
Lamunan Disha buyar ketika dia melihat pintu ruangan ini terbuka. Sontak saja Disha menoleh dan melihat Sam yang masuk.
Sesaat mereka saling tatap seolah canggung dengan keadaan ini. Disha yang duduk di dekat ranjang dan satu tangannya di dekap erat oleh Rayden.
Sam berkedip-kedip, merasa telah masuk di waktu yang salah. namun dia tidak bisa mundur, akhrinya tetap maju dan menghampiri ranjang pula.
"Maaf Tuan Sam_"
"Sst!" Sam memberi isyarat Disha agar tetap diam, tidak perlu menjelaskan apapun. Tetap saja berada di posisi seperti itu dan membuat sang Tuan nyaman.
Tapi sebenarnya Disha bukan mau menjelaskan itu, sebenarnya dia ingin berganti posisi. Gantian Sam yang memegang tangan Rayden. Pasalnya, pasien Disha bukan hanya Rayden seorang, dia masih memiliki banyak pasien di rumah sakit ini.
"Tuan, saya mohon dengarkan saya dulu," ucap Disha dengan berbisik.
Dan Sam tidak menjawab, hanya menatap Disha semakin lekat.
"Saya masih punya pekerjaan yang lain, saya harus segera pergi, jadi saya mohon gantikan posisi saya di sini." pinta Disha, bicara pelan dengan raut penuh permohonan. Waktunya hanya akan terbuang sia-sia jika terus duduk seperti ini, sementara banyak hal yang bisa dia lakukan.
Namun mendengar itu Sam tidak langsung menjawab, dia malah berpikir keras bagaimana caranya agar gadis berkacamata ini tetap disini.
Sampai akhirnya Sam menemukan sebuah IDE. Dia akan buat Disha menjadi perawat pribadi sang Tuan.
Ya, harusnya seperti itu kan? Batinnya, lalu tersenyum kecil merasa idenya itu sangat brilian.
"Jangan banyak bergerak, tetaplah disini, aku akan mengajukan kamu sebagai perawat pribadi tuan Rayden. Jadi kamu tidak perlu merawat pasien yang lain, hanya fokus saja pada tuan ku." Terang Sam dengan senyum yang semakin lebar, senyum yang telihat seperti senyum iblis bagi Disha. Pasalnya selama ini Sam selalu berwajah datar, tajam atau dingin, tapi kini pria itu malah tersenyum lebar.
Hiii! Senyum itu tidak pantas berada di wajahnya. Batin Disha.
Dan setelah mengatakan itu Samuel kembali keluar dari ruangan ini dan menuntaskan apa yang sudah dia rencanakan. Sementara Disha membuang nafasnya dengan kasar.
Coba kembali melepaskan tangannya namun tidak bisa,. malah Rayden semakin memeluknya erat.
Disha melihat wajah Rayden yang terlihat tak nyaman dalam tidur siangnya itu. Seolah pria ini tengah mengalami mimpi buruk.
Refleks, Disha pun menggerakkan tangan kirinya untuk mengelus kepala pria itu. Lembut dia coba kirimkan ketenangan. Seperti sedang menjadikan seorang bayi. Jiwanya yang selalu melayani selalu tak tega melihat orang lain merasa susah.
__ADS_1
Andai pria ini bukan Rayden, dia pun akan melakukan hal yang sama.
Dan sentuhan lembut dari tangan Disha itu benar-benar mampu membuat Rayden tenang. Di alam mimpinya Aresha berlari meninggalkan Dia, namun kini gadis kecilnya itu telah kembali dan mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
Aresha berkata, bahwa dia tidak akan pergi lagi.
Rayden tersenyum lebar di dalam mimpinya.
Namun di kehidupan nyata Disha hanya mampu melihat senyum kecil yang terukir di bibir pria ini.
Dan melihat senyum itu, Disha tertegun. Seperti kembali mengingatkannya pada sesuatu.
Kenapa? tiap kali aku bersama tuan Rayden seolah ada sesuatu yang ingin aku ingat. Tapi tidak bisa. Batin Disha.
Kemudian kedua matanya mendelik saat dia menyadari satu hal. Tentang hipnoterapi yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Apakah kenangan itu yang ingin aku ingat?
Deg!
Jantung Disha makin bergemuruh hebat. Di saat pria ini terlelap seperti ini, banyak sekali hal yang dia temukan.
Disha kini bukan hanya mengelus kepala Rayden, namun tangannya turun menyentuh wajah pria itu. Terlalu banyak teka-teki yang dia punya tentang pria ini.
Seolah takdir memang sengaja menghubungkan mereka.
Masih menatap lekat Rayden dan menyentuh wajahnya. Tiba-tiba pintu kembali dibuka oleh Sam.
Kembali membuat keadaan canggung bagi keduanya. Terlebih Disha kini terlihat lebih intim dengan sang Tuan.
dengan kikuk, Disha pun menarik tangannya untuk menjauhkan dari wajah Rayden.
"Maaf Tuan_"
"Sst! aku sudah mengurus semuanya. Mulai hari ini kamu adalah perawat pribadi tuan Rayden, jadi tidak perlu cemaskan pasien mu yang lain." Terang Sam hingga membuat Disha mendelik.
__ADS_1
Pria ini seolah bisa melakukan apapun semudah membalikkan telapak tangannya.
Sam diam-diam melirik tangan Disha yang dipeluk oleh Rayden. Melihat itu, dalam hati kecilnya pun berharap jika Disha adalah Aresha.
Gadis yang aman jadi obat depresi yang diderita oleh sang Tuan.
Tes DNA itulah yang akan membuktikan semuanya. Batin Sam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kabar tentang Disha yang jadi perawat pribadi Rayden pun terdengar pula oleh Anna.
Di dalam ruangannya dia terduduk dengan cemas.
Merasa semakin hari Disha dan Rayden jadi semakin dekat. Meski selama ini dia telah coba untuk menjauhkan keduanya.
Merasa bingung, Anna pun coba menghubungi sang suami. Tak tau harus bagaimana.
"Pa," lirih Anna saat sambungan telepon itu telah terhubung. Dia adalah wanita yang kuat, namun di hadapan sang suami dia tetaplah wanita yang lemah. Hanya pada Alam lah dia tunjukkan sisi lemahnya ini.
"Kenapa sayang? katakan, aku akan segera datang menjemput mu."
"Aresha Pa."
"Kenapa Ma?"
"Hari ini dia jadi perawat pribadi Rayden. Aku tidak bisa menghentikannya, aku tidak ingin Rayden curiga."
"Tenanglah Ma, tak apa jika mereka memiliki hubungan, yang penting dia tidak tahu jika Disha adalah Aresha."
"Tapi Pa."
"Ma, sekarang Disha sudah tumbuh dewasa, dia bukan lagi anak-anak. percayalah, tanpa kita kini dia bahkan bisa melindungi dirinya sendiri."
Anna terdiam, dia malah menangis. Hal yang paling dia takutkan di dunia ini adalah kembali melihat keluarganya mati di tangan orang lain.
__ADS_1
"Aku akan menjemputmu," ucap Alam kemudian memutus sambungan telepon di antara mereka.