
Beberapa saat kemudian, Giselle ketiduran karena kelelahan. Naina bernafas lega, tapi untuk sementara. Karena nanti, putrinya pasti masih mencari-cari sosok Reygan.
Baru saja Naina menghubungi Reygan, tapi nomor itu sudah tidak aktif lagi. Naina menghela nafas, memejamkan matanya sejenak. Dalam sepersekian detik, sepasang tangan menyentuh bahunya.
"Ma..." Steve memanggil.
"Steve..."
"Apa Mama masih membenci Papa?" pertanyaan itu muncul begitu saja sebelum Naina bicara.
Naina tercekat, maniknya membalas tatapan putra sambungnya yang amat dia sayangi seperti putra kandungnya sendiri. Manik keduanya berkaca-kaca, seolah memancarkan
isi hati melalui tatapan itu.
Naina bingung. Karena dia juga tidak tahu bagaimana perasaannya pada Reygan saat ini. Sejak laki-laki itu datang, entah kemana semua kebencian itu pergi. Yang ada hanya perasaan tak menentu dalam dirinya.
Dan sekarang, Naina tidak tahu mau menjawab pertanyaan putranya.
Steve mengambil tangan Naina dan menggenggamnya dengan lembut.
"Ma, tolong maafkan Papa." pinta anak muda itu. "Steve tahu apa yang Papa lakukan dulu salah, tapi itu semua juga sepenuhnya bukan salah Papa. Ini semua karena Steve Mama." tutur Steve.
Naina menggeleng, "Tidak sayang. Kamu tidak salah."
"Tidak Ma, Steve yang salah. Jika bukan karena keinginan Steve, Papa tidak mungkin bertemu dengan Mami Natasya. Semua pertemuan mereka karena keinginan Steve Ma, bukan keinginan Papa."
"Sst..." Naina menggeleng lagi, "Jangan berkata seperti itu. Saat itu kamu masih kecil, belum mengerti apa-apa. Wajar jika kamu ingin berkumpul dengan Papa dan Mami, sama seperti adikmu saat ini. Tapi dia tidak mengerti apa-apa." jelas Naina. Jemarinya mengusap wajah Steve, "Jangan menyalahkan dirimu lagi Nak. Semua ini sudah menjadi takdir."
__ADS_1
Steve diam, tapi dia tahu Naina masih saja menyembunyikan perasaannya.
"Ma..." panggilnya lagi.
"Ada apa sayang. Katakan."
Steve terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Steve, katakan saja. Jangan takut."
"Ma, sebenarnya Papa tidak pergi meninggalkan kita." ucap Steve pada akhirnya.
"Maksud kamu?"
"Selama beberapa malam ini, Steve lihat Papa di rumah."
"Steve nggak mimpi Ma. Steve serius. Papa selalu pulang tiap malam. Dan mendatangi kamar Steve, Giselle dan juga... kamar Mama." ucap anak muda itu.
Naina memicingkan matanya. Tidak percaya karena dia tidak pernah melihat kehadiran Reygan seperti yang Steve katakan.
"Ma, Steve nggak bohong. Kalau Mama nggak percaya, Mama bisa lihat rekaman CCTV di rumah." ucap Steve karena melihat Naina tidak mempercayainya.
Naina diam, mencoba mengingat sesuatu yang janggal beberapa hari ini. Naina merasakan kehadiran Reygan dalam beberapa hari ini, tapi dia tidak percaya bahwa pria itu benar-benar ada. Dan mengira bahwa itu hanya mimpinya.
***
"Anda masih belum kembali Pak?" Doni bertanya pada bosnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Reygan menegakkan kepalanya dari laptop yang ada di atas meja kerjanya. Seperti biasa pria itu terlihat gagah dengan setelan jasnya.
"Pekerjaanku masih banyak. Biarkan aku sendiri." ucap pria itu, lalu fokus ke layar laptopnya lagi.
Doni memegang tengkuknya, "Maksud saya pulang ke rumah istri dan anak-anak Anda Pak." kata Doni dan berhasil membuat Reygan berhenti dari kegiatannya.
Reygan melihatnya sejenak, lalu mengabaikannya lagi.
"Mungkin bulan depan." ucapnya asal.
"Anda tidak merindukan anak-anak dan Nyonya?" tanya Doni. Pasalnya dia paling tahu bagaimana kerinduan Reygan pada ketiga belahan jiwanya. Tapi reaksi Reygan kali ini sungguh di luar dugaannya.
Beberapa hari yang lalu perusahaan mengalami sedikit masalah. Membuat Reygan terpaksa harus pulang ke tanah air. Reygan dapat menyelesaikannya dengan cepat, hanya membutuhkan dua hari, perusahaan sudah kembali normal.
Setelah semua baik-baik saja, Reygan kembali lagi ke Jerman. Tapi Doni bingung, dalam waktu beberapa hari Reygan sudah kembali lagi ke Indonesia. Dan setiap Doni bertanya alasannya, Reygan justru mengalihkan pembicaraan.
Pertanyaan Doni yang terakhir masih belum terjawab. Reygan menghela nafasnya, melihat Doni dengan sengit.
"Tolong urus surat cerai untukku dan hubungi pengacaraku segera!" perintah pria itu.
Doni membelalakkan mata, mulutnya menganga dengan lebar, tidak percaya akan apa yang baru saja dia dengar.
"Surat cerai? Maksud Anda, Anda akan..."
"Ya, aku akan menceraikan Naina." potong Reygan dengan suara lantangnya.
TBC
__ADS_1