
Meski Naina tidak pernah lagi menampakkan kesedihannya di depan keluarga, terutama di depan kedua anak-anaknya, bukan tidak mungkin hati wanita itu sembuh sepenuhnya dalam waktu secepat ini.
Reygan, sebagai seorang suami, tentunya tahu betul seperti apa perasaan istrinya saat ini. Mungkin Naina pandai menyembunyikan perasaannya, tapi itu tidak berlaku bagi Reygan. Wanita itu selalu tertangkap basah oleh Reygan yang tengah menangis diam-diam.
Oleh karena itu, tidak ingin melihat istrinya terus berlarut-larut dengan kesedihannya, Reygan akhirnya merencanakan sebuah liburan keluarga.
Tentu rencana itu disambut dengan baik oleh kedua anaknya, apalagi Rudi yang nampaknya terlihat lebih bersemangat dari yang lain.
"Hubby, kenapa nggak bilang-bilang kalau kita mau liburan?" tanya Naina setelah mereka dalam perjalanan menuju sebuah kota wisata yang berseberangan dengan kota Jakarta. Tujuan mereka kali ini adalah mengunjungi kota yang memiliki keindahan pantai.
Untuk saat ini, Reygan memilih tempat yang cukup dekat, karena liburan ini juga terburu-buru. Mungkin dalam waktu dekat, dia akan menyiapkan liburan terbaik untuk dirinya sendiri dan sang istri.
"Maaf sayang. Semalam kamu udah tidur duluan, aku nggak mau ganggu tidur kamu." kata Reygan.
Hanya Reygan dan Naina di dalam mobil ini, sedangkan Rudi dan kedua anaknya ada di mobil satu lagi yang dikendarai oleh supir keluarga.
Sesekali Reygan melihat wajah istrinya yang masih terlihat lesu meski wanita itu tersenyum. "Kamu nangis lagi ya semalaman?" kata pria itu.
Naina tersenyum kecut, mengakui tebakan pria itu. Bagaimana pun dia menutupi perasaannya, Reygan pasti bisa mengetahui isi hatinya. Sejak hari dimana dia mengalami keguguran, Reygan berubah menjadi sosok suami yang lebih peka. Pria yang sejak dulu perhatian, kini semakin bertambah kali lipat perhatiannya. Pria itu selalu siap sedia untuknya.
Reygan mencubit ujung hidung Naina gemas, "Kamu ini, awas aja kalau sampai aku melihatmu menangis." ancamnya.
Naina hanya terkekeh, kemudian menyadarkan kepalanya di bahu Reygan.
"Nanti kalau sampai di hotel, kita buat dede bayi lagi ya." ucap Reygan tiba-tiba membuat Naina menegakkan tubuhnya di bangkunya.
"Hem?" gumamnya.
"Dokter sudah mengizinkan kita kan sayang?" tanya pria itu.
Naina hanya diam, terpaku akan ucapan suaminya yang frontal.
"Kamu ngomong apa sih?"
"Kita buat dede bayi yang baru lagi sayang. Biar kamu nggak nangis-nangis lagi." kata Reygan dengan senyum jahilnya.
"Iih Hubby."
"Kenapa sayang, kamu nggak mau punya anak lagi?" tanya Reygan.
Naina mengangguk samar, bercampur malu, "Mau." cicitnya.
"Ya udah kalau gitu, nanti malam kita buat yah?" ucap Reygan semakin menjadi-jadi.
"Kamu nggak tahu malu banget sih Hubby? Mesti banget ngomongin kayak gitu sekarang?" protes Naina dengan wajah merah tomatnya.
__ADS_1
"Kamu kan istriku, ya nggak papa dong sayang." Reygan tak mau kalah. Justru semakin senang melihat senyum Naina lagi.
"Terserah." Naina kesal, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
***
Begitu mereka sampai di resort yang telah Reygan siapkan sebelumnya, Giselle dan Rudi dengan antusias berhambur ke pantai. Keduanya terlihat begitu senang, karena ini adalah liburan keluarga mereka untuk yang pertama kali.
Hari menjelang sore, dan matahari juga terik, membuat mereka begitu bersemangat berlarian di pantai tanpa ingin mampir di resort terlebih dulu.
Sedangkan Steve menggelengkan kepalanya melihat Rudi yang masih aktif menemani Giselle bermain di sana. Sudah tua, tapi Rudi masih terlihat sehat di sana.
"Nggak kebayang kan kalau nanti Kakek udah nggak ada?" tiba-tiba Reygan menepuk bahunya dari belakang.
"Makanya jangan nakal-nakal sama Kakek, turutin selagi Kakek masih ada." kata Reygan sok menasehati.
Steve mengangkat alisnya, "Apa nggak kebalik nih Pa? Steve mah baik-baik saja sama Kakek. Papa tuh yang harusnya baik-baikin Kakek, bukan Steve." timpal Steve membuat Reygan membelalak.
