
"Kenapa Tuan menatap ku?" tanya Disha, setelah urusannya selesai dengan kacang polong.
"Kalau bisa aku juga ingin menciummu."
Dhisa mendelik, sementara Sam langsung tersedak makanannya sendiri ketika mendengar kalimat itu. Bukannya aneh dengan permintaan sang tuan, tapi haruskah diucapkan saat dia ada disini?
Hah! tak habis pikir. Buru-buru dia mengambil minum agar tenggorokannya tidak terlalu lama tersiksa.
Sementara pria yang baru saja membuat Sam tersedak malah tersenyum kecil, menarik hidung Disha dengan gemas. Lalu kembali makan seolah tak terjadi apa-apa.
Seolah tak peduli jika kini jantung gadis berkacamata itu berdebar.
Diantara debaran yang dirasa oleh Disha, dalam benaknya seketika terbayang seorang anak laki-laki berlari mengejarnya di taman. Mereka tertawa, saling mengejar seraya meletuskan gelembung sabun di udara.
Kak Rayden!
Disha dengan segera memejamkan kedua matanya erat ketika kenangan-kenangan itu membuatnya pusing. Debar jantungnya seketika menghilang, diganti kepala yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
"Kamu kenapa?" tanya Rayden dengan sedikit cemas, dia bahkan melihat ada beberapa keringat dingin yang mulai muncul di dahi Disha.
Gadis berkacamata itu menggelengkan kepalanya pelan, sebuah tanda bahwa dia baik-baik saja.
"Tidak apa-apa Tuan, lebih baik kita makan lagi," jawab Disha pula. Kini bahkan dia telah kembali melupakan kenangannya sendiri, kembali mengingatkannya dengan samar-samar. Menganggap jika saat ditanam bersama seorang anak laki-laki hanyalah hayalannya saja.
"Hem, makanlah yang banyak, kacang polongnya biar aku yang makan."
Disha mengangguk patuh.
Tanpa disadari oleh mereka semua jika di ujung pintu masuk sana telah berdiri seorang wanita cantik. Tamara datang kemari dengan membawa kotak bekal makan siang. Namun saat tiba di ruangan Rayden, dia tidak melihat pria itu dan asistennya.
Tamara bertanya pada salah satu perawat dan mengatakan jika Rayden makan siang di kantin. Dan disinilah akhirnya dia berdiri.
Melihat pria yang dia cintai makan sepiring berdua dengan gadis cupu itu.
Marah? tentu saja.
__ADS_1
Cemburu? sangat, terlebih wanita itu tak ada menarik-menariknya sama sekali.
Tapi Tamara tak pernah menunjukkan kemarahannya, dia malah tersenyum dan berjalan menghampiri semua orang.
"Rayden," panggil Tamara, datang dengan senyumnya yang sangat manis.
Tamara bahkan langsung memeluk Rayden dan mencium pipi prianya sekilas. Lalu menatap Disha dengan tatapan yang entah, seolah bertanya kenapa seorang perawat dengan lancangnya duduk bersama dan bahkan makan di piring yang sama.
Disha pun buru-buru bangkit, menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Duduklah," ucap Rayden, tapi satu kata itu bukan untuk Tamara, melainkan untuk Disha.
Canggung.
Sampai akhirnya Sam yang bangkit.
"Silahkan Nona," ucap Sam pula, memberikan tempat duduknya untuk Tamara.
Sam sudah sangat biasa dihadapkan pada situasi seperti ini. Tamara pun harusnya telah terbiasa juga, namun Disha, gadis itu tentu merasa tak nyaman.
"Saya permisi Nona," pamitnya pada Tamara, dan Tamara pun menjawabnya dengan anggukan.
Baguslah kalau sadar diri. Batin Tamara.
"Tunggu," ucap Rayden saat Disha mulai mundur untuk pergi, seketika kembali menghentikan pergerakan gadis berkacamata itu.
"Kamu mau makan siang? aku sudah selesai, jadi makanlah sendiri, aku akan meminta Disha untuk mengantarku kembali ke ruangan," tutur Rayden, bicara pada Tamara. Sebuah kalimat panjang yang membuat wanita cantik itu menganga.
Bagaimana bisa Rayden memperlakukannya seperti ini?
Setidak berharga ini?
Namun Tamara tak bisa berbuat banyak, hanya bisa mengangguk kecil.
Sementara Disha, bukannya tersanjung dengan sikap Rayden tapi malah merasa tak enak hati. Apalagi selama ini, Tamara tak pernah menganggunya seperti Rafaela.
__ADS_1
Rayden, Sam dan Disha akhirnya pergi dari sana. Meninggalkan Tamara yang rasanya ingin membanting meja.
Tiba di kamarnya.
Ternyata langkah mereka berpapasan dengan dokter Anna yang ingin memeriksa keadaan Rayden. Tiap 2 Minggu sekali dia memang rutin memeriksanya. Biasanya datang saat pagi, namun baru sempat siang ini.
Dan melihat dokter Anna datang, Sam adalah orang yang senyumnya paling lebar. Bak gayung bersambut, orang yang dia kejar kini datang dengan sendirinya.
Sebuah kode pun langsung dia berikan pada sang tuan, memegang kepalanya sendiri melirik ke arah dokter berwajah dingin itu.
Rayden paham, dia mengedipkan matanya pelan. Dia tahu, Sam memintanya untuk mengambil rambut wanita tua itu.
Saat itu dokter Anna tidak datang sendiri, dia datang bersama dengan dokter Helmi dan Dara juga.
"Dokter Anna, bisakah anda membantu saya untuk naik ke atas ranjang," pinta Rayden, itu adalah tugas Disha dan Dara, namun dia meminta pada Dokter Anna.
"Biar saya yang bantu anda Tuan." Disha dan Dara berucap bersamaan.
"Kali ini aku ingin dokter Anna, sudah lama rasanya tidak bertemu dengan beliau," balas Rayden, lengkap dengan senyumnya yang khas, senyum yang dimata Disha telihat seperti senyum mesyum.
Namun di mata Dara, senyum itu sangat mempesona.
"Baiklah, saya akan membantu Anda," balas dokter Anna kemudian.
Membuat Rayden dan Sam sama-sama menghembuskan nafasnya lega.
Saat dokter Anna membantu Rayden, pria itu dengan cepat menarik helaian rambut di kepala dokter wanita ini. Anna bisa merasakannya dan langsung menatap Rayden.
"Maaf Dok, salah pegang," ucapnya dengan selengekan.
sementara Anna tak mengindahkan itu, ingin Rayden segera aman duduk di atas ranjang.
"Saya bantu." Sam mengambil alih dengan cepat, tangan kedua pria itu pun saling bertransaksi dengan lincah.
Sampai akhirnya 2 helai rambut dokter Anna telah berada di tangan Sam.
__ADS_1
Gotcha!