
Kris turun di salah satu gang, sementara Aresha dan Sam tetap bersama menuju Rumah Sakit Medistra.
Tiba di depan rumah sakit itu Aresha turun, Sam kembali melajukan mobilnya seorang diri.
Dengan tatapan kosongnya, Aresha terus melangkah. Dia bahkan butuh waktu lebih lama untuk tiba di ruangan sang suami.
Sementara Rayden sudah menunggu sejak tadi dengan tidak sabar.
Sore tadi Tamara datang kesini, namun Rayden tidak membukakan pintu untuk wanita itu, memerintahkan seorang perawat untuk mengatakan pada Tamara jika dia sedang tidak ingin diganggu.
Tamara tentu merasa kesal, namun dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa.
"Honey," panggil Rayden saat saat sang istri baru nampak di ambang pintu.
Aresha dengan segera menutup pintu itu dan menguncinya.
Ketidakberdayaan ini membuat Rayden benar-benar merasa tersiksa. Bahkan untuk berlari dan memeluk istrinya sendiri pun dia tidak mampu. Rayden hanya bisa menunggu, istrinya itu pulang.
"Kak Rayden," balas Aresha lirih.
__ADS_1
Sam juga ada disana dan duduk di sofa, pilih menatap layar leptop di hadapannya daripada melihat sepasang suami istri itu. Dia tahu, kini sang tuan dan Nyonya sedang dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Namun Sam tidak bisa pergi dari sini. Dia mendapatkan beberapa tugas dari Darco, menunggu suara ******* Maura dan Ron berakhir dan berganti jadi pembicaraan yang mereka butuhkan.
Aresha segera merunduk dan memeluk sang suami erat, mencari ketenangan dari aroma tubuh sang suami.
"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Rayden, bicara pelan karena kini telinga sang istri berada tak jauh darinya.
"Aku benci sekali kak, aku sudah tidak sabar melihat penderitaan mereka." Aresha menangis, kebencian yang begutu besar ini membuat dadanya sesak, membuatnya menangis tak bisa di tahan.
"Tenanglah Honey, sebelum Ben ditemukan kita jangan gegabah. Bisa saja Ben berada dekat dengan kita, sama seperti Tamara yang ternyata musuh di dekat Ku."
Aresha mengangguk, membenarkan pula ucapan sang suami. Kali ini dia tidak boleh kalah, kali ini dia tidak akan melepaskan semua kelurga Thomson.
Aresha telah membersihkan tubuhnya dan kini sedang menyantap makan malam dengan sang suami. Sam juga ikut, namun telinganya terpasang headset yang tersambung ke leptop, apalagi jika bukan mendengarkan suara Maura dan Ron.
'Apa kamu sadar Maura, bukan Jill san Andrew yang datang ke ruangan mu tadi.'
Mendengar pembicaraan itu, Sam dengan cepat mencabut kabel headset dan membuat suara Ron pun terdengar oleh Rayden dan Aresha.
Ketiganya sontak menghentikan semua pergerakan, bahkan mulut yang penuh dsngan makanan pun seketika berhenti mengunyah.
__ADS_1
Alat penyadap itu berkerja dengan baik, sepertinya Ron dan Maura tidak menyadarinya. Lagipula bagaimana bisa tahu, jika dilihat pun alat itu tidak bisa.
'Apa maksud mu sayang? jelas-jelas tadi adalah Jill dan Andrew, juga Dokter Gemi.'
'Bukan, mereka orang lain, ku rasa mereka adalah anak buah Alam."
Maura terdiam, mendengar nama pria itu selalu mampu membuat hatinya berdenyut nyeri.
'Ku rasa dugaan kita selama ini memang benar Maura, Putri keluarga itu masih hidup,' ucap Ron lagi.
'Kalau begitu aku harus mengatakannya pada Daddy, biar daddy yang bergerak untuk mengawasi lebih dekat.'
'Maura, jangan lupakan perjanjian kita jika ini semua telah berakhir.'
'Tidak Ron, selamanya aku akan jadi budak mu, asalkan semua dendamku terbalas pada keluarga itu.'
'Tentu saja, uang ku lebih dari cukup untuk bisa kamu pakai sayang.'
Aresha, Rayden dan Sam mendengar semua pembicaraan itu.
__ADS_1
Dan Aresha adalah yang paling kuat mengepalkan kedua tangannya.