
Naina mematut wanita berperawakan tinggi di hadapannya. Parasnya cantik dengan rambut panjang yang menjuntai indah di punggungnya. Akhirnya dia melihat wanita masa lalunya secara langsung.
Naina mencelos saat menyadari betapa cantik dan menawan mantan istri suaminya. Sangat berbeda dengan dirinya yang merupakan wanita biasa. Pantas Reygan susah melupakannya. Ternyata Natasya secantik bidadari.
"Hello?" wanita itu menjentikkan jarinya di depan Naina.
"Ah ya. Maaf. Aku Naina." balasnya dengan senyum paksaan.
Natasya tersenyum manis, "Senang bertemu denganmu."
Naina mengangguk samar, berusaha menutupi hatinya yang terasa sesak.
Natasya menyamakan tingginya dengan Steve, "Sayang, kamu main sama Tante Sesil dulu ya. Mami mau ngobrol sama Mama kamu." katanya dengan lembut.
Steve mengangguk, "Iya Mami. Mama, Steve pergi dulu ya." pamit Steve.
"Iya, sayang." jawabnya.
Setelah kepergian Steve, Naina mengajak Natasya di sofa yang ada di kamar Steve.
"Aku tahu, kedatanganku pasti membuatmu terkejut. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, aku datang bukan untuk membuat masalah dalam rumah tanggamu." ucap Natasya begitu mereka duduk, seolah tahu bagaimana perasaan Naina saat ini.
"Aku datang untuk Steve." saat mengucapkan itu, wajahnya mendung.
Natasya tersenyum lagi, "Kamu pasti tahu kan, kenapa aku dan Reygan berpisah?"
Ternyata Natasya cukup lancar menggunakan bahasa Indonesia.
Naina mengangguk samar, "Aku meninggalkan Steve yang baru berumur satu bulan saat itu. Aku menyesal, sangat menyesal. Dan sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin memperbaiki hubungan yang pernah hilang bersama putraku." tutur wanita itu.
Naina diam, tidak mampu menanggapi perkataan Natasya. Jika dia melarang, tentu dia tidak berhak, karena Natasya adalah ibu kandung Steve, bukan dirinya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mencampuri rumah tangga kalian. Di sini, aku datang untuk Steve."
***
__ADS_1
Naina kembali ke kamarnya, setelah bicara sebentar dengan wanita masa lalu suaminya. Natasya tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya tersinggung. Justru Natasya menenangkannya, agar tidak merasa terancam dengan kehadirannya.
Rasa sesak tetap timbul di hatinya. Benar atau tidaknya perkataan Natasya, tetap saja hatinya gundah.
Beberapa saat sebelum makan malam, Reygan sudah pulang ke rumah. Naina sedang memposting beberapa menu barunya di sosial media khusus tokonya saat Reygan masuk ke kamar.
Pria itu mencium puncak kepalanya dari belakang, membuat Naina terkejut.
"Hubby?"
"Lagi ngapain?" tanya pria itu lembut.
Naina mengamati wajah suaminya yang terlihat bersemangat. Sepertinya Reygan belum bertemu Natasya.
"Lagi masukin menu baru ke list menu." jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu baik-baik saja kan?" pria itu bertanya.
Naina mengangguk, "Ada apa?" tentu Reygan memiliki alasan karena tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Oma dan Sesil sudah pulang. Kamu nggak diapa-apain sama mereka kan?" pria itu cemas, karena ingat dengan jelas betapa Emma dan Sesil membenci Naina.
"Syukurlah. Tapi jika nanti mereka bersikap buruk padamu, katakan padaku. Aku yang akan menghadapi mereka."
"Em. Aku mengerti."
"Bagus. Kalau begitu sekarang temani aku mandi." Reygan dengan suara usilnya mulai menggoda.
"Tidak. Aku sudah mandi. Dan sebentar lagi, kita akan makan malam." tolak Naina sambil mendorong Reygan.
Tapi Reygan tetaplah Reygan. Dia berhasil menyeret Naina ke dalam kamar mandi hanya dengan sekali sentuhan.
Pria itu mencium Naina penuh *****, menggerayangi tubuhnya membuat Naina lemah dalam pelukannya.
"Hubby..." suara Naina serak. Manja. Berada di atas tubuh Reygan yang kini sudah polos tanpa sehelai kain.
__ADS_1
Di dalam bath up, keduanya berpacu. Saling memuaskan hasrat masing-masing. Tidak peduli dengan orang-orang yang tengah menunggu kedatangan mereka di meja makan.
Naina kelelahan setelah memimpin percintaan panas mereka di sore menjelang malam itu.
Reygan mengecup bibirnya untuk yang terakhir. Lalu mengangkat Naina dengan mudahnya dari dalam bath tube. Menyalakan shower dan melakukan ritual mandi tanpa ada adegan panas yang akan menahan mereka lebih lama di sana.
Setelah menyelesaikan mandi yang memakan waktu yang cukup lama. Keduanya memilih turun untuk makan malam.
"Kamu sih. Papa sama yang lain pasti udah nunggu lama." omel Naina sambil berjalan beriringan dengan Reygan. Keduanya berpegangan tangan, layaknya pasangan yang romantis.
Tapi Reygan tidak merasa bersalah sama sekali. Justru, jika saja perut istrinya tidak berbunyi karena kelaparan, dia pasti akan menahan Naina lebih lama di dalam kamar.
Keduanya sampai di ruang makan. Semuanya sudah ada di sana termasuk Rudi.
Naina menyusuri setiap orang. Mencari keberadaan Natasya. Apakah wanita itu sudah pergi. Pikirnya.
Karena Sesil dan Emma sudah pulang, kini kursi Naina dipindah dan duduk di samping Reygan.
Raut wajah kedua wanita itu tentu sangat buruk pada Naina. Tapi Naina yang sudah terbiasa, tidak mempedulikannya.
Dan Rudi, entah apa penyebabnya, pria tua itu terlihat tidak bersemangat.
Sebelum mereka akan mulai makan, tiba-tiba seseorang muncul dari arah dapur.
"Maaf, kalian menunggu lama. Sup jamurnya baru saja matang." suara lembut itu mendayu-dayu dari mulut seorang wanita cantik yang membawa wadah di tangannya.
Deg
Reygan terpaku. Berulangkali mengedipkan matanya, melihat wanita yang tidak asing dalam hidupnya.
"Natasya..." gumamnya dan tentu terdengar oleh telinga Naina sendiri.
Natasya meletakkan sup buatannya di meja makan. "Ayo, kita mulai makan." ucap wanita itu.
Natasya berjalan menuju kursi di sebelah Steve, dan tentunya akan melewati Naina dan Reygan.
__ADS_1
Sangat di luar dugaan. Langkah Natasya terhenti tepat di belakang Reygan. Tangannya kini berada dalam genggaman Reygan.
TBC