
Sedari tadi Naina menggerutu kesal. Dia sangat malu. Malu sekali. Tubuhnya yang indah telah dilihat oleh Reygan. Bahkan pria itu sangat berani menyentuhnya.
"Dasar mesum. Tidak tahu malu."
Naina memegang wajahnya yang merah padam, dan terasa panas. "Betapa memalukannya." gerutunya lagi.
Dia telah selesai mandi dan memakai pakaiannya dengan susah payah. Dan sekarang Naina sangat malu bertemu dengan Reygan lagi.
Tapi Naina harus keluar sekarang juga. Dia harus menemui Elisa. Wanita itu pasti sangat merasa sedih saat ini.
Saat keluar dari kamar mandi, Reygan tidak lagi ada di kamar. Sembari menahan rasa sakit di punggungnya, Naina menuruni anak tangga. Mencari keberadaan Elisa.
Setelah bertanya pada pelayan lain, Naina menemukan Elisa di ruangan belakang. Naina terenyuh melihat Elisa histeris, menangis di pelukan pelayan lain.
Naina mendekat, dia pun turut merasakan kesedihan Elisa. Suaminya jauh di sana, tiba-tiba terdengar kabar kematiannya. Sangat menyedihkan, di saat orang-orang terkasih pergi tanpa meninggalkan kata-kata perpisahan.
"Elisa..." panggilnya. Naina tidak bisa menyembunyikan air matanya. Elisa sangat rapuh saat ini. Sangat berbeda dari Elisa yang selalu berwajah datar, seperti tidak memiliki perasaan.
"Nyonya..." suaranya menghiba. Sangat membuat hati bergetar mendengarnya.
Dengan sigap Naina memeluknya. Dan Elisa semakin menguatkan tangisnya. "Suamiku sudah pergi Nyonya. Dia meninggalkan kami." tangis wanita itu.
Naina menepuk-nepuk punggung Elisa, wanita ini pasti sangat hancur.
Naina dan yang lain berusaha menenangkan Elisa. Itu berhasil tapi hanya untuk sementara. Beberapa saat kemudian Elisa akan histeris.
Akhirnya Elisa akan pulang, mempersiapkan segalanya untuk menyambut jenazah suaminya.
Naina hendak ikut, dia ingin berada di samping Elisa menghadapi musibah mengerikan itu.
Naina telah menyiapkan supir untuk mengantar Elisa pulang ke rumahnya. Dia juga akan naik ke mobil, tapi seseorang tiba-tiba menariknya.
Naina menatap sengit orang itu, "Kamu mau kemana?" tanya Reygan.
"Aku akan menemani Elisa." Naina berucap kesal. Saat ini dia tidak berdebat dengan Reygan karena kejadian di kamar mandi tadi.
__ADS_1
"Tidak boleh." pria itu melarang dengan wajah datar.
Dua orang pelayan datang menghampiri, "Kalian berdua, temani Elisa. Dan urus semua keperluan di rumahnya." perintah pria itu pada dua pelayan wanita tersebut.
Naina mengepalkan tangannya, sambil melihat dua pelayan itu masuk ke dalam mobil. Dia sangat ingin menemani Elisa.
"Aku ingin menemani Elisa!" Naina masih kekeuh ingin ikut.
Entah sengaja atau tidak, Reygan menepuk pelan punggung mungilnya.
"Au... Bapak sudah gila!" bentaknya. Mengaduh kesakitan.
Reygan mengangkat sebelah alisnya, "Lihat punggungmu masih sakit. Kamu akan tetap di rumah dan biarkan pelayan itu membantu di sana. Kita akan pergi saat pemakaman." terang pria itu. Dan Naina tidak bisa menolak.
Mobil melaju meninggalkan area rumah mereka. Naina mengerucutkan bibirnya, kesal pada pria di hadapannya.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal di depan Reygan. "Menyebalkan!" umpatnya.
Dan kakinya masih menghentak sambil masuk ke dalam rumah.
