My Bule Husband

My Bule Husband
Tidak akan pernah kembali lagi


__ADS_3

"Masih belum ada perkembangan?" tanya Reygan pada Doni, asisten pribadinya yang masih setia padanya selama delapan tahun terakhir. Ya, hanya Donilah orang terdekatnya yang masih ada untuknya.


Dan selama ini, Doni juga yang membantunya dalam pencarian istri dan anaknya.


"Maafkan saya Tuan. Sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda kemunculan Nyonya Naina." ucap Doni yang merasa tidak becus karena satu tugas yang bosnya berikan tidak bisa dia selesaikan dalam kurun waktu delapan tahun ini.


Reygan mengangguk samar. Namun kesedihannya tidak bisa disembunyikan. "Tidak apa-apa. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Mulai saat ini fokuslah dengan hidupmu, biar aku yang mencari istriku sendiri." kata Reygan, berusaha menutupi sakit hatinya.


Selain itu, Doni juga sudah berumur dan sudah menginjak kepala tiga. Doni juga perlu melanjutkan kehidupannya, menikah dan memiliki anak. Selama ini Doni terlalu memprioritaskan dirinya yang selalu tenggelam dalam jeratan masa lalunya.


Doni mengangguk, "Semoga Nyonya cepat ditemukan." ucapnya.


"Oh ya Tuan, saya baru mendapat telepon dari kepala sipir penjara pagi ini. Katanya, Alena mengamuk dan memukuli tahanan lain." lapor pria itu.


Reygan tampak acuh, bahkan terlihat jijik ketika mendengar nama itu.


"Biarkan saja, aku tidak peduli. Kalau perlu biarkan wanita itu lebih lama mendekam di penjara." ucapnya ketus. Jelas Reygan masih reda akan dendamnya terhadap wanita itu.


Doni mengangguk, lalu pergi meninggalkan bosnya tersebut.


Reygan kini sendirian lagi. Hari-harinya menjadi suram selama delapan tahun terakhir. Kepergian Naina sangat berpengaruh besar dalam hidupnya. Bahkan lebih parah dari ketika Natasya meninggalkannya.


Lagi dan lagi, pria itu tidak becus menjadi seorang suami. Sudah dua kali dirinya ditinggalkan oleh dua wanita yang sangat dia cintai. Memang dia tidak beruntung dalam urusan asmara.

__ADS_1


Kantong matanya semakin menghitam, pun sudah banyak garis kerutan di beberapa sudut wajahnya, membuatnya tampak lebih tua. Tetapi ketampanan itu masih melekat, hanya saja aura wajahnya tampak tidak bersemangat.


Reygan memandangi foto mereka ketika menemani Steve delapan tahun lalu di taman hiburan. Pria itu tersenyum. Betapa lucunya mereka kala itu.


"Sudah delapan tahun Naina. Apakah kebencianmu padaku masih sebesar itu?" lirihnya dengan lesu, meratapi nasibnya.


"Kamu pasti sudah semakin cantik sekarang." senyumnya kembali memudar, "Tapi aku sama sekali tidak bisa melihatmu dan merayakan setiap pertambahan umurmu selama delapan tahun ini."


"Aku mohon kembali sayang. Aku sangat merindukanmu." ucap pria itu. Untuk yang kesekian kalinya air matanya membendung dengan deras.


Andai wanita itu di sini, dia akan mendekapnya dengan erat dan tidak akan pernah melepasnya.


***


Sedangkan di belahan bumi lain, seorang wanita dewasa dengan paras cantik nan mempesona, tengah duduk dengan anggun di kursi kebesarannya. Maniknya yang indah, fokus membaca dokumen di mejanya, sampai tidak menyadari kedatangan seseorang.


Maniknya berbinar, melihat pria tua nan renta yang berdiri di sana "Papa..." sapanya.


Pria tua itu melebarkan tangannya dan menyambut wanita itu ke dalam peluknya. "Sibuk sekali, sampai kamu tidak menyadari kedatangan Papa." kata pria itu.


Naina. Ya, dialah Naina Dos Santos. Mantan istri Reygan Dos Santos. Memang lucu karena Naina masih memakai nama belakang itu. Itu karena Rudi yang telah menyematkan nama itu yang menganggap Naina seperti putrinya sendiri, bukan menantunya.


"Aku sibuk Papa. Bulan depan ada pembukaan cabang baru di luar kota." ucap Naina.

__ADS_1


Ya, Naina kini sudah sukses sebagai seorang wanita karir. Di Jerman, dia memiliki toko kue raksasa yang sudah menyebar ke berbagai kota. Dan mungkin beberapa waktu ke depan dia akan mendirikan toko di negara lain.


Semua itu berkat jerih payahnya. Meski ada Rudi dan Chris yang menjadi pawangnya selama delapan tahun ini, dia tidak mau hanya diam begitu saja menikmati uang mereka. Naina memulai bisnisnya sendiri dari nol hingga mencapai masa kejayaan ini.


"Buka cabang lagi?" Rudi tersenyum jenaka sambil duduk di sofa. "Sepertinya kamu akan mendapat gelar rich woman." katanya.


Naina tersenyum malu, "Papa bisa aja. Ngomong-ngomong Papa kok masih keluar rumah. Bukannya kata Steve Papa sakit?"


"Enggak kok. Papa malah bosan di rumah terus. Lebih baik Papa mengunjungi tokumu di seluruh penjuru kota dari pada hanya diam saja."


"Ih Papa..."


Rudi bangga pada Naina. Naina memang wanita yang sempurna. Tapi kesempurnaannya justru malah disia-siakan oleh putranya sendiri.


"Kalau saja Papa punya putra lain, Papa pasti nggak akan menikahkan kamu dengan Reygan." ucap Rudi tiba-tiba. Membuat senyum di wajah itu luntur.


"Papa..." Naina memohon untuk tidak membahas hal yang sangat sensitif dalam hidupnya.


"Apakah delapan tahun masih belum cukup Nak?" kata Rudi dengan raut wajah sendu.


Naina mengalihkan pandangannya. Dia tahu maksud Rudi. Hatinya begitu keras. Pendiriannya tetap teguh untuk tidak akan pernah memaafkan lelaki itu.


"Dia sudah cukup tersiksa selama delapan tahun ini. Semua orang-orang terdekatnya meninggalkannya. Dan dia hidup seperti sebatang kara." timpal Rudi, berharap Naina terbuka hatinya.

__ADS_1


Naina menggeleng. Hatinya sudah sekeras batu. "Maaf Papa. Jika yang Papa mau aku kembali padanya, jujur saja, aku tidak bisa." Jawabnya tanpa perasaan sedikit pun.


TBC


__ADS_2