
Rasanya seperti mimpi ketika Naina melihat wajah itu. Delapan tahun tidak bertemu, bukan tidak mungkin Naina mengenali lelaki itu, meski sudah begitu banyak perubahan wajahnya.
Reygan masih tetap tampan di usianya yang ke empat puluh dua. Meski kerutan di wajahnya sudah tidak tersamarkan lagi.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dunianya terhenti dan hanya fokus pada lelaki tersebut.
Naina masih belum sadar, hingga sengaja menggigit bibirnya. Dia kesakitan, dan itu artinya ini bukanlah mimpi. Lelaki yang berdiri di hadapannya ini adalah Reygan.
Naina sebenarnya merindu. Tetapi ego yang kuat menguasai dirinya membuatnya menjadi sangat marah. Bisa-bisanya Reygan menampakkan wajahnya di depannya. Apakah pria itu tidak ingat permintaannya di masa lalu.
Berbeda dengan hati Naina yang memberontak, Reygan malah amat sangat bahagia. Akhirnya selama delapan tahun dia menemukan wanitanya.
Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Dunianya rasanya seperti diliputi cahaya kehidupan. Pria itu bagai menemukan oase di tengah gurun pasir. Dan Naina adalah oase tersebut.
"Sayang..." suaranya bergetar dipenuhi kerinduan.
Reygan mendekat, tetapi sebelum itu terjadi, Naina langsung mengambil jarak aman. Berdiri dengan cepat dan mendorong pria itu dengan kasar.
__ADS_1
Reygan tertegun sesaat. Tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini. Menandakan bahwa Naina masih menyimpan kebencian yang amat besar padanya.
"Naina..." lirihnya.
"Pergi!" suara Naina membesar, seiring dengan amarahnya yang berkobar.
Nafasnya terengah, menahan gejolak emosi yang membludak dalam hatinya. Naina tidak ingin berkata lebih dari itu. Karena dalam hatinya tengah berkecamuk dengan begitu hebat.
Kerinduan, benci dan amarah melebur menjadi satu, membuat tubuhnya tidak terkendali. Pandangannya menjadi gelap, serta tubuhnya yang akan goyah dan hampir tumbang.
Reygan cemas, menepuk pipi yang putih nan bersih itu dengan pelan. "Sayang, kamu kenapa?"
***
Reygan masih belum mengakhiri pandangannya sejak tiga puluh menit terakhir dari wajah cantik itu. Kerinduannya masih mendiami hatinya yang terdalam. Ada ribuan pertanyaan dalam hatinya pada wanita itu dan dia ingin mendapat jawaban itu sekarang juga.
Pria itu hanya bisa tersenyum melihat wanita yang masih tenang di bawah alam sadarnya. Menikmati betapa cantiknya wajah itu.
__ADS_1
Beberapa kali, Reygan mengambil kesempatan. Dengan nakal mencuri kecupan di setiap sudut wajah itu. Setidaknya itu bisa melegakan kerinduannya.
Saat mata itu mulai bergerak, jantungnya kembali berpacu. Berharap sikap Naina akan berubah padanya, tidak seperti tadi.
Namun sepertinya, Reygan harus menelan pil pahit. Begitu Naina benar-benar mendapatkan kesadarannya, wajah itu masih dipenuhi amarah dan kebencian. Membuat hati pria itu kembali menciut.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Reygan berusaha mengabaikan tatapan tajam itu. Tangannya hendak mengusap kepala Naina, tetapi Naina bergerak cepat dan langsung menghempas tangannya.
"Beraninya kamu menemuiku lagi!" suaranya sangat tajam penuh peringatan. Membuat Reygan lagi-lagi harus merasakan sakit hati. Naina menolaknya.
"Naina... maafkan aku." Reygan tidak tahu harus mengatakan apa selain meminta maaf.
Di masa lalu memang dia yang bersalah. Berkali-kali dia mengabaikan Naina hanya demi mantan istrinya yang memanfaatkan perasaannya. Tidak hanya itu, dia juga tidak mempercayai Naina. Harusnya dia tidak melakukan itu. Dan Reygan tidak menyangka, Naina benar-benar nekat meninggalkannya.
Naina mengalihkan pandangannya, enggan bersitatap dengan pria masa lalunya itu. Dalam hatinya sudah tertanam dalam, bahwa sampai kapan pun dia tidak akan memaafkan Reygan. Sampai kapan pun.
TBC
__ADS_1