My Bule Husband

My Bule Husband
Perdebatan Dua Kubu


__ADS_3

Setelah pesta berakhir, Reygan beserta keluarga kecilnya akhirnya meninggalkan hotel malam itu juga. Tapi kali ini tanpa Sesil dan putri kecilnya. Sebab adiknya itu telah dibawa oleh pria yang telah menikahinya.


Sebenarnya mereka masih ingin bermalam di kamar hotel malam ini, namun entah mengapa Naina sedang tidak dalam mood yang baik. Wanita itu merasa tidak nyaman di dalam hotel, dan tiba-tiba saja merindukan kamar tidurnya.


Tidak ada yang bisa membantah Naina, termasuk Reygan sekali pun yang meminta agar mereka menginap, karena Giselle juga belum mau pulang ke rumah. Pasalnya anak itu tidak mau berpisah dari sepupu kecilnya, Stella yang akan dibawa oleh Chris ke rumahnya.


Reygan kebingungan harus bagaimana. Di saat dirinya yang selalu menuruti keinginan putrinya, tapi kini dia juga tidak bisa menolak keinginan istrinya yang entah mengapa begitu aneh satu harian ini. Biasanya, setiap mengenai Giselle, Naina selalu mengalah, tapi kali ini, Naina tidak memberlakukan hal tersebut.


Dan di sinilah mereka sekarang, di dalam kamar hotel VIP, Naina dan Giselle berdebat dengan sorot mata tajam masing-masing. Sangat aneh, karena biasanya kedua wanita milik Reygan ini, selalu akur di setiap waktu dan keadaan. Dan Reygan bingung apa yang salah dengan istrinya saat ini.


"Hubby, kita pulang ya." ucap Naina pada sang suami.


Giselle yang tadinya melipat tangannya dengan angkuh semakin merenggut. "Nggak mau, Giselle masih mau tinggal di sini. Giselle mau bobo sama adik Stella malam ini." kekeh gadis kecil itu.


"Pa, Stella kan bakal dibawa sama Om Chris ke rumahnya. Jadi Giselle nggak bisa lagi sering-sering liat adik Stella. Boleh kan Pa Giselle bobo sama adik Stella, malam ini aja?" pinta Giselle dengan wajah memelas pada sang ayah.


Sedangkan Reygan semakin pusing, tidak ada yang mau mengalah dari dua malaikatnya ini.


"Sayang, kamu dengar Giselle kan? Satu malam aja kok, besok pagi kita langsung pulang. Lagian ini udah malam, kamu sama anak-anak pasti capek." kata Reygan dengan lembut.


"Hubby..." bukannya mengalah, Naina malah menunjukkan wajah sedihnya.


"Mama kalau mau pulang, pulang aja nggak papa." sahut Giselle tiba-tiba.


"Giselle, yang jagain kamu di sini siapa? Kamu nggak boleh bikin repot Tante dan Om Chris. Mereka udah capek satu harian ini, ditambah ngurus adik Stella." kata Reygan mengingatkan.

__ADS_1


"Udah jangan berantam terus. Mama kalau mau pulang, pulang aja sama Papa. Biar Giselle, Steve sama Kakek yang jagain." Steve yang baru saja masuk ke dalam kamar menyahut.


"Betul itu. Mama pulang aja sama Papa. Giselle di sini dijagain sama Kakak." tukas Giselle seolah mendapatkan jalan keluar.


"Kamu nggak papa tinggal di sini?" tanya Reygan.


"Nggak papa Pah. Steve bisa jagain adik. Mending Papa bawa Mama ke dokter, kayaknya Mama kurang enak badan." kata anak itu.


Mendengar itu Reygan langsung melihat istrinya, "Kamu masih sakit sayang?" tanyanya cemas.


"Enggak lagi. Cuma masih agak pusing. Mungkin karena suasana kamar ini, bikin aku mual dari tadi."


Jika sudah seperti ini, Reygan tidak akan membiarkan Naina berlama-lama di sini. Sebenarnya kamar ini sangatlah nyaman, secara kamar suite room dengan berbagai fasilitas terbaik. Tapi entah kenapa Naina merasa gelisah di sana.


"Ya udah, lebih baik kita pulang aja." pria itu bergegas.


"Iya Papa. Hati-hati ya."


"Jaga adik-adikmu. Kalau ada apa-apa telepon Papa." pesannya pada putra sulungnya.


"Iya Pah."


"Ayo sayang." membawa Naina ke rangkulannya.


Sebelum benar-benar keluar dari kamar, terdengar celetukan dari putri mereka.

__ADS_1


"Dasar, Mama manja."


Naina melirik sengit putrinya. "Biarin." menjulurkan lidahnya. "Mulai sekarang Mama nggak akan biarin kamu menguasai Papa lagi. Papa cuma milik Mama seorang." ketus Naina tidak mau kalah.


Giselle melipat tangannya angkuh, "Hemph. Mama jelek." ejeknya, tapi sudah tidak terdengar oleh Naina lagi. Karena keduanya sudah keluar dari kamar.


***


"Sayang, kok kamu gitu sih sama Giselle?" tanya Reygan setelah sekian menit mereka melaju meninggalkan hotel. Reygan mengusap-usap punggung tangan istrinya, berharap mood wanita itu tidak berubah-ubah.


"Memangnya aku kenapa?" balas Naina.


"Nggak kenapa-napa sayang. Cuma apa salahnya kalau kita nginap di sana satu malam aja. Lagian kasihan Giselle, dari tadi kamu nggak mau ngalah sama dia." kata Reygan.


Tidak ada sahutan, membuat Reygan mengalihkan fokusnya dari jalanan ke istrinya.


"Sayang." panggilnya lembut.


"Aku juga nggak tau kenapa aku jadi begini, Hubby? Aku juga nggak mau berantam dengan Giselle, tapi... ahh... Hubby... sakit..." tiba-tiba Naina memegang perutnya yang tiba-tiba sakit.


"Sayang kamu kenapa?" Reygan panik. Kemudian menepikan mobil di pinggir jalan.


"Ahh... sakit... Hubby... perutku..." jerit Naina sebab rasa sakitnya semakin menjadi.


Nafas wanita itu memburu, menahan rasa sakit di perutnya. Tangannya mencengkeram bahu Reygan dengan kuat.

__ADS_1


"Sayang..." Reygan memang perut istrinya. Pria itu panik bukan main.


TBC


__ADS_2