
Ron Dominic tidak bisa berkutik saat pihak kepolisian menangkap dia di kediaman rumahnya. Setelah semua bukti dan berkas selesai, pihak kepolisian segera menangkap direktur rumah sakit jiwa itu dan menahannya.
Dia berontak namun semua bukti seperti telah mengikat kakinya kuat, dia tak bisa berkilah meski hanya untuk penangguhan penahanan. Tak bisa keluar dari dalam penjara meski mengajukan tahanan kota.
Perencanaan pembunuhan adalah kasus berat, tersangka bisa mendapatkan hukuman mati.
"Lepas! mana bisa kalian semua menahanku!" pekik Ron, namun dia tetap di lempar dalam penjara.
Istri Ron yang bernama Gilian Dominic sangat cemas, berulang kali meminta pada pengacara mereka untuk melepaskan suamimya. Dia sungguh belum paham apa yang terjadi disini. Kenapa suaminya ditahan? kenapa suaminya dituduh telibat dalam rencana pembunuhan?
"Nyonya Gil, penyidik akan menjelaskan semuanya. Mari ikut dengan saya," ucap pengacara itu. Saat ini waktu tengah menunjukkan pukul 8 malam, dan mereka malah berkutat di kantor kepolisian.
Gilian mengikuti langkah pengacaranya dan menemui sang penyidik.
Di sebuah ruangan yang kedap suara, Penyidik bukan hanya menceritakan duduk permasalah kenapa Ron ditangkap, tapi dia juga mengajukan pertanyaan.
Namun dari semua pertanyaan itu, tak ada satupun yang bisa Gilian jawab dengan lantang.
Gilian tidak tahu tentang pernikahan Ron dengan salah satu pasien di rumah sakit jiwa bernama Maura.
Gilian tidak tahu jika sebagain kekayaan mereka mengalir pada wanita itu dan digunakan untuk merencanakan pembunuhan.
Bukannya menjawab Gilian malah terpuruk. Tak menyangka rumah tangganya hanya indah diluar, namun nyatanya busuk di dalam.
Kecewa, marah dan benci telah menguasai wanita cantik itu. Sampai tak ada sedikitpun niat untuk bantu membebaskan Ron dari semua jerat hukuman.
__ADS_1
Dia pergi dari kantor polisi itu dan tak sudi untuk kembali lagi.
Malam itu juga, Gilian meminta sang pengacara untuk mengantarkannya ke rumah sakit jiwa Golden Dominic. Nyaris jam 10 malam dia tiba disana.
Kedatangan Gilian tentu mengejutkan semua orang. Namun langkah lebar wanita itu seketika terhenti saat merasakan ponselnya terus bergetar di dalam tas.
Di salah satu koridor Gilian menghentikan langkahnya. Mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan email masuk dari nama yang baginya sangat aneh, K00210.
Itu adalah pesan email dari Kris.
Gilian membuka pesan itu dan alangkah terkejutnya saat dia melihat semua bukti perselingkuhan Ron dan Maura. Bahkan daftar dokter dan perawat yang mengetahui tentang pernikahan itu pun terdata dengan rinci disana.
Seketika tubuh Gilian terhuyung, dia nyaris jatuh andai tidak segera berpegangan pada dinding.
"Nyonya!" cemas sang pengacara. Namun Gilian enggan untuk disentuh.
"Aku tidak akan jadi lemah, aku tidak akan tinggal diam," gumam Gilian, diantara kewarasannya sendiri yang nyaris hilang. Hari ini langit di atas kepalanya seolah runtuh. Beruntung kenyataan menyakitkan datang satu per satu.
Gilian lantas melanjutkan langkah, tujuannya kini hanya 1. Ruang rawat pasien bernama Maura Thomson.
Sampai disana, dia melihat seorang wanita penuh luka tengah berbaring di atas ranjangnya. Maura tertidur karena obat penenang yang dia minum.
Gilian tak menaruh iba sedikitpun. Dengan kasar dia menyiram wajah Maura menggunakan air minum di atas meja.
Byur!
__ADS_1
Dengan gelagapan Maura terbangun dan alangkah terkejutnya saat dia melihat Gilian disini.
Plak! Satu tamparan keras Maura terima. Perih sekali.
"Wanita menjijikkan, pura-pura gila hanya untuk menggoda suamiku. Cuih!" Gilian meludahi Maura tanpa segan.
"Bunuh saja aku, BUNUH SAJA AKU!" pekik Maura pula. Dia bahkan mencekik lehernya sendiri hingga membuat Gilian mundur, tak menyangka jika Maura akan bertindak seperti itu.
Beberapa perawat masuk dan kembali mencekal tubuh Maura.
"Bunuh saja aku Gilian! Bunuh! aku sudah puas menikmati tubuh suamimu!" pekik Maura, dia benar-benar ingin Gilian membunuhnya saja. Hidup ini terlalu menyiksa bagi Maura, tiap kali dia ingat telah mengirim sang anak dan sang ayah menuju kematian.
Maura tak mau hidup lagi, dia juga ingin mati.
Namun berulang kali mencoba bunuh diri, tetap saja selalu gagal. Dan hanya semakin menambah rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Dan mendengar ucapan Maura itu, Gilian pun tersenyum menyeringai.
"Tidak, aku tidak akan membunuh mu dengan mudah. Aku akan lebih dulu mempertemukanmu dengan Anna Walker, hahahahaha," tawa Gilian pula, dia tahu jika Maura bermusuh sekali dengan wanita itu. Bahkan karena Anna Walker lah Maura menggunakan suaminya untuk membalas dendam.
"Tidak! Aku tidak mau bertemu dengan Anna! TIDAK!!" pekik Maura.
Namun Gilian tak peduli dengan penolakan itu, dia akan terus membuat wanita ini menderita, sampai Maura benar-benar gila.
Dan disaat Maura terus berteriak tak karuan, Gilian memutuskan pergi dari sana.
__ADS_1
Malam itu juga dia membuat surat pemecatanan untuk seluruh dokter dan perawat yang selama ini bekerja sama dengan Ron untuk menyembunyikan pernikahan itu. Gilian juga mengambil alih rumah sakit.
Di dalam penjara sana, Ron tidak memiliki kekuatan apapun lagi. Pria itu hanya tinggal menunggu, hukuman mati menimpanya.