
Tidak ingin membuat mommy Anna dan Daddy Alam cemas, tengah malam ini Rayden dan Aresha keluar dari rumah dengan mengendap-endap. Mereka tidak lewat pintu depan, melainlan lewat pintu belakang. Di ujung sana Sam sudah menunggu dengan setia.
Beberapa saat setelah memutuskan untuk pergi ke kantor polisi Rayden segera menghubungi sang asisten. Dia merasa lebih nyaman jika Sam yang menemani, dibandingkan dengan Kris.
"Ayo," ajak Rayden saat dia dan sang istri sudah duduk sempurna di dalam mobil.
"Kris menunggu kita tak jauh dari kantor polisi, dia membawa seragam dan identitas yang bisa kita gunakan," terang Aresha, tadi saat Rayden menghubungi Sam, Aresha juga menghubungi Kris.
Dalam misi seperti ini, Kris jauh lebih unggul dibandingkan Sam. Tapi Rayden tak mau mengerti itu, dia sudah kepalang tak suka pada asisten pribadi sang istri.
"Kamu menghubungi Kris?"
"Iya Kak."
"Kenapa tidak bilang padaku?"
Aresha tak bisa menjawab, hanya menelan ludah. Sementara Sam yang sedang menyetir hanya membuang nafasnya pelan.
Sifat posesif sang Tuan mulai kambuh. Bahkan mungkin jika ada semut jantan yang menempel di tubuh sang Nyonya, Tuannya itu akan marah.
"Untuk apa menghubungi Kris? kamu mau menemui Maura bersama dia."
"Ti-tidak Kak, Kris hanya membawa seragam dan identitas yang bisa kita berdua gunakan. Jadi bisa masuk kesana tanpa bersembunyi-sembunyi, sama seperti saat aku dan Kris masuk ke rumah sakit jiwa Golden Dominic." Terang Aresha apa adanya, bicara dengan suaranya yang lirih tak ingin sang suami marah.
Rayden coba mengerti, tapi dia menatap sang istri dengan tatapan intens, seolah mengintimidasi.
Sampai akhirnya Aresha berinisiatif untuk membelai lembut dada suami, coba meredam amarah suaminya itu menggunakan sentuhan.
dan benar saja, usaha Aresha berhasil. Rayden kemudian menggenggam tangannya erat, lalu memeluk Aresha penuh cinta.
Hampir jam 1 dini hari, Rayden dan Aresha tiba di tempat tujuan. Mereka berdua pindah masuk ke dalam mobil Kris.
"Bicara tanpa melihat ke arah istriku," titah Rayden, belum apa-apa dia sudah menurunkan titah pada asisten istrinya itu.
Tapi Kris tak mau dengar, malah bingung saat mendengar ucapan suami sang Nona. Dia malah menatap Aresha penuh tanda tanya. Dari tatapannya itu banyak sekali pertanyaan.
Ada apa?
__ADS_1
Kenapa suami mu aneh sekali?
Memangnya aku membuat kesalahan apa?
Tapi belum sempat Kris menanyakan 1 pun pertanyaan, Aresha sudah lebih dulu memberi isyarat untuk diam, untuk mengikuti saja apapun keinginan sang suami.
Lama bekerja sama membuat Kris langsung memahami isyarat itu. Tanpa banyak kata dia langsung menatap ke arah depan.
"Di tas ini ada seragam yang bisa kalian gunakan, ada juga topeng elastis yang sudah ku buat. Mungkin akan sedikit lengket saat kalian gunakan. Salah siapa minta mendadak," lapor Kris. Berbeda dengan Sam yang sangat Formal, Kris lebih berani. Dia hanya takut pada Darco.
Dengan wajah tak suka, Rayden mengambil tas itu dan segera memakai semuanya. Aresha Menggunakan baju doble jadi Kris tak perlu keluar dari dalam mobil itu.
Setelah semuanya siap, Rayden dan Aresha pun beraksi. Berjalan masuk ke dalam kantor polisi sesuai dengan petunjuk Kris mengunakan earphone yang terhubung diantara mereka. Kris sudah mengintai tiap sudut ruangan di dalam kantor polisi itu, denahnya bisa dia lihat dengan jelas di layar laptop di hadapannya.
Saat Rayden dan Aresha beraksi, Sam pindah ke mobil milik Kris.
Belok Kanan.
Lurus.
Sampai di persimpangan ambil jalan kiri.
Mentok ujung, itu ruangan Maura.
Sampai disana, Kris tak lagi memberikan petunjuk. Sementara Aresha tergugu di tempatnya berdiri.
Maura sudah dipindahkan dalam sel khusus, disana hanya ada dia sendiri.
Dini hari saat itu, Maura belum juga terlelap. Dia melihat saat 2 penjaga sel tahanan datang.
Sentuhan tangan Rayden menyadarkan Aresha dari kegamangannya.
Melihat keadaan Maura saat ini, Aresha benar-benar merasa iba, tubuhnya kurus, sangat kurus, seperti hanya tinggal tulang dan kulit. Tubuhnya penuh luka, tak ada gairah kehidupan dari sorot mata wanita itu.
Tanpa disadari Aresha menjatuhkan air matanya sendiri. Air mata itu merusak topeng yang dia pakai. Membuat Aresha terpaksa melepasnya.
"Anna," panggil Maura lirih. Saat Aresha melepas topeng itu Maura melihatnya sebagai Anna.
__ADS_1
Anna lah yang saat ini datang menemui dia.
Dan dipanggil dengan nama itu sontak membuat Aresha tersentak, dia membeku.
"Anna," panggil Maura sekali lagi, sekuat tenaga dia merangkak mendekati sel, ingin menjangkau tubuh wanita itu. Seorang wanita yang ingin dia mintai kata maaf.
"An, maafkan aku Anna, maafkan aku," ucap Maura dengan air mata yang mengalir deras. Tenggorokannya tercekat menahan sesak di dada. Dada yang sudah penuh dengan rasa bersalah. Dia sudah berada di titik paling hancur di dalam hidupnya, ingin mati dengan tenang bersama maaf dari Anna.
Dan Aresha yang melihat permohonan itu pun bersimpuh, dengan cepat Maura mengeluarkan tangan kurusnya dan memeluk Anna erat dari sela-sela Sel yang menghalangi mereka.
"Maafkan aku An, maafkan aku, aku mohon," pinta Maura.
Aresha tak mampu menjawab apa-apa, dia hanya mampu mengangguk dan membalas pelukan itu. Mengelus punggung Maura dengan lembut.
"Aku mohon An, maafkan aku, aku mohon."
"Aku sudah memaafkan mu," balas Aresha lirih.
Tangis Maura begitu pilu, sampai lambat laun Aresha tidak mendengar lagi tangisan itu.
Dipelukannya Maura meninggal.
Aresha menangis. Ternyata hatinya pun begitu sakit. Seketika dia melupakan semua penderitaan hidupnya selama ini.
Lagi-lagi sentuhan tangan Rayden menyadarkan Aresha.
"Ayo pergi," ucap Rayden.
Mereka berdua pergi dari sana dan Kris membersihkan semua bukti yang tertinggal dari pertemuan itu.
Pagi hari buta, Aresha mengajak kedua orang tuanya untuk mendatangi kantor polisi.
Mereka menjemput jenazah Maura untuk dimakamkan dengan layak.
Anna mengelus pusara itu, melepas semua dendam yang ada.
Selamat jalan Maura, beristirahatlah dalam damai. Batin Anna.
__ADS_1