My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 46 - Pelindungku?


__ADS_3

"Kamu tidak mau?" tanya Rayden dengan sorot mata yang nampak kecewa. Jadi sayu, bahkan Disha bisa melihat saat sang Tuan Muda membuang nafasnya dengan kasar.


"Bukan seperti itu Tuan, hanya saja_"


"Tidak Mau, hanya itu, jangan mencari alasan. Padahal aku hanya ingin tidur, aku butuh kenyamanan, kamu paling tahu selama ini keluarga tidak pernah datang," jelas Rayden panjang lebar dan makin membuat Disha tersudut. Tentang keluarga Carter yang tidak pernah datang itu memanglah benar, Disha dan yang lainnya pun heran. Merasa iba pula karena Rayden seperti tuan muda yang terbuang.


Namun sebenarnya Rayden malah menyukai akan hal itu, dia tidak perlu melihat wajah ayahnya yang pemaksa dan ibunya yang berwajah sendu yang selalu membuatnya tidak tega.


Rayden memalingkan wajahnya, seolah menyembunyikan kesedihan.


Dan saat itu runtuh sudah pertahan Disha atas pikirannya yang masuk akal, kini pun duduk di kursi itu dan menggenggam tangan Rayden.


Sentuhan kecil namun berhasil membuat tubuh keduanya seperti tersengat listrik.


Deg!


Jantung mereka pun sama-sama berdenyut sesaat. Seolah ada rasa yang diam-diam menyelip masuk ke hati mereka masing-masing.


Disha pun tak menyangka jika rasa berdesir seperti ini akan dia rasa, padahal dalam benaknya dia hanya menganggap Rayden sebagai pasien.

__ADS_1


Sementara Rayden yang merasakan getaran itu, dengan segera menggenggam erat tangan Disha, bahkan menautkan jemari mereka. Dia menutup matanya dan semakin mendalami perasaan itu. Makin dia selami hatinya sendiri.


Kenyamanan yang benar-benar nyata ketika dua menggenggam Disha.


Saking nyamannya Rayden bahkan memeluk tangan itu, membuat tubuh Disha bergerak jadi semakin dekat.


Namun Disha tak bisa buka suara, karena Rayden sudah menutup mata.


Terus seperti itu sampai Disha mendengar suara dengkuran halus dari Rayden. Gadis berkacamata itu mulai mengangkat wajahnya dan menatap Rayden yang sudah terlelap, namun pelukan pada tangannya masih terasa cukup kuat.


Disha menatap lekat wajah pria itu, dia pindai wajah Rayden satu per satu. Ini adalah kali pertama Disha memandang Rayden seintens ini.


"Aresha," gumam Rayden tanpa sadar.


Dan satu kata itu mampu Disha dengar dengan jelas.


Deg! seketika jantung Disha tersengat, seperti ribuan jarum menurun jantungnya secara bersamaan.


Nama itu, bagaimana bisa keluar dari dalam mulut Rayden.

__ADS_1


Tidak, aku tidak salah dengar kan? dia menyebut namaku? Aresha, benarkan? batin Disha, kini dia mulai tidak tenang.


Disha berniat menggoncang tubuh pria itu, berniat untuk membangunkannya dan memperjelas ini semua. Namun niatnya urung ketika dia menyadari satu hal.


Di dunia ini tak ada satupun orang yang boleh dia percaya.


Siapa yang tau Rayden ada dipihak siapa?


Bagaimana jika dugaan awalnya adalah benar, jika Rayden terlibat dalam rencana pembunuhan itu.


Disha kembali gamang, perlahan dia menarik tangannya mencoba lepas.


Namun dengan cepat Rayden menahan.


"Jangan tinggalkan aku Sha, jangan lagi," gumam Rayden tanpa sadar, dan mendengar gumaman kedua Rayden itu, kini membuat Disha merasakan satu hal. Hatinya berdebar bukan karena merasa terancam, namun karena dia merasa nyaman.


Kancing Jas yang disimpan mama mungkin adalah bukti bahwa keluarga kami saling mengenal, Carter dan Dude.


Dan Rayden bukanlah musuh, mungkinkah dia pelindungku?

__ADS_1


__ADS_2