
"Steve, kok kamu bilang begitu?" cecar Reygan sesaat setelah Naina pamit ke dapur untuk menghindari kecanggungan yang diciptakan oleh Steve.
Steve malah tersenyum tanpa merasa bersalah, dia juga tidak sengaja mengucapkan hal seperti tadi.
"Steve keceplosan Pa." jawabnya dengan tawa usilnya.
Reygan berdecak, "Lain kali jangan begitu lagi." nasihatnya.
"Memangnya kenapa Pa? Bukannya bagus kalau nanti Steve punya adik bayi, berarti Mama tidak akan bisa pergi lagi." timpal Steve.
Reygan menyipitkan matanya. Dia merasa ada yang aneh dengan putranya. Bagaimana bisa anak sekecil ini mengerti hal dewasa tersebut.
"Steve, siapa yang ajarin kamu ngomong begitu?" tanya Reygan.
Steve menggeleng, "Nggak ada kok, Steve tahu sendiri." elak Steve.
"Steve." Reygan menatap tajam membuat Steve tidak bisa mengelak.
"Steve diajarin sama Kakek." ucapnya pada akhirnya.
Reygan berdecak, sudah dia duga. "Orang tua itu." desisnya.
Pria itu mengingat kembali perkataan Steve. Memiliki anak bersama Naina pasti bisa membuat Naina tetap bersama mereka.
Apakah Reygan perlu melakukan usulan dari putranya?
Beberapa hari kemudian, Naina sudah benar-benar pulih. Punggungnya sudah tidak terasa sakit lagi, jadi hari ini dia akan berangkat ke kantor. Bukan untuk bekerja, melainkan mengantarkan surat pengunduran dirinya.
Sebenarnya Naina masih belum rela meninggalkan pekerjaan itu. Tapi dia kalah taruhan dengan suaminya yang menyebalkan. Membuatnya mau tidak mau harus melakukannya.
__ADS_1
"Jangan lupa, hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja."
Tiba-tiba suara Reygan terdengar dari belakangnya, saat Naina sedang membenahi tasnya dan beberapa dokumen di tepi tempat tidur.
Naina sudah rapi memakai celana kerjanya, sementara Reygan baru saja memakai ikat pinggangnya.
Naina mendelik kesal, bibirnya komat-kamit menggerutu. Reygan tersenyum melihatnya.
"Pagi-pagi nggak boleh marah-marah." ucapnya.
"Suka-suka aku dong." balas Naina kesal.
Reygan memberikan dasinya pada Naina, membuat gadis itu bingung.
"Bisa bantu pasang?" pinta Reygan yang memang sengaja.
"Kenapa harus aku? Biasanya juga bisa sendiri." omelnya.
Naina berdecak, setengah hati menerima dasi berwarna biru itu. Naina berdiri di hadapan Reygan dengan kesal.
Naina melihat Reygan yang menjulang tinggi di depannya. "Aku nggak nyampe." rengeknya. Karena memang Naina terlalu pendek untuk pria bule macam Reygan. Bahkan tangannya saja tidak sanggup melingkari leher Reygan.
Reygan menunduk sedikit, tapi Naina masih belum sampai. "Nunduk lagi." perintahnya.
Reygan mencibir, "Dasar pendek."
"Au..." Naina berteriak karena Reygan tiba-tiba mengangkatnya ke atas ranjang.
Kini tinggi mereka seimbang "Udah kan?" tanya Reygan.
__ADS_1
"Hem." Naina memutar bola matanya.
Dengan setengah hati mulai memasang dasi sang suami. Naina memang cukup terampil memasang dasi, sehingga dia tidak kesulitan.
Naina sadar, ketika dia sibuk memasang dasi, mata Reygan jelalatan memandangi tubuhnya. Gadis itu berdecak kesal, saat hampir selesai, Naina sengaja mengeratkan dasi hingga membuat Reygan tercekik.
"Sakit..." Reygan mengaduh kesakitan.
Naina mencibir, "Sakit ya. Maaf aku nggak sengaja."
"Kamu sengaja." tuding Reygan, sambil melonggarkan dasinya.
"Emang." ucap Naina kesal.
Reygan mendengus, dia juga tidak ingin membalas istrinya.
"Makanya kalau punya mata, jangan suka jelalatan." omelnya.
Reygan sadar kenapa Naina marah. Dia juga mengakui dia memanfaatkan kesempatan saat Naina berada sangat dekat padanya.
"Jangan salahkan aku. Salahin tuh, badan kamu minta aku sentuh." balas Reygan seolah tidak merasa bersalah.
Naina semakin kesal, matanya melotot seakan ingin memakan Reygan.
"Siapa yang minta disentuh. Jangan ngaco! Jangan pernah mimpi!" bentaknya. Naina hampir melayangkan tas kerjanya ke muka Reygan.
"Eits, dengan atau tanpa persetujuan kamu, aku berhak menyentuh tubuh kamu."
Reygan menangkap tas Naina, lalu pergi begitu saja, sebelum Naina semakin marah.
__ADS_1
TBC