
Sam hanya mengantarkan sang nyonya muda sampai di depan pintu ruang VIP 001. Selebihnya Aresha masuk seorang diri ke dalam sana sementara Sam pergi entah kemana.
Semua orang di rumah sakit ini tengah tercuri atensinya pada peristiwa kecelakaan hebat di depan rumah sakit itu. Jadi tidak ada satu pun yang memperhatikan perubahan Disha saat itu. Saat gadis yang biasa menggunakan kacamata itu akhirnya melepaskan kacamatanya. Saat rambut Disha yang dikepang kini dilepasnya dan hanya diikat rapi berbentuk sanggul, cantik sekali.
Disha seperti baru saja lahir dan jadi orang yang baru.
Masuk ke dalam ruangan itu, Aresha langsung disambut dengan tatapan sang suami yang terlihat sendu. Duduk di kursi roda tidak begitu jauh dari pintu masuk.
Aresha urung tersenyum, karena melihat wajah sang suami yang bersedih seperti itu.
Rayden melihat semua yang terjadi di bawah sana. Dan pemandangan yang paling menyakitkan adalah, disaat dia harus melihat pria lain yang memeluk istrinya di saat genting.
"Kak," panggil Aresha lirih.
__ADS_1
Rayden perlahan menarik Aresha hingga duduk di atas pangkuannya.
"Misi mu telah berhasil, Aresha Dude telah kembali," ucap Rayden.
Aresha menangkup wajah sendu pria ini. Sangat tahu jika Rayden pasti berkecil hati karena tak bisa melakukan apapun. Rayden lupa bahwa semuanya tak akan mungkin berjalan baik seperti ini andai tidak ada Zhack, andai tidak ada dia yang memerintah.
Tanpa banyak bicara, Aresha mencium lebih dulu bibir suaminya. Melumaatnya lembut menggoda sang suami agar membalas.
"Gadis kecil mu telah kembali Kak, ayo kita buat perayaannya," lirih Aresha lagi, setelah mengatakan kalimat itu dia kembali mencium bibir sang suami, memainkan lidahnya lebih berani. Melepas semua baju yang membalut tubuhnya, termasuk baju anti sayat itu. Melemparnya asal ke sembarang arah hingga menyisahkan tubuhnya yang tak terbalut sehelai benang pun.
Diluar sana masih gaduh, puing-puing ledakan mobil itu masih berusaha dibersihkan oleh pihak yang berwenang. Semua orang bertanya-tanya dimana mayat supir truk. Namun satu orang pun tidak akan ada yang bisa menemukannya karena Darco lah yang mengemudikan mobil itu menggunakan remote kendali.
"Ahk," desah Aresha disaat tubuhnya kembali menyatu tanpa ada jarak sedikit pun yang tercipta.
__ADS_1
Dan penyatuan ini kembali membuat Rayden yakin, jika Aresha hanyalah miliknya. Bukan Kris bedebah itu.
Mereka berdua menciptakan kegaduhannya sendiri di dalam kamar VIP itu.
Tepat jam 5 sore. Alamsyah dan Alex keluar dari kantor polisi. Alam tanpa sadar meneteskan air matanya dan Alex segera memeluk pria itu.
Karena akhirnya setelah sekian tahun berproses, kini Alam bisa mengatakan kepada sang istri jika anak mereka telah aman. Jika mereka sudah bisa mengumumkan pada Dunia bahwa Aresha Dude adalah putri mereka satu-satunya.
"Sudah, tidak usah menangis, ini adalah hari bahagia mu," ucap Alex, padahal kedua matanya sudah terlihat merah, tenggorokannya terkecat menahan diri agar tetap kuat. Tidak ingin lemah disaat temannya menangis. Dia harus jadi penguat.
"Terima kasih Lex."
"No, jangan ucapkan terima kasih. Rayden dan Aresha memang sudah seharusnya bersama. Sudahlah, kita pulang saja. Berikan salam ku untuk Anna."
__ADS_1
Alam mengangguk.
Di depan kantor polisi itu, mereka berdua berpisah.