senang banget hari ini."


"Harus dong, kamu harus senang di hari bahagia ini."


Naina benar-benar bahagia hari ini. Banyak senyuman yang dia terima dari orang-irang yang menyayanginya.


Tiga jam cukup untuk perayaan hari ini. Setelah memotong kue ulang tahunnya, dan memakan hidangan yang disediakan bersama teman-temannya, Naina memutuskan pulang.


Naina teringat Steve yang menunggunya di rumah. Susah payah Naina agar Chris tidak mengantarnya pulang. Beruntung Risa yang ternyata mabuk akibat minum alkohol, membuat Chris harus mengantar Risa pulang. Memang tadi Risa menyediakan alkohol, tapi Naina tidak meminumnya karena dirinya intoleransi terhadap alkohol atau alergi.


Naina dijemput oleh supirnya, masih jam delapan, Steve pasti masih belum tidur. Dia begitu bahagia hari ini, sampai senyumnya masih saja begitu cerah saat di mobil.


Tiba-tiba mobil berhenti, "Ada apa Pak?" tanya Naina.


"Ada Tuan Reygan Pak." ucap supir.


Naina terkejut, mencari orang yang dimaksud. Dan ternyata orang itu tepat di depan sana. Melangkah mendekat dengan sorot mata tajam ke arahnya.


Pintu mobil dibuka dengan paksa, pria itu langsung menarik tangannya dengan kasar.


"Pak..." pekiknya.


"Kemari kamu. Aku harus memberimu pelajaran. Dasar perempuan murahan!" bentak Reygan, menarik kasar Naina hingga keluar dari dalam mobil.


TBC

__ADS_1


__ADS_2