
Pagi datang.
Aresha dan Rayden sudah siap untuk keluar dari ruang perawatan, menjalankan rencana mereka hari ini untuk pulang ke rumah utama keluarga Dude. Berkumpul bersama keluarga dan tidak akan pernah pisah lagi.
Bibir Aresha tersenyum, senyum yang berubah jadi tawa kecil saat melihat sang suami berjalan ke arahnya tanpa tongkat penyanggah.
Rayden masih ingat dengan jelas janjinya pada sang ayah bahwa dia hanya akan keluar dari rumah sakit ini jika sudah sembuh total.
Dengan alasan itulah kini dia membuang tongkat penyanggahnya.
"Jadi laki-laki memang harus seperti itu Kak, selalu menepati apapun yang dia ucapkan," ledek Aresha. Dia sudah tahu semuanya tentang ucapan sang suami itu, semalam Rayden menceritakannya.
Semalam Aresha pun menyerahkan tubuhnya, memberikan stimulus paling ampuh pada semua saraf tubuh sang suami.
"Kamu tega sekali Honey, malah menertawakan aku."
Tawa Aresha makin jadi, sampai akhirnya tawa itu reda saat Rayden berhasil menjangkau dia di dekat pintu.
Rayden langsung menghukum gadis kecilnya dengan sebuah ciuman dalam, juga remasaan yanh begitu kuat di salah satu dada sang istri.
Sampai berhasil membuat Aresha menjerit tertahan, sakit yang terhalang nikmat.
Dan kini, gantian Rayden yang tertawa.
"Ayo pulang," ajak Rayden, lengkap dengan wajahnya yang tersenyum puas. Tanpa menunggu sang istri menjawab Rayden sudah lebih dulu menarik istrinya untuk keluar dari ruangan itu. Rayden benar-benar berjalan menggunakan kedua kakinya. Seperti keajaiban kini Rayden seperti tidak pernah mengalami patah tulang.
__ADS_1
Samuel pun sudah menunggu keduanya di luar sana. Dia berjalan di belakang, mengikuti Tuan dan Nyonya muda.
Namun, langkah mereka terpaksa terhenti di depan pintu lift saat ada Rafaela dan Dena yang menghadang perjalanan mereka.
Sam berniat menarik kedua gadis itu untuk menjauh, tapi urung karena Aresha memberi isyarat biarkan saja. Aresha mengangkat tangan kanannya, menghentikan pergerakan Sam.
"Selamat pagi dokter Aresha, Tuan Rayden," ucap Rafaela dan Dena kompak, tak lagi canggung ketika memanggil Disha dengan nama aslinya.
Dan setelah memberikan salam itu, Rafaela pun kembali berucap ...
"Maaf menganggu perjalanan Anda, tapi saya dan Dena benar-benar ingin meminta maaf tentang masa lalu. Tentang semua perlakuan kami terhadap dokter Aresha yang dulu jadi Disha," ucap Rafaela, bicaranya jelas, dia pun menundukkan kepalanya sebagai bentuk permohonan yang sungguh-sungguh.
Tapi Aresha tak langsung menanggapi, dia hanya tersenyum kecil. Jeda yang tercipta itu, membuat Dena pun ikut buka suara ...
"Hem, tentang maaf mungkin aku akan sulit untuk memberikannya. Karena kalian benar-benar kejam padaku dulu," jawab Aresha akhirnya. Sebuah jawaban yang membuat Rafaela dan Dena menelan ludahnya kasar.
Diantara mereka bertiga jelas masih ingat semua tentang masa lalu itu. Tentang Disha yang selalu jadi bahan bulian Rafaela dan Dena.
"Tapi kita akan tetap bekerja secara profesional di rumah sakit ini, aku juga akan tetap mempertimbangkan Tim 1 untuk masuk ke ruang operasi." Terang Aresha lagi, bicaranya begitu tegas. Rafaela dan Dena bahkan merasa seperti sedang mendengar dokter Anna yang bicara.
Membuat keduanya seketika tak mampu lagi menjawab. Mereka berdua hanya diam dan terus menunduk sampai akhirhya Aresha, Rayden dan Sam masuk ke dalM lift.
"Harusnya kamu pecat saja 2 orang itu Honey." Rayden bicara persis seperti iblis jahat di telinga kiri Aresha.
"Jangan begitu Kak, dalam pekerjaan selama ini Rafaela dan Dena tidak memiliki masalah. Karena itulah mereka masuk Tim operasi 1, Tim dengan citra paling baik di rumah sakit ini."
__ADS_1
"Huh, kenapa kamu malah memuji mereka?" tanya Rayden pula, juga mengikis jarak hingga Aresha terpojok di dinding.
Membuat Sam seketika menghadap dinding lain, coba menjadi tuli dan buta.
"Bukan memuji Kak, aku bicara fakta. Lagi pula aku tidak mau lagi ada dendam diantara kami. Dendan kecil saja bisa berubah jadi sangat besar, seperti keluarga Thomson."
Rayden membelai lembut wajah istrinya yang sangat cantik. Bukan hanya wajah, namun hati Aresha pun tak kalah cantiknya.
"Aku mengerti sekarang," balas Rayden singkat. Dilanjutkan dengan kecupan hangat di atas bibir sang istri. Sampai terdengar jelas bunyi Cup! disana.
Dan Sam, menelan ludah diantara kedua matanya yang terpejam.
Sebelum mereka pulang ke rumah utama keluarga Dude, keduanya akan lebih dulu pergi ke rumah utama keluarga Carter, lalu keluarga Lincoln.
Rayden tidak ingin menunda lagi untuk menyelesaikan semua permasalahan di dalam keluarganya. Dia benar-benar ingin bebas dan bisa leluasa mencintai sang istri.
Sementara itu di tempat lain. Maura sudah di bawa ke kantor polisi, meski berulang kali mengaku gila namun penyelidikan tentang dia tetap dilakukan sesuai prosedur. Tangannya terus diborgol, membuat Maura tak pernah bisa melakukan bunuh diri.
"Aku mohon Tuhan, ambil saja nyawaku. Aku tidak ingin hidup seperti ini," lirih Maura. Bersimpuh di sudut ruangan jeruji besi. Dia menangis meratapi hidupnya sendiri.
Tentang kematian sang anak yang terasa seperti mimpi.
Diantara sepi dan hampanya hidup itu, akhrinya yang Maura ingat hanya 1 orang.
Yaitu Anna Walker.
__ADS_1