
Alam keluar lebih dulu dari dalam kamar hotel itu. Berjalan dengan tatapannya yang dingin menyusuri lorong Hotel sampai masuk ke dalam lift, Lalu tiba di basement dan segera masuk ke dalam mobilnya. Sengaja tidak meminta petugas Valet untuk membawakan mobilnya ke depan lobby.
Entahlah, dia seperti butuh waktu sendiri.
Duduk di sana Alam tidak langsung menyalakan mesin mobil dia malah termenung, menatap dinding pembatas di depan sana dan membuang nafasnya kasar.
Ada rasa bahagia dan sedih yang kini bersarang di dalam hatinya. Bahagia karena nyatanya Rayden mampu menemukan Aresha dan membuat mereka kembali bersama. Sedih, karena akhirnya pernikahan sang anak dilakukan dengan cara seperti ini.
"Harusnya Aresha memiliki pesta pernikahan yang mewah," gumam Alam. Sekelabat sebuah pikiran mendatangi benaknya, ingin menguak saja jati diri sang anak dan memancing pembunuh itu keluar. Lalu menangkapnya dengan bantuan polisi.
Namun tak lama kemudian Alam menggeleng. Takut kalah licik dengan pembunuh itu dan malah membahayakan nyawa sang anak.
"Ya Tuhan," gumam Alam, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Mengambil ponselnya dan coba menghubungi Aresha.
Setelah berbunyi tut beberapa kali akhirnya panggilan itu mendapatkan jawaban.
"Tunggu Pa, aku ke ruangan dulu," ucap Disha seraya berlari menuju ruangannya. Dia baru saja tiba di rumah sakit setelah beberapa saat lalu pulang untuk mengganti baju. Sekarang Aresha tidak punya pekerjaan apapun karena tugasnya kini hanyalah tinggal merawat Rayden. Dia bahkan seolah sudah keluar dari tim 5, udah ada penggantinya di dalam tim itu.
Dan mengetahui sang anak sampai harus berlari ke ruangannya untuk menerima panggilan teleponnya membuat Alam kembali berdesir nyeri hatinya. Beberapa tahun telah mereka lewati dengan hidup seperti ini.
__ADS_1
"Halo Pa," ucap Disha dengan suaranya yang terengah, setelah masuk ke ruangan itu dia segera mengunci pintunya rapat-rapat. Tetap harus berhati-hati ketika mendapatkan telepon dari anggota keluarganya.
"Aresha," panggil Alam. Suaranya terdengar begitu lirih sampai membuat langkah Disha terhenti, urung menuju kursi kerjanya dan duduk, berakhir berdiri di depan meja kerja itu.
"Kenapa Pa? apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Maafkan Daddy."
"Pa, kenapa mengucapkan panggilan itu, bukannya aku tidak boleh mengucapkannya."
"Maafkan Daddy sayang."
Sementara di ujung sana, Alam sudah meneteskan air matanya. Dadanya teramat sesak. Namun harus tetap kuat dan tak boleh membuat Aresha tahu bahwa dia telah menangis.
"Rayden menemui daddy sayang."
"Pa, aku tidak mau memanggil mu daddy."
"Rayden meminta izin untuk menikahi kamu, tidak, bahkan sebelum daddy memberikan izin itu dia sudah mengurus semuanya. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan kamu sayang. Maafkan daddy, karena memisahkan kalian."
__ADS_1
"Pa_"
"Aresha, Daddy dan Mommy telah menghapus ingatan mu tentang Rayden dan kelurga Carter. Daddy melakukan itu agar kamu kuat, tidak merasa sakit hati ketika harus berpisah dengan sesorang yang penting. Tidak ingin kamu membuka jati dirimu sendiri agar bisa ditemukan oleh Rayden."
"Pa_" Disha jadi menangis, namun tiap dia hendak bicara, ayahnya selalu memotong.
"Daddy akan memanggil dokter Samantha untuk datang, daddy akan kembalikan kenangan itu sayang. Maafkan daddy ..."
"Dan satu lagi, selamat atas pernikahan mu dengan Rayden, semoga tuhan memberkati pernikahan kalian."
Tangis Disha pecah, dan air mata Alam pun jatuh dengan begitu deras.
Alam bahkan memutus sambungan telepon itu lebih dulu. Membuatkan dia dan Aresha sama-sama berkubang dalam kesedihan masing-masing.
"Daddy ..." lirih Disha.
"Dad ..."
Namun setelah tangis kali ini, mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
__ADS_1