
Naina pikir dia tengah bermimpi akan semua yang telah terjadi antara dirinya dengan Reygan. Tapi merasakan tubuhnya yang basah oleh keringat, serta tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang, membuatnya sadar bahwa ini adalah kenyataan.
Dia benar-benar telah menyerahkan tubuhnya pada suaminya. Dan itu terjadi di kantor milik suaminya.
Naina menggeliatkan tubuhnya, di dalam selimut yang mendapat sinar matahari sore melalui sebuah jendela kaca ruangan tersebut. Sisi kiri ranjang sudah kosong, tidak ada lagi Reygan di sana.
Pintu ruangan terbuka. Reygan, sudah rapi dengan pakaian kerja yang entah dari mana didapatnya. Masuk ke kamar sambil membawa sebuah paper bag di tangannya.
Pria itu tersenyum melihat Naina. Dia mendekat, dan duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah bangun?" ucap pria itu.
Melihat Reygan, membuat Naina teringat kegiatan panas mereka dua jam yang lalu. Naina sangat malu. Tidak percaya, dirinya yang polos bisa mengeluarkan suara-suara aneh akibat kenikmatan yang Reygan suguhkan.
Naina mengangguk samar disertai wajahnya yang merah padam. Naina ingat, Reygan memperlakukannya dengan sangat lembut saat mereka tengah bercinta. Pria itu seolah mengerti bagaimana memperlakukan gadis tak berpengalaman seperti dirinya.
"Ayo, cepat mandi. Kita akan pulang." ucap pria itu lembut.
Naina duduk, tapi tangannya memegang erat selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Meski sudah melakukan hubungan yang lebih intim, tetap saja dia malu dengan penampilan seperti ini di depan Reygan.
Reygan sepertinya tidak peka dengan gadis yang baru saja dia ambil kesuciannya. Dia keheranan melihat Naina kesulitan untuk berdiri.
"Ada apa?" tanya pria itu.
Wajah Naina mengerut. Tentu dia kesakitan setelah melepas mahkotanya yang berharga. Area pangkal pahanya terasa sakit dan perih. Juga terasa lengket di sana, dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Naina?" panggil Reygan.
"Sakit." lirihnya.
Reygan akhirnya membantu Naina berdiri. Dan pandangannya tertuju pada ranjang putih itu. Ada noda darah yang sudah mengering di sana.
__ADS_1
Dan akhirnya, Reygan ingat bahwa wanita di depannya adalah gadis perawan sebelum dia menidurinya.
Reygan terperangah. Dalam hidupnya ini, ternyata dia bisa mendapatkan gadis suci. Naina adalah gadis perawan pertamanya.
Reygan tidak mengira, masih ada gadis yang menjaga kesuciannya di jaman sekarang ini.
Memang aneh, padahal pria itu sebelumnya sudah menikah. Tapi sangat disayangkan, mantan istrinya dulu ternyata bukan wanita suci lagi. Dan Reygan bukanlah lelaki pertamanya.
Naina mengikuti pandangan Reygan. Semburat wajah malu muncul, dan akhirnya menundukkan kepalanya.
"Kenapa malu?" Reygan langsung menangkup wajahnya dan mendongakkan agar melihat wajahnya.
Naina menggigit bibirnya. Memaksakan senyumnya.
Naina terlihat sangat menggemaskan, membuat Reygan ingin mengulangi kegiatan panas mereka lagi.
Tapi Reygan tidak ingin melakukannya di sini. Sampai di rumah nanti, dia akan melakukannya sepuasnya di kamar pribadinya.
Naina berteriak kesakitan, pasalnya Reygan mengangkatnya dengan kaki Naina mengapit tubuhnya. Sensasi perih di area pangkal pahanya terasa kembali.
"Sakit." desisnya.
"Oups Maafkan aku." pria itu terkekeh.
****
Satu jam kemudian, pasangan suami istri itu sudah sampai di rumah. Tepatnya pukul enam sore. Dan Steve, putra mereka berhambur memeluk Naina.
"Mama..." Steve dengan manja langsung menempel pada Mama sambungnya.
Reygan berdecih melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Gimana belajarnya tadi?" tanya Naina.
"Lancar dong. Steve kan pintar." Steve berlagak sombong.
"Mah, ini apa?" rupanya mata Steve sangat jeli. Hingga mampu melihat bekas merah yang ada di sekujur leher Naina.
"Hem. Apa?" Naina bingung.
"Ini Ma. Leher Mama merah-merah." Steve menunjuk bekas itu.
Rupanya ada banyak tanda cinta yang dibuat oleh Reygan saat percintaan mereka. Dan Naina tidak sadar, karena sebelum pulang, dia belum berkaca.
Steve langsung melirik Reygan dengan tajam. Steve ingat, bekas seperti ini disebabkan oleh ayahnya sendiri.
"Papa jahatin Mama lagi?!" sentak bocah itu.
Reygan juga kebingungan, setelah sebelumnya merasa malu karena Steve telah melihat mahakaryanya.
"Steve, kamu ngomong apa sih sayang? Papa nggak jahatin Mama kok?" sanggah Naina.
"Kalau bukan Papa, siapa lagi Ma? Bekas yang kemarin di leher Mama, Papa juga yang bikin kan? Papa jahatin Mama lagi kan Pa?" cecar Steve.
Naina diam, dia mulai menyadari maksud Steve. Kemudian melihat suaminya yang tersenyum tanpa dosa.
"Steve?" Rudi entah sejak kapan di sana, memanggil. "Kemari. Mama Naina kecapekan, jangan tanya-tanya Mama dulu ya." ucap Rudi.
"Ehm.. iya Steve. Biarin Mama ke kamar dulu. Nanti Steve bisa tanya sepuasnya, kalau Mama udah nggak capek lagi." timpal Reygan.
"Ayo Ma, kamu harus istirahat." ucap Reygan sambil memegang tangan Naina, lalu menariknya dari sana.
Sebelumnya, Reygan melirik Rudi, yang menggelengkan kepalanya dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
TBC