
Sebelumnya, Sesil tidak pernah menyangka akan dipertemukan kembali dengan Ayah dan Kakaknya dan tidak pernah berharap bertemu mereka lagi.
Namun hari itu, salah satu hari terburuk dalam hidupnya, dia bertemu dua laki-laki yang seharusnya menjadi penjaga dan pelindungnya.
Delapan tahun Sesil tidak pernah sekali pun bertemu dengan ayahnya Rudi, rupanya menimbulkan kerinduan yang amat sangat besar dalam lubuk hatinya.
Dalam empat tahun pertama, setelah dia mengecewakan Reygan, Sesil masih berhubungan dengan Rudi, meskipun hanya lewat panggilan telepon atau pesan. Seperti ancaman Kakaknya yang masih membencinya, Sesil tidak memberitahukan kondisinya saat itu. Hidup pontang-panting untuk mencukupi kebutuhannya.
Setiap Rudi menghubunginya dalam panggilan video, Sesil selalu menunjukkan wajahnya yang bahagia dan menyembunyikan bebannya dari laki-laki itu. Karena jika sampai Rudi tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja, otomatis Rudi pasti akan membantunya. Bagaimana pun dia adalah putrinya.
Dan jika sampai hal itu terjadi, dan Reygan, Kakak laki-lakinya yang masih menyimpan dendam padanya, tentu tidak akan tinggal diam. Sesil paling tahu bagaimana jika Reygan sudah diambang batas kesabarannya. Oleh karena itu, Sesil memilih menjalani hukumannya dalam diam.
Empat tahun tidak bertemu, tentu Sesil sangat merindukan ayahnya tersebut, begitu pun dengan Rudi.
Pernah sekali, Rudi membuat janji untuk mereka bertemu, namun Sesil selalu menolak. Dan seperti biasa menunjukkan sisi dirinya yang sombong pada ayahnya tersebut. Begitulah setiap kali Rudi mencoba menemuinya, Sesil selalu menghindar.
Dan dalam dua tahun terakhir, Sesil benar-benar menghilang tanpa jejak. Rudi tidak lagi bisa menghubunginya, begitu pun keluarga yang lain. Gadis itu menghilang entah kemana. Tidak ada yang tahu dimana, apa dan sedang apa gadis malang tersebut. Bahkan Rudi tidak bisa menemukannya.
Tetapi siapa yang tahu, rupanya gadis itu mengalami nasib yang sangat buruk. Diperkosa dan tidak mendapatkan pertanggungjawaban sama sekali.
Dan inilah gadis malang itu. Menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya. Mengurai rindu sekaligus melepaskan beban yang sangat teramat berat dipikulnya.
Kini mereka telah membawa wanita malang itu kembali ke rumah. Merawatnya dan membalutkan pakaian yang lebih pantas dari baju usang yang sangat tidak layak pakai.
Semua pandangan tertuju pada Sesil sore itu. Reygan, Naina dan kedua anaknya menatap penuh haru. Sesil terlihat sangat tidak terawat dan lesu. Sangat berbeda dari Sesil yang mereka kenal delapan tahun yang lalu.
Setelah cukup lama mengurai rindu, Sesil dengan pandangan ragu melihat satu per satu orang-orang itu.
Rudi masih setia mengusap air mata putrinya, dan menyelipkan rambut ikalnya yang berantakan.
Pertama kali, Sesil bertemu pandang dengan Reygan. Pria itu tersenyum lembut padanya. Setelah beberapa saat lalu, Reygan bersujud memohon maaf padanya. Pria itu menyesali semua yang telah dia lakukan dan karena terlalu kejam menghukum dirinya.
Entah mengapa, ada yang berbeda dari Sesil saat ini. Wanita itu dengan mudah memaafkan Reygan. Padahal jika mengingat sifatnya, tentu Sesil tidak akan semudah itu memaafkan Reygan. Dia mengalami penderitaan yang sangat buruk selama delapan tahun, bukankah mengherankan jika dia memaafkan begitu saja?
Reygan menjulurkan tangannya untuk mengusap wajah pucatnya, "Jangan sedih lagi, sekarang kamu punya kami. Papa, Kakak, Naina dan kedua keponakanmu." ucap Reygan lembut.
Mendengar nama Naina, Sesil segera beralih pada sosok wanita cantik yang duduk di sebelah Reygan. Naina.
Sesil cukup terkejut. Pasalnya dia tidak menyadari keberadaan Naina sejak dibawa ke rumah ini. Wajahnya penuh tanya. Bukankah wanita ini sudah pergi jauh dan menghilang dari kehidupan Reygan? Bagaimana dia bisa kembali?
Naina tersenyum hangat, membuat dia yang selalu mendapat cacian dalam beberapa tahun ini, turut dialiri kehangatan. Naina bagai memancarkan aura positif bagi dirinya.
__ADS_1
"Kak... Naina?" suaranya begitu serak memanggil wanita yang pernah dia sakiti delapan tahun yang lalu.
Bagaimana pun, Sesil tidak akan pernah melupakan Naina. Naina, dia pernah menghina dan memakinya. Dan bahkan membuatnya harus menghilang dari sisi kakaknya. Yang membuat Reygan kecewa dan membuangnya dari keluarga ini.
Menyesal? Tentu Sesil sangat menyesali semuanya. Dalam hidupnya, Sesil menganggap kesalahan terbesarnya adalah menghancurkan rumah tangga Kakaknya. Dan dia dihantui oleh perasaan bersalah itu selama bertahun-tahun.
