
Beberapa jam yang lalu.
Setelah keluar dari ruangan Rayden, Disha dengan segera melihat ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Darco, dan hanya berisi satu kata nama dari pria itu.
Darco.
Deg! membaca itu membuat Disha tersentak. Jantungnya berpompa dengan cepat, kembali cemas jika Rayden mengenal nama pria ini.
Tidak, tidak mungkin pria itu mengenal Darco. batin Disha mencoba yakin.
Dengan langkah lebar dia meninggalkan tempat itu, dengan segera menuju ruangannya sendiri. Menguncinya rapat dan segera menghubungi nomor milik Darco.
Panggilannya ditolak, namun kemudian Darco langsung menghubunginya kembali.
"Sayang, maafkan aku tentang kemarin, aku sedang pusing," ucap Darco, bicara dengan suaranya yang lembut dan nada mengeluh. Pria itu padahal sangat dingin dan memiliki tatapan tajam, tubuhnya kekar mengisyaratkan kekuatan yang besar.
Namun di hadapan Disha, dia seperti seorang pria yang lemah. Gadis berkacamata itu sudah seperti anak perempuannya sendiri.
__ADS_1
"Kris sudah menjelaskan padaku apa yang terjadi."
"Hem, dan Kris juga mengatakan padaku tentang Lisa yang dikirim ke rumah kedua orang tuamu. Tenanglah sayang, aku juga akan terus berusaha untuk mencari siapa dalang dari kasus ini." terang Darco, tentang Carter dan Dark VIP masih dia rahasiakan dari Disha, sebelum Darco menemukan data pasti tentang Rayden Carter itu dia tak akan mengatakan apapun pada sang anak. Tak ingin Disha jadi semakin banyak pikiran.
"Terima kasih Darc."
Panggilan telepon mereka terputus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf Tuan, tapi saya juga harus memeriksa keadaan Tuan Rayden," ucap Dara, bicara sesuai tanggung jawab yang dia emban.
"Siang ini tidak perlu ada pemeriksaan, tuan Rayden tidak ingin bertemu dengan siapapun. Lakukan saat pemeriksaan malam hari saja," tolak penjaga itu dengan tegas, bahkan langsung mengambil nampan makan siang dari tangan Dara.
Dara tak bisa membantah lagi, dia hanya bisa pergi dari sana tanpa sempat masuk ke ruangan itu sedikit pun.
Merasa heran, Dara pun menemui Disha untuk membicarakan tentang hal ini. Pikirnya mungkin Disha tahu tentang sesuatu.
__ADS_1
Tiba di ruangan Disha, Dara langsung menceritakan semua yang terjadi. Dan mendengar itu Disha pun mengerutkan dahinya.
"Tidak, Aku tidak tahu apapun, tadi pagi semuanya masih baik-baik saja," jawab Disha setelah Dara selesai bercerita.
"Siang sampai sore ini tuan Rayden tidak menerima tamu siapapun, tentang pemeriksaan bahkan hanya boleh dilakukan ketika hari sudah malam," terang Dara lagi, makin membuat Disha bingung. jadi kembali bertanya-tanya, Ada apa sebenarnya?
"Ya sudah, biarkan saja seperti itu, mungkin tuan Rayden memang butuh waktu istirahat," terang Disha dan Dara pun menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
Setelah Dara keluar dari ruangannya, Disha dengan segera mengambil leptop di salah satu laci. Memasang sebuah kabel USB panjang yang terhubung ke saluran CCTV di ruangannya.
Jari-jari Disha bergerak cepat di atas keyboard leptop itu, sampai akhirnya dia bisa melihat keadaan di ruangan Rayden melalui layar leptopnya, gadis berkacamata itu menyadap keamanan CCTV rumah sakit ini.
Tatapannya intens, melihat apa yang terjadi di ruangan sang Tuan muda.
Ada Rayden yang berbaring di atas ranjang, kemudian Sam berdiri disampingnya dan satu lagi, Disha tidak bisa melihat wajahnya. Karena pria itu memunggungi kamera CCTV.
"Siapa dia?"
__ADS_1