
Dengan perasaannya yang sangat geram Rafaela mengambil beberapa foto dari layar monitor CCTV di ruang adiministrasi bagian Fisioterapi. Niatnya ingin ikut bergabung dengan Disha dan membantu Rayden terapi, tapi dia malah mendapatkan adegan tak senonoh itu di depan matanya.
Melewati ruang administrasi dia mendengar beberapa perawat wanita berteriak histeris, Rafaela pun menghampiri dan alangkah terkejutnya ketika dia melihat Rayden dan Disha berciuman melalui monitor CCTV di sana.
Tidak ingin kehilangan barang bukti, Rafaela pun dengan segera mengambil foto itu meski menahan kekesalan luar biasa di dalam hatinya.
Setelah ini riwayatnya benar-benar habis Disha. Mana ada Seorang perawat yang menggoda pasiennya sendiri, menjijikkan, jalaang tidak tahu diri. Geram Rafaela tak habis-habis.
Setelah berhasil mendapatkan beberapa foto dia putuskan untuk langsung pergi dari sana, tujuannya kini hanyalah satu, mendatangi ruangan sang Direktur Utama dan langsung melaporkan tentang hal ini.
Namun langkahnya harus terhenti ketika sekretaris dokter Anna mengatakan jika hari ini dokter Anna tidak masuk.
"Hais, kenapa dokter Anna tidak masuk sih! dan aku harus menunggu besok untuk menyampaikan tentang hal ini secara langsung!" gerutu Rafaela, dia menghentakkan salah satu kakinya ke lantai, tanda kekesalannya.
Menggenggam ponselnya sendiri dengan sangat kuat seolah dia harus menjaga bukti ini dengan baik.
Hari bergulir.
Berita tentang kecelakaan berdarah di depan rumah sakit Medistra masih menguasai media, namun desas-desus pimpinan rumah sakit itu akan menghadiri konferensi pers pihak Kepolisian semakin menarik perhatian semua orang.
Kemunculan Anna Dude, akan menjadi pemberitaan tersendiri.
Tepat di jam 09.00 pagi saat konferensi pers itu diadakan semua orang pun telah terduduk di depan layar televisi.
Gilian Dominic ikut melihat konferensi pers itu, melihat keterlibatan suaminya dalam kasus ini.
Seluruh karyawan rumah sakit Medistra yang lepas jaga pun tak ingin ketinggalan berita, termasuk Aresha dan Rayden di dalam ruangannya.
Seluruh rekan dan kolega keluarga Dude dan Walker yang ikut prihatin pun ikut menyaksikan berita itu.
"Kecelakaan terjadi saat waktu menunjukkan pukul 08.39 pagi. Kecelakaan itu menewaskan 2 orang, Benedick Thomson dan Tamara Claire, hubungan keduaanya adalah kakek dan cucu. Sementara supir truk belum ditemukan hingga kini."
Anna dan Alam yang hadir disana saling menggenggam erat di bawah meja, saling memberi kekuatan.
"Sebelum kecelakaan itu terjadi, Ben dan Tamara telah merencanakan pembunuhan pada putri satu-satunya keluarga Dude, Aresha Dude atau yang selama ini dikenal sebagai salah satu perawat di rumah sakit Medistra, yaitu perawat Disha,"
"Benedick Thomson juga adalah tersangka utama tewasnya seluruh keluarga Walker pada kecelakaan 30 tahun silam, dalam kecelakaan itu hanya 1 keluarga Walker yang selamat, yaitu Anna Walker, motif pembunuhan itu adalah untuk menguasai kepemilikan Rumah sakit Medistra. Karena gagal, Ben memasukan anaknya bernama Maura Thomson ke rumah itu. Tapi lagi-lagi gagal dan membuat Maura dipecat secara tidak hormat dan masuk rumah sakit jiwa,"
"Namun ternyata niat jahat keluarga Thomson belum usai, Maura memanipulasi data dan ternyata gilanya hanya pura-pura. Maura menikah dibawah tangan dengan pemilik rumah sakit jiwa itu, Ron Dominic untuk mendapatkan kekuatan membalaskan dendam, Ben yang jadi buronan pun melakukan operasi wajah hingga jati dirinya tak dikenali,"
"Ron Dominic mendukung penuh tindak kejahatan itu, dia memberi semua fasilitas."
