My Bule Husband

My Bule Husband
Permintaan Alena


__ADS_3

Reygan membuka matanya perlahan ketika sinar matahari pagi jatuh tepat wajahnya. Pria itu memicing, kala merasakan hembusan nafas hangat di ceruk lehernya. Juga sesuatu terasa menindih kakinya.


Reygan mengira itu adalah Steve, tetapi ketika melihat rambut panjang tergerai di dada bidangnya, pria itu membulatkan matanya. Naina. Ucap pria itu dalam hati.


Naina memeluknya, pun tangannya juga ikut melingkar di perut rata gadis itu. Keduanya terlihat intim seperti pasangan lainnya.


Tidak ingin berlama-lama dalam posisi mengenakkan ini, Reygan berusaha melepas diri dari Naina. Tapi Naina malah semakin mempererat pelukannya. Gadis itu melenguh, sepertinya masih sangat mengantuk.


Reygan memperhatikan wajah cantik itu lekat. Naina masih saja terlihat cantik pagi ini. Bibir mungil yang merah merona, juga wajah putih mulus tanpa jerawat, sangat indah dipandang mata.


Reygan masih saja bingung dengan wanita ini sebenarnya. Dia tahu Naina adalah gadis cantik dengan kepintaran di atas rata-rata. Pastinya banyak peluang baginya untuk mendapat pekerjaan lain yang lebih baik setelah keluar dari perusahaannya.


Tapi kenapa, Naina dengan mudahnya mau menerima menikah dengan dirinya yang sudah berstatus duda. Dia masih muda, pasti bisa mendapatkan laki-laki yang sepantaran dengan dirinya.


Pemikiran negatif satu per satu muncul semenjak tahu bahwa Naina adalah calon istrinya di malam di malam sebelum pernikahan mereka.


Salah satunya, Naina ingin balas dendam karena telah dipecat oleh dirinya secara tidak terhormat. Apalagi status Naina yang hanyalah anak yatim piatu, jelas menunjukkan kalau Naina hanya mengincar hartanya. Kalau tidak, mana mungkin gadis belia sepertinya rela mengorbankan masa depannya dengan menikah dengan pria tua beranak satu sepertinya.


Tapi setelah beberapa bulan bersama, semua pemikiran itu tidak terbukti sama sekali. Wanita itu tidak ingin balas dendam, maupun menghabiskan hartanya.


Naina selalu bersikap baik meski mendapat hinaan atau direndahkan oleh Steve putranya. Reygan selalu meminta Elisa, pelayan kepercayaannya untuk mengawasinya. Namun Naina tidak pernah kasar atau membalas hinaan Steve. Begitu pun pada dirinya sendiri.


Penggunaan keuangan juga tidak ada yang mencurigakan. Bahkan Reygan rasa Naina terlalu hemat. Tidak ada pengeluaran dalam jumlah yang besar setiap bulannya. Tidak seperti Emma dan Sesil yang selalu menghabiskan uangnya dalam jumlah besar.


Reygan semakin bingung. Naina sangat diluar pemikirannya. Pria itu merasa ada yang berbeda pada Naina. Wajahnya selalu saja memenuhi pikirannya di setiap waktu.


"Hmmm...." terdengar lenguhan dari Naina membuat Reygan terkejut. Posisi mereka masih sama seperti tadi. Membuatnya buru-buru melepas pelukannya, dan segera bangkit dari tempat tidur. Pria itu keluar dari kamar tepat saat Naina terbangun dari tidurnya.


***


Saat hari menjelang sore, Naina akhirnya pulang bersama Reygan dan Steve. Hari ini adalah tanggal merah, jadi Steve tidak sekolah, dan Reygan juga tidak bekerja. Sepanjang pagi Steve merengek masih ingin tinggal, dan bermain-main dengan anak panti lainnya.

__ADS_1


Steve dan Naina duduk di bangku belakang, membuat Reygan mendengus kesal karena merasa seperti supir pribadi mereka.


Selama perjalanan, Steve banyak bercerita dengannya. Mengatakan hal-hal yang tidak penting layaknya anak kecil. Naina menanggapinya, bahkan ikut terbawa suasana, seperti anak kecil saat bersama Steve.


Keduanya tidak menyadari sepasang mata, mengawasi dari depan sana. Entah apa maksud dari tatapan itu.


Sesampainya di rumah, Steve dan Naina turun, sementara Reygan langsung pergi setelah mendapat telpon entah dari siapa.


