My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 51 - Hahaha


__ADS_3

Setelah kepergian Anna dan Alam, Rayden dan Sam saling pandang seolah sama-sama merasa aneh dengan kedatangan 2 orang itu kesini untuk melihat keadaan Disha.


Sepertinya Disha terlalu biasa saja untuk diperlakukan spesial seperti itu.


Rasanya hanya mungkin terjadi jika Disha adalah Aresha. Sampai-sampai dokter Alam pun mau datang kesini hanya demi seorang perawat biasa, bukan dokter jenius.


Diantara kedua pria itu akhirnya Sam lah yang lebih dulu buka suara, kembali bertanya tentang pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban.


"Maaf Tuan, apa yang sebelumnya terjadi sebelum perawat Disha jatuh pingsan?"


"Aku memanggilnya dengan sebutan Aresha, lalu dia pusing dan jatuh pingsan. Apa menurut mu yang terjadi jika seperti itu?"


Sam terdiam, berpikir sejenak sebelum menjawab. Kembali nenerka-nerka hal yang paling masuk akal sebagi jawaban.


"Perawat Disha merasa pusing sesaat setelah anda panggil dengan nama Aresha?"


Rayden mengangguk.


"Kenapa dia harus pusing kalau tidak mengenal nama itu?"


"Berarti boleh pusing kalau mengenalnya?" tanya balik Rayden dan Sam mengangguk.


"Kalau dia kenal kenapa harus pusing, seolah dia lupa." terang Rayden pula.


Namun kata Lupa itu seketika membuat Rayden dan Sam mendelik.


"Apa dia tidak mengingat ku? sedikit saja?"


"Cukup Tuan, saya pusing juga, lagipula belum tentu jika perawat Disha adalah Aresha. Kita hentikan ini semua sekarang, dan tunggu hasil tes DNA itu 2 hari lagi," putus Sam, jadi pusing sendiri menerka-nerka sesuatu yang tidak pasti, menyambungkan banyak benang tanpa tau mana yang asli.


Rayden setuju, dia pun jadi pusing juga jika diteruskan.


Rayden kemudian memerintahkan Sam untuk keluar. Terserah pergi kemana, namun sore ini dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Disha.


Setelah Sam keluar, Rayden merubah posisi tidurnya hingga menghadap ke arah Disha.

__ADS_1


Sha?


Aresha?


Panggil Rayden dalam hatinya, terus seperti itu sampai waktu berjalan cukup lama. Sampai sore tenggelam dan jadi malam.


Disha telah sadar.


Perlahan dia membuka kedua matanya dan melihat langit-langit kamar ini. Seketika kembali teringat hal yang membuatnya jatuh pingsan.


Tentang Rayden yang memanggilnya Aresha dan tentang suara panggilan itu yang seperti pernah dia rasakan di masa lalu.


Aku harus menghubungi Darco. Batin Disha. Dia berfikir bahwa ingatan yang dihapus oleh keluarganya adalah tentang Rayden.


Namun seketika lamunannya itu buyar ketika sebuah suara memanggilnya dengan lembut ...


"Sha."


Deg! Disha tersentak, ragu-ragu menoleh ke sisi kanan dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Rayden berbaring di sampingnya.


"Tuan!" ucap Disha, buru-buru dia ingin bangun dan menjauh, namun Rayden pun bergerak cepat untuk menahannya. Rayden jadi memeluk tubuh Disha dengan kepalanya yang bertumpu pada tangan kiri.


"Tuan!"


Disha menurut, melihat tangan kirinya yang sudah dipasang infus.


"Pasien dilarang banyak bergerak, jadi tetaplah tidur disini."


"Tapi Tuan_"


"Jangan membantah, tetap berada di atas ranjang."


"Tapi Tuan_"


"Diamlah, aku tidak akan berbuat lebih dari ini andai kamu menurut."

__ADS_1


"Memangnya Tuan mau melakukan apa andai saya memberontak."


"Pintu sudah dikunci oleh Sam, aku bisa melakukan apapun."


"Jangan lupakan tentang kaki anda, meski tanganku di infus tapi aku punya lebih banyak kekuatan."


"Tapi pria yang sudah bertekad bisa melakukan apapun."


Deg! Disha menelan ludah.


"Tuan, saya ingin turun. Maafkan saya karena tidur disini."


"Tidak perlu meminta maaf, aku mengizinkannya."


"Tapi Tuan ..." Disha menjeda ucapannya. memikirkan harus bicara apa lagi, karena sejak tadi ucapannya selalu dibalas.


Sementara Rayden semakin menatap lekat Disha, masih di posisi yang sama, dengan satu tangannya yang memeluk pinggang gadis berkacamata ini.


"Sha," panggil Rayden dengan begitu lembut. Posisi yang sangat intim ini membuat Disha tidak bisa berpikir jernih.


Terlebih saat Rayden terus mengikis jarak, seolah ingin menjangkau sesuatu dari wajah Disha.


"Aku baru ingat, tidur disini tidak gratis, bayar dengan ini."


Cup!


Sebuah ciuman jatuh di pipi Disha. Membuat Rayden mendelik dan langsung mengangkat wajahnya kembali, sumpah, tadi dia mengincar bibir Disha, tapi gadis ini malah dengan cepat menoleh hingga yang terkena adalah pipinya.


"Tuan!"


"Kenapa menoleh? jadi gagal ciuman pertamaku."


"Itu juga ciuman pertama saya TUAN!!!"


"Benarkah?"

__ADS_1


"IYA!!"


"Hahahahaha!"


__ADS_2