Bukan hanya satu atau dua orang yang tercengang saat mendengar konferensi pers itu. sebagian bahkan sampai tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata.
Rafaela bahkan bahkan tubuhnya sampai terhuyung, andai tidak berpegang pada dinding di sampingnya pasti dia akan jatuh.
Gilian Dominic hanya membuang nafasnya dengan kasar, tentang Ron akan benar-benar dia lepas dari hidupnya.
Sementara Anna sudah menangis di dalam dekapan sang suami. Mendengar tabir masa lalunya dibuka satu per satu secara langsung.
Di ruang VIP 001 rumah sakit Medistra, Aresha pun menghembuskan nafasnya lega, kini dia benar-benar hidup sebagai Aresha, bukan lagi Disha.
Rayden kemudian memeluk sang istri dari samping, mereka tengah sama-sama duduk di sofa dan menyaksikan siaran televisi itu.
"Honey," panggil Rayden lirih, dagunya bersandar pada pundak sang istri.
"Welcome home," ucap Rayden lagi, 2 kata namun banyak arti di dalamnya. Dia pun semakin memeluk Aresha erat, tidak mau lagi kehilangan wanita yang sangat dia cintai.
__ADS_1
Aresha tersenyum, saat dia menoleh Rayden dengan segera mencium bibirnya dengan lembut.
2 jam berlalu dan konferensi pers itu pun usai.
Anna dam Alam akan membuat pengumuman resmi status anaknya di Rumah Sakit Medistra, namun sebelum itu mereka berdua akan menemui maura di rumah sakit jiwa Golden Dominic.
Menempuh perjalanan hingga nyaris 30 menit dan akhirnya mereka berdua tiba di rumah sakit jiwa itu.
Gilian menyambut kedatangan keduanya dengan tangan terbuka. Dia bahkan menundukkan kepalanya memohon maaf, karena bertahun-tahun menampung wanita laknat itu.
Anna menyentuh lengan Gilian dan menggelengkan kepalanya pelan, dia tahu inu juga tidak mudah bagi Gilian.
"Ini juga tidak mudah bagi anda Nyonya, setelah ini pihak kepolisian akan menjemput Maura," terang Anna dan Gilian menganggukkan kepalanya.
Setelah pertemuan singkat itu, Gilian pun mengantarkan Anna ke ruang perawatan Maura yang baru. Ruangan paling buruk di rumah sakit jiwa ini.
Anna menemui Maura seorang diri, tidak bersama Alam.
Dan disinilah kini Anna berdiri, di samping ranjang Maura yang kedua tangannya diborgol. Maura terus coba membunuh dirinya sendiri, hingga tak ada pilihan lain selain memborgol tangannya.
"Puas melihatku seperti ini?" tanya Maura, lirih namun dengan bibir yang tersenyum menyeringai. sekujur tubuhnya telah penuh dengan luka, perih. Namun tetap saja dadanya adalah yang paling sakit. Sesak menahan amarah yang tak terluapkan dan menahan malu atas kekalahan ini.
Karena pada akhirnya dia malah membunuh anaknya sendiri.
Anna menarik kursi dan memilih duduk disana. Dia belum bicara apapun, hanya melihat tubuh Maura yang mengenaskan.
Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mau hidup berselimut dendam. Anna sudah lelah, sangat lelah dan ingin mengakhiri semuanya.
"Kita sudah tua Maura, tidakkah kamu ingin memperbaiki hubungan ini?" tanya Anna.