Sementara Reygan, terlihat senang. Dia menikmati wajah kesal itu. Entah kenapa Reygan sangat candu membuat Naina kesal. Naina sangat mudah marah olehnya. Wajah gadis itu lucu ketika marah. Bibirnya mengerucut bersamaan dengan matanya yang melotot seakan ingin menerkamnya.
"Aku tidak mengikutimu. Ini kamarku. Terserah aku di sini atau tidak!" jawabnya membuat Naina bungkam, tapi malah semakin membuatnya kesal.
Naina duduk di tepi tempat tidur, sambil memperhatikan Reygan membuka jam tangannya hingga kancing kemejanya.
Sesuatu menghinggapi kepalanya. Teringat Elisa yang tengah berkabung.
"Itu, Elisa. Tidak bisakah kita membantunya?" Naina mengesampingkan kekesalannya. Merasa ini sangat penting.
"Membantu apa?" Reygan seperti tidak tertarik.
"Elisa masih memiliki dua anak yang masih sekolah dan ibunya juga sakit-sakitan. Sementara baru terdengar kabar kalau suaminya sudah tiada. Sekarang tidak ada lagi yang akan menafkahi mereka." jelas Naina.
Entahlah, Reygan sangat bingung dengan gadis ini. Beberapa detik yang lalu wajah itu menekuk kesal, berapi-api ingin mengajaknya berdebat. Tetapi dalam sekejap wajah itu menjadi sedih, dan suaranya menjadi lembut.
__ADS_1
"Lalu apa?" tanya Reygan.
Naina menggigit bibirnya, dia ragu, tapi dia juga kasihan pada Elisa.
"Apakah kita bisa membantu Elisa? Maksudku biaya sekolah anak-anak Elisa. Apakah kita bisa menanggungnya saja?"
Memang dia sudah menjadi Nyonya di rumah ini. Tapi uang yang ada padanya sekarang adalah milik keluarga Dos Santos. Menurutnya, dia tidak bisa memakai uang itu tanpa seizin Reygan atau pun Rudi, meski mereka tidak keberatan dengan itu.
Reygan mendengar bibir mungil itu, dalam hati dia juga salut akan kepedulian wanita itu. Tapi dia merasa ingin bermain-main dengan Naina. Pasti akan menyenangkan.
Kemejanya sudah lepas sepenuhnya dari tubuh kekarnya. Dia mendekati Naina, berjalan dengan perlahan.
"Bukankah Papa sudah memberikan kartu yang berisi uang sangat banyak padamu?" tanya pria itu.
Naina mengangguk, "Gunakan uang itu. Kenapa harus permisi padaku?"
"Tapi uang ini bukan uangku."
Seringain licik muncul di wajah Reygan, "Kamu mau uang itu menjadi milikmu sepenuhnya? Uang itu benar-benar menjadi milikmu dan kamu tidak perlu izin dariku untuk menggunakannya." ucapnya.
Naina hanya diam, membalas tatapan Reygan, meski sebenarnya dia juga ingin tahu.
Reygan mengerti dari raut wajah Naina. Dia ingin tertawa melihat wajah menggemaskan itu.
"Lakukan tugasmu selayaknya seorang istri." ujar Reygan.
Naina bingung. Dia merasa selama ini sudah melakukan tugasnya, tapi Reygan yang selalu menolaknya.
"Tapi aku sudah melakukannya. Justru bapak yang tidak pernah menghargai apa yang aku lakukan." ucapnya.
Reygan mengakui hal itu. "Baiklah aku mengaku salah. Sebelumnya hubungan kita memang tidak baik. Tapi mulai sekarang, aku tidak akan seperti itu lagi."
Naina masih diam, membuat Reygan kembali berucap, "Bagaimana? Kamu mau melakukan semua tugasmu padaku?"
Naina mengangguk pasti, lagipula dia hanya tinggal mengurus pria itu.
__ADS_1
Reygan tersenyum, "Kamu serius akan melakukan semuanya? Melayani semua keperluanku, termasuk kebutuhan biologisku?" alis pria itu terangkat, menikmati wajah terkejut yang menggemaskan itu.
TBC