
Rayden semakin menekan tubuh sang istri saat Aresha memekik penuh nikmat, karena saat itu dia pun mendapatkan pelepasannya juga.
"Ahk Honey," ucap Rayden dengan suaranya yang serak dan berat.
Aresha jatuh di dada sang suami dan Rayden memeluknya erat, mencium pundak istrinya berulang kali. Merasakan kenikmatan yanh tiada tara.
Sesaat hanya ada suara deru nafas mereka berdua, Aresha tak berdaya, bahkan tak kuasa untuk melepaskan diri. Meski berdenyut nikmat namun tetap saja tak mengurangi rasa sakitnya. Ada perih yang dia rasa di bawah sana.
"Honey," panggil Rayden pelan , membelai punggung sang istri dengan lembut.
"Iya Kak," balas Aresha lirih, kedua matanya masih terpejam.
"Bagaimana rasanya?"
"Luar biasa, tapi sakit."
Rayden tertawa pelan, "Maafkan aku Honey."
Rayden mencium telinga sang istri sampai membuat Aresha kegelian. Meski telah sama-sama saling mendapatkan pelepasan, tapi mereka belum mau terlepas. Masih membicarakan banyak hal sambil memandang satu sama lain. Rayden berulang kali meminta istrinya mengambil jarak, karena ingin menatap tubuh istrinya yang polos dengan lebih lama.
__ADS_1
Bahkan setelah di sofa sana, mereka pindah ke atas ranjang. Hari itu mereka benar-benar habiskan untuk mengikis semua kerinduan yang memulai semuanya dari awal.
Sementara itu di tempat lain.
Alam mendatangi rumah utama keluarga Carter. Tanpa pemberitahuan sebelumnya hingga membuat semua orang terkejut.
Alex langsung membawa Alam untuk menuju ke ruang kerjanya di rumah itu.
Sementara Jia-istri Alex hanya bisa menunggu dengan cemas di ruang tengah. Berharap tak ada hal buruk yang terjadi. Tentang keluarga Dude atau pun tentang hubungan keluarga mereka.
"Maaf, aku datang tanpa memberitahu mu lebih dulu," ucap Alam, mereka telah sama-sama duduk di sofa. 2 minuman hangat tersaji di atas meja, namun terabaikan.
Telah banyak hal yang dia lalui semasa membesarkan anak-anaknya, membuat Alex makin hari terlihat semakin tegas.
Dan saat itu juga Alam kembali mengucapkan kata maaf, karena dengan keputusannya sendiri dia telah menikahkan Rayden dan Aresha.
Alex tersentak, matanya mendelik, sangat terkejut. Bukan tentang pernikahan itu, namun tentang Aresha yang ternyata masih hidup.
Seketika tenggorokannya tercekat, hanya ada amarah di dalam dirinya yang coba dia tahan. Bagaiman sebuah kematian dibuat sebagai sandiwara.
__ADS_1
Sementara Alam terus bicara, mengatakan jika selama ini Aresha hidup sebagai Disha.
Alex memutar ingatannya yang tajam. Nama itu dia ingat dengan jelas sebagai salah satu perawat anaknya di rumah sakit Medistra.
Alex tergugu. Kedua matanya terlihat merah. Ingin menyalahkan semuanya kepada Alam namun tak kuasa terucap. Tentang beban mereka sama-sama memiliki, tentang mencintai anak-anaknya, Alex pun punya caranya sendiri.
Tak ada yang perlu dihakimi.
Alex hanya diam, menunjukkan tatapannya yang kosong.
"Maafkan aku Alex, aku yang membuat hubungan keluarga kita jauh dan aku pula yang mengikat mereka tanpa persetujuan mu."
"Ya, kamu benar-benar egois. Di masa lalu kamu memang sudah menyelamatkan anak mu, namun kamu tidak sadar jika telah membunuh anakku secara perlahan."
"Maafkan aku."
"Tak apa, setidaknya Aresha belum menikah dengan siapapun sebelum Rayden menemukannya."
Pembicaraan 2 pria paruh baya itu terus berlanjut, sampai entah berapa jam lamanya. Dan diakhiri dengan saling memeluk sebagai besan.
__ADS_1
Keluarga.