"Berdamai kata mu? aku hanya bisa damai jika hidupmu hancur!" pekik Maura pula. Dia tidak sudi mendapatkan belas kasihan dari Anna. Dia tak sudi berdamai pada wanita yanh telah membuat anak dan ayahnya meninggal.
Maura menangis, namun dia tetap menatap tajam kepada Anna. Wanita yang sangat-sangat dia benci.
"Bukannya kita sudah impas, keluarga ku tak ada satupun yang tersisa, dan kamu pun begitu_"
"Tidak!" potong Maura dengan cepat, "Kamu masih punya Alam dan anak mu, berhenti bicara omong kosong tentang berdamai, kamu hanya ingin menertawakan aku kan? Hah?!" bentak Maura pula.
Namun Anna hanys bergeming, tetap tenang di tempatnya duduk.
Makin dia lihat kemarahan di raut wajah Maura, makin dia merasa iba. Anna sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan. Betap kosongnya hati ini. Seolah dia hidup tapi selalu merasa sendirian.
Rindu yang menggebu, namun tak ada raga yanh bisa dia peluk untuk menumpahkan semua rasa itu.
"Selamanya, selamanya aku tidak akan pernah sudi untuk berdamai dengan mu! bunuh saja aku! BUNUH SAJA AKU!!"
"Kamu mau mati?"
"Ya! Aku mau mati Anna! BUNUH AKU!" Teriak Maura, tubuhnya berontak coba terlepas dari semua besi yang membelenggu tubuhnya, namun dia tidak berhasil melakukan apapun, tubuhnya masih saja berada di atas ranjang itu. Sementara tangisnya makin menjadi-jadi.
Sesaat, di ruang sepi itu hanya terdengar suara tangisan Maura yang meraung-raung. Semenyara Anna hanya diam.
Di ujung sana Alam yang melihat pemandangan itu hanya mampu membuang nafasnya kasar. Dia memilih untuk pergi dab tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya. Alam bukannya iba kepada Maura, tapi dia malah merasa sangat membenci wanita itu.
Semua sikap, segala ucapan, tak ada satu pun lagi yang Alam percaya. Bahkan tangis itu pun, Alam yakin hanya sandiwara.
"Kalau kamu ingin bunuh diri, lalukan dengan sungguh-sungguh. Sekarang aku sudah puas melihat mu," ucap Anna, sebuah ucapan yang seketika membuat tangis Maura mereda. Dia menatap Anna dengan tatapan meremehkan ...
__ADS_1
"Puas? apa yang membuatmu puas? melihat ku tertawa seperti ini? hahahaha, jadi putrimu Disha? gadis cupu itu? cupu tapi pintar juga menggoda Rayden." Pancing Maura, dia akan terus memancing kemarahan Anna. Dia akan membuat Anna lah yang akan membunuhnya, jadi saat dia mati, Maura masih terus menyisahkan hukuman pada wanita ini.
"Anak dan ibu ternyata sama saja ya, jadi penggoda, hahahaha," tawa Maura pecah.
Namun tawa itu langsung hilang saat dia pun mendengar Anna ikut tertawa.
"Dari dulu kamu memang tidak berubah Maura, tetap saja jadi bodoh," balas Anna.
"Sebentar lagi pihak kepolisian akan menjemputmu, lebih baik sekarang kamu mulai pura-pura gila lagi, karena kalau kamu waras, mereka akan langsung menembak mu tepat di tengah kepala," timpal Anna.
DOR! Ucapnya lagi, sambil membuat gerakan seolah menembak kepalanya sendiri.
"ARGHT! Kurang ajar! Kurang ajar!!" Pekik Maura. Pergerakkannya semakin brutal saja, dia ingin lepas dan segera mencekik Anna, namun sayang, semua usahanya tidak pernah membuahkan hasil. karena Sekuat apapun dia mencoba, borgol itu tak pernah terlepas dari tangannya.
Anna mundur 1 langkah, semakin menatap Maura dengan tatapan yang iba.
Andai waktu bisa diputar, Anna ingin sekali memperbaiki masa lalu. tentang hubungannya dengan Maura.
