
Vote.....Vote....Vote...Vote.....
Like dulu sebelum baca.
Di dalam kamar yang tidak terlalu luas itu, Naina mengenakan sehelai handuk yang didapatnya dari kamar mandi pribadi suaminya. Gaunnya sudah kotor, sementara hanya handuk itu yang bisa menutupi tubuh polosnya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Naina dengan was-was mengeratkan tangannya pada ujung handuk. Siapa yang datang? Apakah suaminya? Tidak mungkin pikirnya. Karena Reygan akan kembali setelah satu jam. Dan ini masih beberapa menit.
Naina berbalik. Seketika melebarkan matanya melihat suami tampannya. Berdiri di sana dengan tatapan penuh damba.
"Hubby..." lirihnya.
Reygan perlahan mendekat. Tatapannya liar menyusuri tubuh Naina dari atas sampai ujung kakinya.
"Jangan mendekat. Aku... bajuku kotor tersiram kopi. Tolong...tolong minta Pak Ahmad mengantarkan bajuku." Naina berucap dengan frustasi. Dia bisa melihat tatapan pria itu. Dan dia sangat ketakutan.
Reygan seolah tuli. Dia tetap mendekat. Hingga akhirnya berhasil meraih wanita itu.
"Kamu ingin menggodaku? Kenapa harus sekarang Naina? Ini masih di kantor." bisik Reygan.
Naina menggeleng cepat. Mengelak. "Tidak Hubby. Aku tidak menggodamu. Cleaning servis itu tidak sengaja menumpahkan kopi di bajuku. Bajuku kotor, dan perutku perih." jelas Naina dengan cepat.
Mendengar kata perih, membuat Reygan sadar. Benar. Dia melihat bagaimana Naina kesakitan karena tersiram kopi panas. Dan pria itu juga melihat kesengajaan wanita pembersih itu menyiramkan pada istrinya.
Reygan geram. Tapi karena melihat tubuh polos istrinya, membuat kemarahan itu berganti menjadi ***** yang tak tertahankan.
Dengan cepat, Reygan membuka handuk yang melilit tubuh polos Naina. Tubuh itu terpampang nyata.
Naina memekik. Ingin marah.
Pandangan Reygan tertuju pada perut Naina yang kini menjadi merah. Tidak hanya itu, sekujur paha bagian dalamnya juga ikut merah. Itu pasti sakit.
Pria itu menghela nafasnya, gairahnya hilang, berganti dengan perasaan khawatir. Lalu mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
__ADS_1
Sementara Reygan bicara di telepon, Naina langsung menutup tubuhnya lagi dengan handuk. Dia sangat malu.
"Masih sakit?" sambil membawa Naina duduk di tepi ranjang.
Naina mengangguk, tapi mulutnya berkata tidak, membuat Reygan tersenyum.
"Jangan berbohong. Perutmu tersiram air panas. Mana mungkin tidak sakit. Tunggu sebentar lagi. Doni akan datang membawa salep." ucap pria itu.
Naina mengangguk, bercampur rasa malu berusaha menutupi dadanya yang terpampang.
"Tidak usah malu. Aku ini suamimu. Dan lagipula, aku sudah pernah melihat semuanya. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi." ucap Reygan sambil tersenyum geli.
Tapi tetap saja Naina tidak nyaman. Ini adalah pengalaman pertamanya, berada satu ruangan dengan seorang laki-laki.
"Tunggu di sini. Aku akan keluar mengambil obat dari Doni."
Pria itu keluar dari kamar, membuat Naina bernafas lega.
"Mirna." suaranya begitu dingin menusuk telinga wanita itu.
"Iya Pak. Ada yang perlu saya bantu Pak?" nampaknya wanita itu belum menyadari kesalahannya.
Tanpa basa-basi, Reygan menunjukkan rekaman CCTV melalui laptopnya. Wanita yang kerap dipanggil Mirna itu melebarkan matanya. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya.
Begitu tahu kesalahannya, Mirna langsung bersimpuh di lantai. Menundukkan kepalanya penuh permohonan.
"Maafkan saya Pak. Saya benar-benar tidak sengaja Pak. Saya tidak bermaksud mencelakai Bu Naina." wanita itu memohon pengampunan bosnya yang kejam.
Tapi itu sia-sia. Sekali kejam, tetaplah kejam.
"Aku mempercayaimu selama ini sebagai pelayan khusus. Tapi kamu telah merusak kepercayaan itu." suaranya lembut, tapi terdengar menyeramkan bagi Mirna.
"Aku tahu kamu sangat menghormati Alena. Tapi harusnya kamu tahu siapa yang telah kamu celakai. Wanita itu adalah istriku!" tegas Reygan dan semakin membuat wajah Mirna panik.
__ADS_1
Istri? Dia tidak tahu hal itu. Andai dia tahu, tak mungkin dia berani melakukan hal bodoh tersebut, meski dirinya masih sangat memuja Alena sebagai majikannya.
"Mulai sekarang, kamu tidak usah bekerja di sini lagi."
Mirna langsung meraung. Memohon pengampunan.
"Pak. Tolong jangan pecat saya. Suami saya masih pengangguran Pak. Kalau saya dipecat, kami mau makan apa?"
"Harusnya kamu ingat kesedihanmu itu sebelum mencelakai istriku!" sarkasnya dan membuat Mirna diam.
Benar. Dia sangat menyesal.
"Don." Doni yang baru saja datang membawa obat untuk istri bosnya.
"Bawa dia keluar." perintahnya sambil menerima bungkusan dari apotik tersebut.
Mirna terduduk lemah di lantai. Hatinya yang kotor telah membawanya menuju kesengsaraan. Andai dia tidak melakukan itu pasti tidak akan seperti ini.
Padahal Mirna diperlakukan secara khusus di perusahaan ini. Meski dia hanya cleaning servis, tapi gajinya setara dengan karyawan tetap lainnya.
Nasi sudah menjadi bubur.
Sementara di kamar, Reygan melihat Naina sudah tertidur di tempat tidur. Mungkin wanita itu mengantuk karena dinginnya AC ruangan.
Reygan mendekati istrinya. Membuka pelan selimut dan handuk yang menutupi tubuh mungil itu, agar Naina tidak terbangun.
Pria itu mulai mengoles salep untuk luka bakar di perut dan paha Naina.
Bohong jika Reygan tidak tersulut ***** birahi. Tubuh Naina masih sangat segar. Kulitnya kencang, putih dan terawat. Dan Naina juga memiliki proporsi tubuh yang sempurna, meski tubuhnya mungil.
Tentu dengan pemandangan ini, laki-laki mana pun akan tergoda. Termasuk Reygan, yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini. Dia ingin merasakan lagi, nikmatnya terbang menuju nirwana.
TBC
__ADS_1