Terdengar tawa kecil dari Naina, membuat wajah Reygan memerah.
"Kamu!" geramnya.
Steve tidak peduli, lalu menyusul Giselle dan Rudi.
"Denger tuh Papa sayang, jangan nakal-nakal sama Papa Rudi." ucap Naina dengan nada mengejek.
"Enggak tuh. Kan aku cuma membetulkan ucapan putra kita." kata Naina jenaka.
"Sama aja."
"Udah ih, jangan cemberut." Naina menekan punggungnya agar Reygan menunduk, kemudian wanita itu naik ke punggung suaminya. "Ayo, gendong aku keliling pantai." perintahnya sambil menyandarkan dagunya di kepala Reygan.
Melihat keceriaan istrinya saat ini, kekesalan Reygan lenyap begitu saja. "Siap Nyonya Ratu. Biarkan raja membawamu mengarungi pantai yang indah ini." balasnya jenaka.
***
Sepanjang sore keluarga kecil itu menghabiskan waktu di pantai yang indah itu, setelah akhirnya memutuskan kembali ke resor. Reygan menyewa satu resor ini khusus untuk keluarganya, sehingga mereka bisa bebas dan nyaman selama liburan di sana.
"Mama, Giselle mau itu." kata Giselle sambil menunjukkan potongan daging sapi yang dipanggang dengan kematangan sempurna.
"Silahkan sayang." kata Naina sambil mengambilkan makanan kesukaan putrinya tersebut.
Saat ini, mereka sekeluarga berada dalam satu meja yang dipenuhi makan malam yang menggugah selera. Suasana cukup bising, pasalnya ada banyak pengunjung yang tengah menikmati makan malam mereka di meja lainnya.
"Kamu juga makan sayang." tak lupa Reygan menyuapi Naina sesekali.
__ADS_1
"Papa, aaa..." Giselle melebarkan mulutnya, yang langsung disuapi oleh Reygan. Keduanya bergantian mendapat suapan dari pria itu.
"Dasar manja." cibir Steve yang melihat tingkah mereka sedari tadi.
"Oh iya, Steve belum Papa suapi. Sini Nak," Reygan hendak menyuapi Steve yang langsung ditolak Steve mentah-mentah.
"Tidak. Terima kasih." anak muda itu menjauhkan wajahnya.
Keempat orang itu terkekeh, tak lupa Giselle selalu menjulurkan lidahnya berniat mengejek sang Kakak.
"Giselle jangan begitu sayang. Nggak sopan." nasihat Naina.
"Iya Mama, maaf."
"Mama, Giselle punya cerita." ucap anak itu tiba-tiba.
"Apa itu?"
Anak kecil itu melirik Steve, sambil mendekatkan tubuhnya pada Naina, "Mama tahu nggak, kalau Kakak udah punya pacar?" gadis kecil itu memang seperti berbisik, tapi suaranya menggelegar keras di meja makan itu, membuat Rudi, Reygan, apalagi Steve kompak menoleh.
Giselle terkikik geli melihat kekompakan mereka, apalagi saat melihat raut muka Kakaknya. Sangat menyenangkan membuat saudaranya itu kesal, apalagi malu.
"Kamu bilang apa sayang?" Reygan.
"Giselle!" suara nada ancaman Steve.
Tapi Giselle tidak peduli, "Iya Pa, Ma, Kek. Kemarin Giselle denger Kakak telfonan sama cewek. Kak Steve lembut banget, panggil sayang lagi." beber gadis kecil itu.
Yang mana membuat Steve kalang kabut bukan main.
"Giselle!" wajah anak muda itu bagaikan kepiting rebus. Apalagi saat melihat kedua orang tuanya dan juga Rudi yang menatapnya penuh arti, Steve malu bukan kepalang. Rasanya dia ingin menghilang saja dari sini.
"Ternyata putra kita sudah besar." bisik Naina pada sang suami.
Steve tidak tahan lagi, anak muda itu berdiri dari duduknya. "Steve mau ke toilet." pamitnya. Tapi sebelumnya melayangkan tatapan tajam pada Giselle yang tidak merasa berdosa sama sekali.
Steve berjalan sambil mendengus. Dia begitu malu, bisa-bisanya Giselle mengatakan hal itu pada orangtuanya. Steve merutuk, berjanji akan membalas Giselle nanti.
Steve akan sampai di toilet pria, saat seseorang tiba-tiba saja menabraknya. Beruntung Steve bisa menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.
"Maaf, aku tidak sengaja." kata orang itu.
Steve seketika mematung saat mendengar suara yang terasa familiar di telinganya. Steve mengangkat pandangannya, melihat sosok wanita yang sibuk memperbaiki penampilannya.
"Mami?" lirih Steve. Anak muda itu mematung, terpaku hanya pada sosok yang pernah menelantarkannya.
__ADS_1
TBC