"Kakek..." Steve memanggil Rudi yang tengah melakukan kegiatan rutinnya. Memberi makan koi peliharaannya.


Rudi tersenyum, melihat cucu dan menantunya sudah pulang.


"Kalian pulang. Bagaimana keadaan Ibu?" tanya pria itu sambil menerima saliman dari keduanya.


"Sudah agak mendingan Pa." jawab Naina.


"Syukurlah kalau begitu." kemudian Rudi melirik Steve yang tersenyum cerah. Pria tua itu mengedipkan sebelah matanya pada Steve.


"Ada apa Pah?" tanya Naina, merasa aneh melihat tingkah mereka.


Naina tidak ambil pusing, "Yaudah, kalau gitu Naina naik ke atas dulu ya Pa."


"Iya. Suruh Elisa buatkan cemilan untuk kami."


"Iya Pa."


***


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah kafe. Reygan tengah duduk dengan seorang wanita di hadapannya. Pria itu memandang lurus pemandangan jalanan kota melalui sekat pembatas terbuat dari kaca, tidak menghiraukan wanita di hadapannya.


"Rey, kamu lagi mikirin apa sih?" tanya wanita yang merasa terabaikan oleh pria di hadapannya.

__ADS_1


Reygan menoleh, lalu menggeleng samar. Memperhatikan wanita itu meminum minuman pesanannya.


"Rey, aku mau tanya sesuatu." tanya wanita itu.


"Tanya saja." ucap Reygan tanpa minat.


Wanita itu menghela nafas sebelum berucap, "Kapan kamu lamar aku?" ucapnya dan berhasil mengalihkan pikiran Reygan.


"Apa maksud kamu Alena?" tanya Reygan dengan raut wajah tidak suka. Wanita itu memang Alena, wanita yang merangkap sebagai asisten sekretaris dan kekasihnya.


"Kita udah lama pacaran Rey, masa kamu nggak ada niat untuk melanjutkan hubungan kita ke hubungan lebih serius lagi?" ucap wanita itu menuntut Reygan.


Reygan mengalihkan pandangannya ke tempat sebelumnya, "Maaf Alena. Bagiku ini masih terlalu cepat." jawabnya membuat harapan Alena pupus.


"Rey... Apa masih karena mantan istri kamu itu?" tanya wanita itu diikuti nada kekesalan.


Reygan acuh, "Anggap saja begitu."


Alena mendengus, "Tiga tahun kita menjalin hubungan, apa tidak cukup untuk menghapus kenangan kalian? Aku ini perempuan Rey, aku butuh kepastian!" cecar wanita itu.


"Alena! Tolong jangan bahas lagi." kesal Reygan, karena diingatkan kembali dengan mantan istrinya. Entah mengapa setiap mengingat wanita itu selalu membuat mood-nya menjadi buruk.


Alena mendengus, tidak kalah kesal, "Oke. Aku nggak bahas lagi. Tapi aku mau kamu janji, dalam satu bulan ke depan kamu harus kasih aku kepastian! Entah itu tunangan atau kamu kenalkan ke keluarga kamu, terserah. Aku capek berdiri di belakang kamu terus." tandasnya penuh perintah.


Reygan tidak peduli akan ucapan Alena. Memang dirinya dan Alena sudah saling mengenal sejak lama. Reygan memutuskan untuk menjadikan Alena sebagai kekasihnya tiga tahun lalu hanya untuk membantunya melupakan mantan istrinya.


Tapi masih belum berhasil bahkan sampai sekarang. Reygan juga tidak berniat untuk memutuskan Alena, karena wanita itu sudah berjasa padanya. Saat mantan istrinya meninggalkannya, hanya Alena-lah yang selalu ada untuknya. Wanita ini berhasil menyelematkannya dari masa-masa paling buruk dalam hidupnya.


"Rey..." panggil Alena sambil meletakkan tangannya di punggung tangan Reygan. "Malam ini temani aku di apartemen ya." dengan senyum manisnya.


Reygan menyipitkan matanya tidak suka, "Liat tuh, di luar lagi hujan, pasti nanti malam bakal ada badai sama petir. Aku takut." rengeknya manja.

__ADS_1


Reygan diam, cuaca memang sangat buruk beberapa hari terakhir, dan dia tahu Alena fobia dengan petir. Pria itu akhirnya mengangguk setuju.


TBC


__ADS_2