
Vote...Vote...vote...
Naina terpaksa membuka matanya, karena merasakan sensasi geli yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Terutama bagian dadanya. Aset berharganya itu terasa nyeri oleh tekanan yang entah dari mana.
Matanya benar-benar terbuka. Maniknya melebar begitu melihat wajah Reygan begitu dekat di depannya. Dia ingin berteriak, tetapi suaranya tenggelam dalam hati, sebab bibirnya terkunci dengan rapat oleh ciuman ganas suaminya.
Naina memberontak, tapi tenaganya tidak seberapa dengan kekuatan pria yang tengah melingkupi tubuhnya.
Pria itu menangkap kedua tangannya, lalu menguncinya di atas kepalanya.
Reygan semakin gencar menjalankan aksinya. Menjamah setiap jengkal tubuh ramping yang sudah benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Bibirnya juga tidak tinggal diam, memberikan rangsangan yang berhasil membuat Naina mendesah tanpa sadar.
Naina terkejut, ketika tangan Reygan pahanya. Membelainya dengan lembut, yang merambat dan bertengger di bagian titik sensitifnya.
Naina menggeleng, berharap Reygan mengerti. Dan menghentikan semua ini sebelum semuanya terlambat.
Namun sepertinya, Reygan tidak mengerti. Pria itu tetap melanjutkan aksinya. Tetap menjamah tubuh itu dengan lancang.
Naina ingin menangis, tetapi rasa nikmat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya mengalihkannya. Dia menggigit bibirnya, agar mulutnya tidak meloloskan suara-suara aneh.
Entah sejak kapan, Reygan sudah polos tanpa sehelai pakaian. Hanya boxer hitam, yang tadi pagi dia lihat menutupi asetnya. Naina tidak tahu kapan pria itu melepasnya.
Sampai dimana, Reygan memastikan Naina siap. Pria itu menghentikan kegiatannya. Menatap Naina dengan dalam, penuh kasih sayang.
__ADS_1
Berulangkali mengecup kening Naina hingga sekujur wajahnya. "Percayalah. Aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu." bisiknya lembut, meyakinkan Naina dengan pandangannya yang lembut.
Jelas saja, Naina terenyuh. Dia tidak melihat kebohongan di mata hijau itu. Tapi masih ada yang mengganjal hatinya.
"Alena." ucapnya pelan. Membuat Reygan menggeleng.
"Aku dan Alena tidak memiliki hubungan lagi. Aku sadar, kalau kamu lebih tulus darinya." ucap pria itu.
Entah mengapa, Naina bisa percaya begitu saja.
Reygan mengecup keningnya cukup lama, lalu menatapnya kembali.
"Bolehkah?" pria itu meminta izin.
Dengan senyum malu-malu, Naina mengangguk samar, tetapi sanggup membuat wajah Reygan menjadi cerah.
Jika sebelumnya Naina tidak membalas, kali ini wanita tidak berpengalaman itu, mulai menggerakkan lidahnya.
Reygan tersenyum disela ciumannya. Gerakan Naina masih sangat kaku. Sangat berbeda dengan dirinya yang sudah berpengalaman ini.
Meski begitu, Reygan tetap menikmatinya. Ada perasaan berbeda ketika dirinya bermain dengan wanita polos ini.
Keduanya melepas pertautan bibir mereka. Naina terengah sedangkan Reygan tersenyum puas. Dia membelai rambut Naina dengan lembut.
"Katakan jika itu menyakitimu." bisik pria itu.
__ADS_1
Naina mengangguk.
Dia tidak tahu bagaimana rasa sakit yang Reygan maksud. Tetapi ketika sesuatu yang keras dan tumpul, menekan titik sensitifnya di bawah sana, wajahnya berubah suram.
Sangat sakit. Perih tapi nikmat. (Katanya)
Reygan melihat ekspresi wajah itu. Dia kasihan, tapi juga tidak ingin berhenti begitu saja. Pria itu langsung mencium bibir wanita itu untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Sampai akhirnya, senjata miliknya benar-benar masuk, merobek selaput dara wanita itu.
Naina meloloskan air matanya, yang langsung diseka oleh Reygan.
"Tidak apa. Setelah ini tidak akan sakit lagi." bisiknya sambil mencium kedua matanya.
Naina memeluk leher Reygan, mengangguk dalam pelukan itu.
Dan benar saja, ketika Reygan bergerak, hanya kenikmatan yang tersisa. Meski rasa perih itu masih ada, tapi tetap saja sensasi nikmat lebih mendominasi.
Wanita itu pada akhirnya memasrahkan tubuhnya pada kuasa sang suami. Membiarkan Reygan menjamahnya dengan sesuka hati.
TBC
__ADS_1
MAAF KALO NGGAK ADA FEELNYA. SOALNYA OTHOR MASIH SUCI TAK TERNODA. BERSIH SEPUTIH KAPAS. DAN TIDAK BERPENGALAMAN😒