
Setelah Disha duduk di kursinya, Rafaela pun dengan terpaksa keluar dari ruanyan ini, meski langkah kakinya terasa begitu berat namun dia harus pergi. Agar semuanya terlihat normal di mata Rayden.
"Harusnya Anda mulai bisa makan sendiri, tidak perlu disuapi, tangan anda harus sering digerakkan dengan gerakan-gerakan sederhana seperti ini," ucap Disha, menerangkan bagaimana baiknya untuk Rayden.
"Kamu masih marah?" tanya Rayden pula, ingat peristiwa siang kemarin saat Disha mengembalikan kancing jas yang dia temukan.
"Marah untuk apa?" tanya Disha pula, seraya membenahi kacamatanya yang turun.
"Tentang kemarin, saat aku membentak mu."
"Tidak, tapi kejadian kemarin membuat saya sadar, bahwa antara pasien dan perawat memang harusnya bersikap profesional saja, tidak ada hubungan apapun, meski hanya sebuah pertemanan," terang Disha pula, mengatakan dengan tatapannya yang serius, sengaja menarik ulur perasaan Rayden. Membuat pria ini terus memiliki ketertarikan padanya.
Dan benar saja, jawaban Disha itu membuat Rayden terpaku. Karena lagi-lagi wanita seolah menolak dia. Sama seperti gadis kecilnya yang selalu tak gentar meski dia tatap dengan penuh cinta. Aresha selalu mampu membalas tatapannya, tanpa tersipu sedikitpun.
Padahal sejak kecil Rayden sudah sangat tampan.
Disha memasang tempat makan yang ada di ranjang Rayden, kembali membenahi posisi duduknya hingga membuat pria itu siap untuk makan sendiri.
__ADS_1
"Silahkan nikmati makanan Anda, saya akan menemani sampai habis," ucap Disha, kembali duduk di kursinya yang ada di pinggir ranjang.
Namun baru mendudukkan tubuhnya disana, Disha merasakan ponselnya bergetar panjang, tanda jika ada panggilan masuk. pertama Disha biarkan panggilan itu hingga mati sendiri, dia pikir ini bukanlah panggilan penting.
Namun ternyata ponselnya kembali bergetar, sebuah tanda bahwa mungkin saja ini adalah panggilan genting.
Lantas dengan sedikit bersembunyi-sembunyi, Disha merogoh ponselnya di saku celana dan melihat ada panggilan masuk dari nomor baru.
Disha sangat yakin jika ini adalah panggilan dari Darco atau Leon. Namun Disha tak punya kesempatan untuk menjawab panggilan itu.
Sampai akhirnya suara Rayden membuyarkan semua pemikiran gadis berkacamata ini.
"Baiklah Tuan, Saya akan mengambilkan air untuk anda cuci tangan, tidak perlu turun dari atas ranjang," jawab Disha dengan cepat. Tanpa sadar dia meletakkan ponselnya begitu saja di atas ranjang.
Disha lantas pergi mengambil mangkuk cuci tangan di salah satu lemari yang ada di ruangan ini pula, lalu mengisinya dengan air di dalam kamar mandi.
Saat Disha pergi kesana, ponselnya di atas ranjang Rayden kembali bergetar. Tapi itu bukanlah tanda panggilan masuk.
__ADS_1
Melainkan sebuah pesan dari nomor baru.
Rayden yang menyadarinya pun langsung saja melihat ponsel itu, membaca pesan yang tertera jelas di layar ponsel. Meski mode terkunci, namun tulisan pesan itu masih mampu dia baca dalam pop up yang keluar.
Darco.
Hanya satu kata namun berhasil membuat Rayden mendelik.
Namun belum sempat otaknya berpikir terlalu jauh, ponsel itu sudah lebih dulu disambar oleh sang pemilik.
Disha dengan segera memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
Sementara Rayden langsung menatap Disha dengan tatapan yang entah.
Darco, apakah itu orang yang sama dengan Darco pemimpin DarkWeb? Batin Rayden.
Benarkah?
__ADS_1
Tapi bagaimana bisa?
Tidak mungkin.