"Aku pamit," ucap Anna, bicaranya Terdengar sangat lembut. seperti sedang bicara dengan teman lama.
Tapi Maura tidak menanggapi ucapan itu. Dia hanya menangis dan berlinang air matanya sendiri.
Anna keluar dari sana, terus melangkah hingga tidak lagi mampu mendengar suara tangisan Maura.
Di ujung koridor dia melihat sang suami yang sudah menunggu.
Sebuah pelukan Alam berikan ketika sang istri sudah berdiri di hadapannya.
"Semuanya baik-baik saja?" Tanya Alam dan Anna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ya, semuanya baik-baik saja. Tentang Maura, biarlah kini hukum yang menangani.
"Ayo pulang," ajak Alam dan lagi-lagi Anna mengangguk.
Pulangnya mereka bukanlah rumah yang dituju, melainkan Rumah Sakit Medistra. Rapat umum akan digelar untuk seluruh karyawan rumah sakit Medistra.
Semua orang harap-harap cemas untuk mengikuti rapat itu. seluruhnya rata-rata tak pernah menyangka jika perawat Disha adalah Putri satu-satunya keluarga Dude, Aresha Dude ya selama ini telah dikabarkan meninggal dunia.
Tepat jam 2 siang, ruang rapat Utama Rumah Sakit Mediatra telah dipenuhi oleh seluruh karyawan. dan yang paling cemas ketika mengikuti rapat itu adalah Rafaela dan Dena.
wajah keduanya terlihat sangat pucat. Tiap detik yang berlalu seolah semakin mendekatkan mereka pada kehancuran karir di rumah sakit ini. Terlebih keduanya masih mengingat dengan jelas Bagaimana perlakuan mereka terhadap perawat Disha selama ini.
Deg! jantung Rafaela berdegub kencang, kedua matanya pun mendelik saat melihat dokter Anna memasuki ruang rapat. Dokter Anna tidak datang sendirian, dia didampingi oleh sang suami dan juga asisten pribadi. Kemudian disusul pula oleh perawat Disha yang mendorong kursi roda milik sang tuan muda Rayden.
Astaga, tidak, tidak mungkin ini semua benar. ini pasti hanya mimpi. tidak mungkin Disha adalah Aresha, bagaimana bisa? batin Rafaela, terus menolak apa saja yang kini telah dia saksikan di depan mata.
Ruang rapat seketika hening dan hanya terdengar suara asisten pribadi dokter Anna-asisten Deril.
"Semua berita yang telah beredar tentang status perawat Disha adalah Benar. Perawat Disha memanglah putri satu-satunya keluarga Dude, beliau adalah Aresha Dude." terang Deril dengan sangat lantang, jelas di dengar oleh semua orang di dalam ruang rapat itu.
Rafaela sesak, seketika dia kesulitan bernafas setelah mendengar semuanya. Deru nafasnya pun bahkan terdengar memburu, seolah baru saja dia telah berlari jarak jauh, padahal Rafaela hanya duduk di ruang rapat itu.
Dan Setelah Deril bicara, kini Anna mengambil alih mic di depan sana.
"Disha adalah Aresha, dia adalah putriku, bukan seorang perawat bedah yang selama ini kalian tahu, Aresha sesunguhnya adalah seorang dokter bedah. Kasus yang selama ini aku tangani, sebenarnya Aresha lah yang memimpin. Setelah ini Aresha tidak akan lagi jadi bagian dari perawat, dia akan menjadi dokter bedah utama rumah sakit Medistra."
Terkejut semua orang dibuatnya, tak terkecuali Rayden yang duduk di kursi rodanya. Seketika ingatannya berputar pada setengah sadarnya saat koma. Seorang gadis yang menerapkan teknik akupuntur saat itu.
Ternyata dia memanglah bukan dokter Anna sesuai keyakinannya, ternyata itu adalah Aresha, istrinya sendiri.
__ADS_1