My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 95 - Bersilat Lidah


__ADS_3

Jam 5 sore Rayden dan Aresha baru keluar dari dalam kamar mereka. Keduanya pun langsung pamit pulang.


"Kenapa tidak menginap disini saja dulu?" tanya mommy Karin, dia pun masih sangat rindu dengan keduanya. Menghabiskan malam bersama pasti akan menambah kehangatan keluarga ini.


"Lain kali saja Mom, mommy Anna juga sudah menunggu kami pulang," tolak Rayden.


Mommy Karin menghembuskan nafasnya pelan, sangat mengerti perasaan Anna. Dia pun mengelus puncak kepala Aresha dengan sayang, lalu memeluknya penuh kasih sayang.


"Baiklah, sering-sering berkunjung kesini, ya?" ucap mommy Karin dan Aresha mengangguk.


Airin juga ada disana, dia tersenyum melihat pria yang dicintainya pun tersenyum. Melepaskan dengan hati terbuka seperti ini terasa lebih ringan baginya, daripada harus terus mempertahankan seseorang yang hatinya tak pernah mampu dia gapai.


Airin juga mengantar kepergian Rayden dan Aresha sampai di teras rumah.


dan setelah mobil sepasang suami istri itu keluar dari halaman rumah mereka, Daddy Daniel dan Mommy Karin memeluk Airin dengan erat. Bangga karena anaknya bisa menerima semua ini tanpa ada perlawanan.


"Kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada Rayden, mungkin seorang dokter. Seperti daddy mendapatkan mommy," ucap daddy Daniel, menggoda anaknya sendiri.


Airin mencebik, baru patah hati dan sudah diiming-iming pria lain.

__ADS_1


Sementara mommy Karin hanya terkekeh pelan melihat keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hampir jam 6 sore, Rayden dan Aresha baru tiba di rumah utama keluarga Dude. Mommy Anna segera memeluk anaknya dengan sangat erat, menciumi wajah Aresha sampai Aresha kegelian.


"Mom, aku bukan anak kecil lagi," rengek Aresha.


Malam itu Aresha benar-benar dikuasai oleh daddy Alam dan mommy Anna. Rayden tidak terlalu bersedih, untunglah mereka sudah menghabiskan banyak waktu bersama ketika berada di rumah Uncle Niel tadi siang.


Setelah makan malam bersama, mereka semua duduk di ruang tengah. Aresha diapit oleh ayah dan ibunya. Menyaksikan pemberitaan di televisi tentang keluarga mereka sendiri. Tentang keluarga Thomson yang namanya benar-benar hancur.


Tapi mommy Anna tidak langsung menjawabi pertanyaan sang anak, dia lebih dulu mengelus lembut tangan Aresha. Seolah ingin menenangkan sang anak dari semua emosi yang ada di dalam hatinya.


"Kabar terakhir yang mommy dengar, sidang pertama mulai tanggal 16 bulan ini. Tapi kondisi Maura semakin memprihatinkan, dia tidak mau makan dan jatuh sakit. Luka di tubuhnya pun semakin parah karena Maura tidak mau mendapatkan penanganan."


Mendengar penjelasan ibunya itu seketika Aresha menelan ludah dengan kasar. Entah lah, antara iba dan pembalasan yang setimpal seolah sedang beradu mengganggu pikirannya.


Sampai tengah malam, Aresha bahkan masih teringat ucapan ibunya itu. Perasaannya yang tak tenang, membuatnya ingin tahu lebih.

__ADS_1


"Kak," panggil Aresha lirih, dia berada di dalam dekapan sang suami.


"Kenapa Honey? kamu masih memikirkan Maura?"


Aresha mengangguk kecil.


"Bagaimana jika malam ini kita pergi ke penjara? aku ingin melihat langsung keadaan wanita itu," ucap Aresha. Sontak membuat Rayden terkejut.


"Tapi Maura tidak bisa dikunjungi oleh siapapun Honey, dia bisa melukai orang lain. Begitukan kata mommy Anna?" balas Rayden pula, menjawab dengan memberi pertanyaan. Dia bahkan sedikit melerai pelukan mereka dan menatap sang istri dengan tatapan tak percaya.


"Kita menyamar saja jadi polisi penjaga sel tahanan."


Ha? Rayden tercengang, istrinya ini suka sekali membuat dapat serangan jantung.


"Kak Rayden tidak mau ikut? Apa aku harus pergi sendiri?"


Rayden kehabisan kata-kata, Aresha pintar sekali bersilat lidah sampai membuatnya tak bisa menolak.


Sampai akhirnya, meski sedikit terpaksa, Rayden pun menyetujuinya. Dia tidak mau tiba-tiba Aresha pergi bersama Kris.

__ADS_1


"Baiklah! ayo pergi!"


__ADS_2