
Sekitar jam 9, setelah kepergian Ron. Maura mematikan lampu kamarnya. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat. Dari dalam kamar mandi itu ada sebuah pintu rahasia yang membuatnya terhubung dengan tempat lain, sebuah taman kecil menyambut kedatangannya. Sebuah tempat layaknya Vila yang Maura gunakan untuk tempat tinggal.
5 tahun terakhir Maura baru tinggal di tempat ini, setelah bertahun-tahun menjadi budak nafshu Ron Dominic. Pembangun tempat tinggal rahasianya ini membutuhkan proses yang cukup lama. Bahkan ruangan tersembunyi ini pun terhubung pula dengan ruangan milik Ron.
Di akhir pekan mereka sering menghabiskan waktu bersama di tempat ini, menuntaskan hasrat dengan sejuta fantasi.
Maura adalah seseorang yang bisa memberikan kepuasan itu bagi Ron, karena itulah Ron pun bersedia memberikan semuanya untuk sang wanita. Apalagi hanya berupa uang untuk membalaskan dendam pada orang-orang di mass lalu Maura.
Tiba di kamarnya dengan ranjang king size dan sangat empuk, Maura dengan segera menghubungi sang ayah.
Tak butuh waktu lama panggilan itu pun mendapatkan jawaban.
"Halo sayang," sapa Ben di ujung sana, suaranya terdengar berat dan cukup tegas. Pria itu meneguk anggur merah di tangannya. Menatap indahnya pemandangan kota pada malam hari. Ben berdiri di dekat dinding kaca di kamar hotel tempatnya menginap malam ini. Dia telah hidup menjadi orang lain dan mengambil identitasnya, nama Ben saat ini adalah Toni Abbas. Semua itu jadi halus dan tak terbaca oleh semua orang berkat Ron Dominic.
"Dad, Alam kembali menyelidiki aku, dia sampai mengirimkan 2 orang untuk datang kesini." terang Maura dengan antusias, dia pun tak sabar ingin segera membuat keluarga Dude merasa hancur, terutama Anna.
Maka kematian Aresha adalah pembalasan setimpal untuk semua penderitaan yang dialami oleh Maura dan Ben selama ini. Kehilangan jabatan, harga diri dan kekayaan.
__ADS_1
Dan mendengar itu, Ben tak langsung menjawab, hanya bertambah heran kenapa Alam jadi tambah berani mengambil tindakan. Padahal beberapa tahun terakhir, semuanya terasa tak ada pergerakan.
Alam mulai kembali bergerak sejak Rayden masuk ke rumah sakit Medistra.
"Apa Tamara ada melaporkan sesuatu pada mu tentang Rayden?" tanya Ben.
"Saat ini Rayden dekat dengan seorang perawat bernama Disha. Tapi anehnya perawat itu berwajah cupu, bukan seperti selera Rayden selama ini."
"Cupu?"
"Iya Dad, tapi semenjak dekat dengan wanita itu Rayden tak pernah lagi meminta Tamara datang."
Sampai membuat Rayden tak mampu berpaling lagi pada wanita cantik yang lain.
"Dad, apakah daddy memikirkan hal yang sama dengan ku?" tanya Muara, kini kedua matanya melebar, jantungnya bergemuruh seolah baru saja mendapatkan jackpot.
Di ujung sana Ben pun tersenyum menyeringai, sangat mengerti apa yang dipikirkan oleh sang anak.
__ADS_1
Mereka berdua mencocokkan satu sama lain, tentang pergerakan Alam, tentang Rayden dan perawat Disha. Bahkan tentang perawat berkaca mata itu pun selama ini sudah diketahui oleh Ben. Semua pekerja di rumah sakit Medistra terpantau jelas olehnya.
Tak sembarangan orang yang bekerja di rumah sakiy itu, meski hanya sebagai office boy. Tapi sungguh, perawat berkacamata itu selama ini tak menarik perhatiannya.
Ben kira Aresha adalah Rafaela. Namun ternyata bukan, Rafaela benar-benar anak orang lain, anak keluarga Hadwin.
Bodohnya kenapa selama ini tidak pernah terpikir olehnya jika wanita cupu itu adalah Aresha, anak satu-satunya Alam dan Anna.
Pembicaraan itu membuat keduanya merasa yakin tentang satu hal, sudah mereka putuskan kini target mereka adalah perawat cupu bernama Disha itu.
Sangat yakin 100% jika dia adalah Aresha.
"Dad, besok malam saat wanita itu keluar dari rumah sakit, langsung tusuk saja tubuhnya. Orang-orang tidak akan bisa menyalahkan daddy karena daddy adalah orang gila," ucap Maura dengan tertawa renyah. Menjadi orang gila adalah alibi yang selalu mereka gunakan, terlebih kini ada Ron di balik mereka.
Di ujung sana Ben pun ikut tertawa juga.
Sama-sama merayakan tentang hal ini.
__ADS_1
Mereka tidak sadar, jika semua pembicaraan itu terdengar langsung oleh target mereka besok malam.
Disha alias Aresha.