
Pagi datang.
Rayden mengulum senyum saat melihat sang istri merias diri di depan kaca. Aresha tidak lagi memakai kaca matanya, rambutnya pun tidak lagi di kepang, langsung disanggul dengan rapi.
"Honey."
"Hem?"
"Tanda ciuman ku tidak usah ditutupi."
"Baiklah," balas Aresha patuh, dia kembali meletakan foundationnya di dalam laci.
"Tapi ini terlalu jelas Kak," ucap Aresha, melegak lengok di depan kaca memperhatian lehernya dari berbagai sudut.
Melihat itu senyum Rayden makin besar, sampai deretan giginya pun terlihat.
"Tidak masalah," balas Rayden enteng.
Aresha hanya mengerucutkan bibir dan menyudahi merias diri.
Sesuai jadwal pagi ini Rayden akan melakukan fisioterapi pertamanya. Setelah sarapan bersama, Rayden dan Aresha akhirnya pergi ke ruang terapi. Sepanjang perjalanan mereka berdua itu, keduanya terus jadi pusat perhatian. Namun tatapan semua orang bukan terarah pada Rayden sang tuan muda, melainkan pada Disha yang terlihat seperti orang lain.
Gadis cupu itu berhasil membuat semua orang bingung. Terlebih belum ada pengumuman apapun yang dibuat oleh Anna dan Alam tentang status sang anak.
Identitas Aresha akan dibongkar bersamaan dengan pihak kepolisian yang akan menguak kasus pembunuhan keluarga Walker dalam konferensi pers resmi mereka.
Dalam konferensi pers itu, Alam dan Anna juga akan menghadiri. Rencananya konferensi pers akan digelar esok hari.
__ADS_1
"Itu perawat Disha kan?"
"Ya Tuhan, benarkah itu dia? aku seperti melihat wajah dokter Anna."
"Benar, tapi aku masih tidak percaya jika itu perawat Disha, apa dia perawat baru?"
"Astaga, dia cantik sekali, bahkan lebih cantik daripada perawat Rafaela."
"Coba mendekatlah, lihat kartu namanya, Perawat Disha atau bukan?"
"Aku tidak berani, ada tuan muda Rayden bersama gadis itu."
"Minggir!!" bentak Rafaela, seketika menghentikan pembicaraan beberapa perawat di ruang administrasi itu. Dari sana mereka semua bisa melihat sang tuan muda dan perawat baru itu melintas dengan sangat jelas.
Dan Rafaela menyipitkan matanya, menatap lebih tajam untuk melihat lebih jelas siapa wanita yang mendorong kursi roda sang tuan muda. Tapi sayang, dia tidak mengenalinya.
Seketika seperti ada yang menyulut api di dalam hati Rafaela, dia mengeram kesal dan mengepalkan kedua tangan.
Siapa sebenarnya wanita itu? kurang ajar. Geramnya di dalam hati. Tanpa mengulur waktu, Rafaela dengan segera melangkahkan kakinya hendak menghampiri Rayden. Langkah kakinya lebar hingga tak butuh waktu lama dia sudah berdiri di hadapan sang tuan muda.
Rafaela menundukkan kepalanya hormat sebelum menatap lekat perawat asing itu.
"Selamat pagi Tuan Rayden, maaf menggangu waktu Anda," ucap Rafaela, bicara lembut sekali, mengisyaratkan sebuah ketulusan.
"Ya, ada apa?" tanya Rayden pula dan saat itu Rafaela pun mengangkat wajahnya.
Tapi Rafaela tidak langsung menjawab ucapan Rayden, dia lebih dulu menatap seorang perawat yang berdiri di belakang sang tuan muda.
__ADS_1
Deg! Jantung Rafaela rasanya tersengat. Dia menelan ludah seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Perawat Disha?" ucap Rafaela, bicara dengan nada bertanya, seperti kurang yakin apakah benar perawat itu adalah Disha.
"Kenapa? apa ada yang aneh denganku?" tanya Aresha pula, menatap dengan wajah penuh percaya diri.
Rafaela melihat tanda pengenal dan membaca nama Disha disana. Mulutnya menganga. Lalu tatapannya turun ke leher Disha yang banyak bercak merah. Dia makin tercengang dan tatapannya seketika berubah tajam.
"Perawat Disha, aku mau bicara berdua dengan mu," ucap Rafaela, bicaranya penuh penekanan.
Mereka pun sedikit menyingkir, namun Rayden masih mampu melihat sang istri dari tempatnya berhenti.
"Jangan bersikap seperti ****** di rumah sakit ini, mentang-mentang jadi perawat pribadi tuan Rayden, kamu merubah penampilan mu hah? menjijikkan," geram Rafaela. Bicaranya seperti berbisik namun terdengar jelas penuh kekesalannya.
"Aku yang jadi ****** kenapa kamu yang repot? lagipula sentuhan tuan Rayden memang memabukkan, aku tidak bisa menahan diri."
"Kurang ajar."
"Ssstt! pelan-pelan bicaranya, citra mu di rumah sakit ini kan sebagai malaikat, jangan sampai semua orang tahu jika kamu sebenarnya iblis," Aresha tertawa.
Sebuah tawa yang membuat Rafaela ingin sekali menampar wanita ini. Namun dia tahan diri kuat-kuat, sadar jika bukan hanya tuan Rayden yang memperhatikan mereka. Tapi juga perawat-perawat yang lain.
Setelahnya Aresha pergi lebih dulu, meninggalkan Rafaela yang menanggung kekesalan di ubun-ubun kepalanya.
Sementara Aresha, sudah melenggang pergi sambil mendorong sang suami. Lengkap dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.
"Kurang ajar, tunggu saja, aku akan kembali melaporkan ini semua pada dokter Anna!" geram Rafaela.
__ADS_1