My Bule Husband

My Bule Husband
Calon Suami


__ADS_3

Reygan menatap tajam laki-laki yang telah berjasa dalam hidupnya. Rudi, ayahnya sendiri. Ada amarah dalam tatapan itu, tapi Reygan sama sekali tidak bisa melampiaskannya.


"Kenapa melihat Papa seperti itu?" tanya Rudi yang merasa tidak berdosa, karena telah membiarkan putranya mencari Naina. Padahal Naina ada bersamanya.


Reygan berdecih. Sebenarnya dia sangat malas menemui Rudi. Tapi kebetulan saat mengantar Naina dan anak-anaknya ke toko istrinya, ternyata Rudi juga ada di sana.


Beberapa tahun tidak bertemu ayahnya, tentu Reygan tetap merindukannya. Dan di sinilah mereka berakhir, di meja pengunjung toko Naina. Sedangkan istri, Giselle dan Steve ada di ruangannya.


"Papa tega memisahkan aku dari istriku?!" kata pria itu dengan tajam.


Rudi mengedikkan bahunya, "Itu bukan kemauan Papa. Naina sendiri yang tidak membiarkan Papa untuk memberitahumu. Jadi jangan salahkan Papa."


Reygan menghela nafasnya. Bahkan ayah kandungnya sendiri tidak peduli dengan perasaannya. Sebenarnya siapa yang anak kandungnya?


"Sudahlah, jangan menyalahkan siapa-siapa lagi. Sudah jelas-jelas ini salahmu. Bukannya Papa udah peringatkan kamu dari dulu? Jangan sampai kamu menyakiti Naina. And see, dia meninggalkanmu. Papa bersyukur atas penderitaanmu." ucap Rudi tanpa berperasaan sedikit pun.


Saat itu dia lebih menyayangi Naina dari pada Reygan putranya sendiri.


Reygan hanya bisa menatap dengan nanar. Sebab apa yang dikatakan Reygan adalah sebuah kebenaran. Dia memang bersalah sejak dulu.


"Kakek..." suara nyaring menyela suasana tegang kedua pria beda generasi tersebut. Giselle berlari gencar karena dikejar oleh Steve.

__ADS_1


Giselle langsung melompat ke pangkuan Rudi, sementara Steve tertawa melihat adiknya ketakutan.


"Kakek, tolong aku. Kakak mau memasukkan ulat ke bajuku..." adu Giselle.


"Steve jangan mengganggu adikmu." Rudi mengingatkan.


Steve menyerah, "Tidak lagi dek. Kakak sudah buang ulatnya."


Steve masih tidak terlihat bersahabat dengan Reygan, memilih duduk di dekat Rudi.


"Sayang, dimana Mama?" tanya Reygan yang sudah kembali merindukan istrinya.


"Om ganteng?" ulang Reygan bingung. Reygan melihat Steve, berharap mendapatkan penjelasan. Namun Steve malah memalingkan wajahnya.


"Siapa om ganteng, Giselle sayang?" akhirnya Reygan bertanya pada Giselle.


"Om Ricard Papa. Kata Mama Om Ricard itu calon suami Mama." beber Giselle tanpa mengerti apa yang dia katakan.


"Apa?!" suara Reygan membesar. Wajahnya merah padam, sementara emosinya sudah di ubun-ubun. "Giselle sayang, kamu bercanda kan?"


"Lebih baik tanyakan istrimu sendiri!" Rudi mencela. "Giselle tidak tahu apa-apa."

__ADS_1


Reygan semakin kalang kabut.


"Dan jangan marah pada Naina jika itu memang benar. Delapan tahun kalian tidak bertemu. Tentu saja Naina sudah melabuhkan hatinya untuk pria lain. Jadi jangan terlalu percaya diri Naina masih mencintaimu. Dia berhak bahagia. Dari pada harus menunggu pria tidak berpendirian sepertimu!" tutur Rudi panjang lebar.


Sebelum Rudi melanjutkan ocehannya, Reygan sudah pergi meninggalkan mereka begitu saja.


Pintu tertutup dengan kencang, membuat Rudi melirik cucu perempuannya yang nakal dan cerdik.


"Tos..." Rudi dan Giselle bertos ria, karena telah berhasil membuat Reygan kalang kabut.


"Kerja bagus sayang." ucap Rudi.


Giselle tertawa riang sementara Steve hanya berwajah datar.


"Jangan terlalu keras pada Papamu Steve. Papamu sudah menyesali perbuatannya." nasihat Rudi karena masih melihat suasana dingin antara putra dan cucunya.


Steve menghela nafas, "Entahlah Kek. Steve juga tidak ingin seperti ini pada Papa. Tapi Steve takut kalau Papa mungkin saja akan menyakiti Mama lagi." ucap anak remaja itu.


Rudi menepuk pundak cucunya, "Kakek mengerti perasaanmu. Tapi percayalah, Papamu sudah berubah. Dan jika nanti dia masih tetap bodoh seperti dulu, Kakek sendiri yang akan menghabisinya." tutur Rudi berusaha meleburkan keraguan di hati Steve.


TBC

__ADS_1


__ADS_2