
Sesampainya di kamar, Naina langsung berhambur ke cermin riasnya. Matanya membelalak, melihat sekujur lehernya yang dipenuhi dengan kissmark.
Naina bergidik. Bekas itu sangat banyak, hingga memenuhi seluruh kulit leher hingga dadanya. Dia sudah seperti macan tutul.
Naina berbalik, memberikan tatapan protes pada suaminya yang berdiri di belakangnya.
"Pak." rengeknya. Bagaimana dia bisa keluar rumah dengan kondisi seperti ini. Dan yang lebih memalukan lagi, putra dan Ayah mertuanya sudah melihatnya.
Reygan tanpa merasa berdosa sedikit pun mendekat. Lalu mendekapnya, "Bisa disamarkan dengan foundation, jangan cemas." usulnya.
Reygan benar, tapi tetap saja Naina kesal karena Rudi dan Steve sudah melihatnya.
Bibirnya mengerucut, membuat Reygan gemas. Dia mencubit bibir itu, "Kamu ingin menciumku lagi ya." goda pria itu.
Naina mendelik, "Tidak. Bapak jangan ngaco." elaknya.
"Bapak?" wajah yang tadinya begitu bahagia, berubah suram setelah mendengar panggilan itu.
Naina menyadari kesalahannya, "Hubby, iya maksudku hubby." ucapnya dengan cengirannya.
"Kalau sampai aku mendengar panggilan itu lagi, awas saja." ancamnya.
"Iya Hubby. Janji tidak akan memanggilmu dengan panggilan itu lagi." kata Naina.
"Bagus."
__ADS_1
***
Malam menjelang, Reygan benar-benar menggenapi keinginannya untuk kembali menyentuh istrinya. Pria itu tidak malu-malu lagi, menarik istrinya bertempur di atas ranjang hingga hari menjelang pagi.
Naina terengah-engah, berada di bawah kuasa suaminya yang gagah perkasa. Dia sudah sangat lelah, keringat membasahi kening dan tubuhnya. Sedari tadi, bibirnya berhasil meloloskan ******* penuh kenikmatan, memenuhi kesunyian kamar temaram tersebut.
"Hubby..." racau Naina saat Reygan lagi-lagi mempercepat hentakannya. Dadanya terangkat, membusung tepat di wajah suaminya.
Sedangkan Reygan tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mulutnya langsung menangkap gundukan yang menantang itu. Menghisapnya bagai bayi yang tengah kehausan.
"Kamu menikmatinya?" pria itu bertanya, menatap dalam manik istrinya dalam temaramnya kamar mereka.
Naina mengangguk begitu saja. Kedua tangannya memeluk punggung telanjang Reygan. Sesekali mencakarnya, akibat hentakan yang membuat tubuhnya menggelinjang.
Naina kini mencakar punggung pria itu, karena sesuatu mendesak di bawah sana.
"Sayang..." suara Reygan menggelegar, begitu saja setelah pelepasan keduanya berhasil.
Reygan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Naina. Nafas keduanya terengah, tetapi tubuhnya masih belum ingin berpisah.
Reygan mengangkat wajahnya, bertatapan langsung dengan manik istrinya yang terlihat terpuaskan oleh keperkasaannya. Pria itu tersenyum penuh arti.
Reygan berguling ke samping, dan segera menarik Naina ke dalam pelukannya, setelah sebelumnya menghujani wajah wanita itu dengan ciumannya.
Naina belum ingin memejamkan matanya, meski malam semakin larut. Dia masih betah membuka matanya, sambil memandangi dada berotot di hadapannya.
__ADS_1
Bahkan hingga saat ini, Naina masih gundah. Naina takut, setelah apa yang terjadi, semuanya hanya menjadi kesia-siaan saja.
Reygan memang sudah memiliki dirinya seutuhnya, tapi tidak dengan dirinya. Dia belum memiliki hati Reygan seutuhnya. Bahkan secuil pun, dia belum memiliki hati pria itu.
Jujur saja, setelah percintaan mereka yang pertama, Naina sudah mulai membuka hatinya untuk Reygan. Naina berusaha menerima Reygan, si lelaki dingin yang sombong nan arogan sebagai suaminya. Sosok yang akan menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya.
Naina takut, setelah Reygan puas bermain-main dengannya, Reygan akan meninggalkannya akan begitu saja.
"Lagi mikirin apa?" suara berat menyapa gendang telinganya.
Rupanya, Reygan belum tidur. Naina membalas tatapan itu. "Tidak bisa tidur." lirihnya dengan manja.
Reygan tersenyum, mulai mengusap kepalanya dengan lembut.
"Waktu kecil, Steve akan tidur dengan mudah, jika kepalanya diusap seperti ini." kata pria itu.
"Dan hal yang sama terjadi padaku. Aku mulai mengantuk Hubby." jawab Naina.
Karena memang benar, Naina mulai mengantuk. Matanya sayu, dan akan segera menutup.
"Selamat malam Pak." ucap bibir itu sebelum akhirnya benar-benar jatuh dalam tidurnya.
Reygan terkekeh, "Dasar."
TBC
__ADS_1