Karena dia, dua insan yang dipersatukan oleh Tuhan, hancur berantakan. Karena kesombongannya dan keculasannya, dua orang yang saling mencintai harus terpisah.
Sesil tidak bisa menahan air matanya. Wanita itu bahkan bersujud tepat di kaki Naina. Dengan raungan penuh penyesalan.
"Maafkan aku... Aku sungguh menyesal...." raung wanita itu, membuat semua orang terkejut, begitu pun Naina.
"Sesil, apa yang kamu lakukan?"
Naina bertindak cepat, memegang bahu Sesil dan tidak membiarkannya dalam posisi itu. Meski kesulitan, Naina berhasil membuat Sesil duduk di sofa.
"Maafkan aku. Aku menyesal... Tolong ampuni aku." Sesil masih histeris, membuat Naina terenyuh. Naina segera memeluk tubuh kurus itu, dan menepuk punggungnya untuk memberikan ketenangan.
"Sst... sudah sudah. Kakak sudah memaafkan kamu." ucap Naina.
Sesil masih sulit ditenangkan, dan terus merapalkan penyesalannya. "Aku sudah membuat Kakak menderita. Dan.. dan Kakak juga..."
"Jangan mengingat semua itu lagi." sebuah tangan besar mengusap punggungnya. Reygan menatap adiknya lembut, "Semua sudah berlalu. Dan anggap saja semua yang terjadi sebagai pelajaran." ucap Reygan.
"Kakak..." kini Sesil menerjang ke pelukan Reygan.
"Maafkan Sesil. Sesil tidak akan melakukannya lagi. Sesil janji akan berubah. Dan menjadi adik yang baik untuk Kakak." cecar wanita itu.
"Cukup!" tiba-tiba saja suara nyaring terdengar memekakkan telinga mereka.
Yang ternyata berasal dari gadis kecil berkuncir dua yang tengah melipat kedua tangannya di dada. Mata gadis itu melirik tajam pada Sesil juga penuh keangkuhan.
"Kamu! Sebenarnya kamu ini siapa? Dari tadi tidak bosan apa minta maaf mulu?!" ucap Giselle dengan nada tidak suka.
"Giselle apa yang kamu katakan?" Steve langsung membekap mulut Giselle. Tapi Giselle dengan cepat menghindar.
"Dan lagi, kamu peluk-peluk Papa Giselle! Berani sekali kamu, memangnya kamu ini siapa?" sentak gadis tengil itu lagi membuat Sesil terperangah.
Sesil bungkam cukup lama. Perlahan-lahan melepas pelukannya dari Reygan, sambil memperhatikan gadis tersebut.
Wajah Giselle sangat familiar baginya. Warna bola mata mereka sama, juga belahan dagu yang khas yang sama sepertinya. Namun Sesil sama sekali tidak mampu mengenalinya.
__ADS_1
Anak remaja yang sedari tadi duduk diam memperhatikannya, tentu Sesil dapat mengenalinya. Itu adalah Steve. Keponakannya yang kini sudah bertambah besar dan semakin tampan. Namun, gadis kecil ini, dia sama sekali tidak pernah melihatnya.
"Giselle, jangan ngomong seperti itu sama Tante." Naina mengingatkan.
"Tante?" ulang Giselle. Gadis itu menatap penuh selidik pada Sesil.
Giselle cukup lama berpikir, namun otaknya yang kadang cerdas tidak sampai.
"Mama, tolong jelaskan, Giselle tidak mengerti." rengeknya frustasi membuat Naina terkekeh.
"Kemari."
Giselle mendekat dan duduk di pangkuan Naina, sehingga bisa melihat Sesil lebih dekat. Giselle masih melihat Sesil lekat.
"Sayang, kenalin, ini Tante Sesil. Adik kandung Papa." jelas Naina.
"Adik Papa? Papa yang mana?" jawab Giselle membuat semua orang jengah, apalagi Reygan.
"Papa Reygan sayang, memangnya Papa Giselle ada berapa?" jelas Naina.
Giselle mengangguk, dan berpikir sejenak.
"Berarti Tante ini, Mamanya dede bayi yang ada di kamar Giselle?" tanya Giselle.
Naina mengangguk, "Pintar. Jadi mulai sekarang harus sopan ya sama Tante?"
Dengan mudah gadis itu mengangguk, "Oke Ma." beralih pada Sesil, wajah sombong itu menghilang seketika.
"Hai Tante, namaku Giselle. Mulai sekarang aku adalah keponakan Tante." ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Sesil tersenyum, kini dia mengerti siapa Giselle ini. Ternyata keponakannya. Pantas saja Sesil seperti melihat dirinya sendiri, ternyata mereka masih sedarah.
Hati Sesil seketika berubah, sedikit demi sedikit kesedihannya terlupakan dengan semua perhatian ini. Sesil membalas tangan mungil itu, "Hai juga sayang. Senang bertemu denganmu." ucapnya.
"Berarti mulai sekarang Tante jadi temannya Giselle kan?" kata Giselle.
Sesil mengangguk, "Ok, mulai sekarang kita teman."
Giselle tersenyum lebar, lalu menjulurkan jari kelingkingnya, "Kita teman." yang juga dibalas oleh Sesil dengan kelingkingnya.
"Kita teman."
__ADS_1
TBC