
Mommy Jia membawa Aresha untuk masuk ke dalam kamarnya, Aleia pun ikut bersama mereka.
Disana, mommy Jia memasangkan sebuah cincin berlian di jari tengah sang menantu. Karena jari manis Aresha telah diisi oleh cincin pemberian Rayden.
"Mommy dan Aleia, akan menyiapkan pesta pernikahan yang paling mewah untuk mu." terang mommy Jia, bicara dengan hatinya yang merasa haru. Aleia pun menganggukkan kepalanya setuju.
Sementara Aresha hanya mampu tersenyum, tidak tahu mau menjawab apa. Rasa bahagia itu benar-benar memenuhi hatinya.
Cukup lama Aresha dan Rayden di rumah utama keluarga Carter, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah utama keluarga Lincoln.
Siang itu Airin membukakan pintu untuk kedatangan Aresha dan Rayden.
Sakit memang, sedih tentu saja Airin rasakan. Namun dia tersenyum ikut bahagia atas kebahagiaan Rayden dan Aresha.
Rayden pun tak canggung memeluk Airin, seperti adiknya sendiri. Dia kira Aresha akan cemburu, rasanya akan terlihat lucu ketika melihat sang istri cemburu. Tapi ternyata istrinya itu malah tidak menunjukkan reaksi apapun, Aresha biasa saja, bahkan ikut tersenyum lebar seperti senyum yang diukirkan oleh Airin. Membuat Rayden sedikit kesal.
Karena ternyata memang benar-benar dia yang sangat mencintai Aresha, sementara Aresha hanya mencintainya biasa saja.
"Kak Rayden kenapa?" tanya Airin, di sela-sela langkah mereka semakin masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," balas Rayden ketus. Sementara Aresha bingung sendiri, kenapa suaminya jadi ketus seperti itu.
Mereka berdua bertemu dengan uncle Daniel dan Mommy Karin. Bertukar banyak cerita.
"Istirahatlah sebentar di kamar kalian, mommy akan menyiapkan bingkisan untuk kalian bawa pulang," ucap mommy Karin. Dulu Rayden sering sekali menginap di rumah ini. Rayden jadi memiliki kamarnya sendiri, dan karena kini Rayden sudah menikah, maka kamar itu pun menjadi milik Aresha.
"Baik Mom," jawab Rayden patuh. tanpa banyak kata dia bahkan langsung menarik tangan sang istri untuk mengikuti langkahnya. Aresha bahkan sampai tak sempat untuk mengelak.
Semtara uncle Daniel hanya mampu geleng-geleng kepala melihat sikap anak laki-lakinya itu.
"Kak Rayden, pelan-pelan jalannya, Memangnya kaki kak Rayden tidak terasa sakit?" tanya Aresha pula, di antara langkah mereka berdua yang terkesan buru-buru.
"Kakiku benar-benar sudah sembuh Honey? kamu butuh bukti?"
"Ha?" Aresha jadi bingung sendiri ketika mendengar ucapan suaminya itu.
Tiba di dalam kamar Rayden langsung Mengunci pintu kamar, mendorong tubuh sang istri sampai bersandar di balik pintu itu.
"Kak Rayden kenapa sih? dari tadi ku lihat seperti mau marah," tanya Aresha pula, tubuhnya tak bisa bergerak ke mana-mana, karena Rayden menguncinya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Kamu tidak cemburu melihatku dengan Airin?" balas Rayden, menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Cemburu? untuk apa aku harus cemburu?" tanya Aresha pula, kedua matanya melebar seperti anak kucing yang polos.
Dan jawaban Aresha itu benar-benar membuat Rayden marah, geram, gemas sampai ingin memakan istrinya.
"Tidak cemburu?" tanya Rayden sekali lagi dan Aresha hanya mampu menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Kamu harus dihukum," putus Rayden.
"Kok dihukum? Emhh_" Aresha tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena mulutnya sudah lebih dulu dibungkam oleh ciuman sang suami.
Ciuman yang awalnya terasa sangat kasar namun berangsur berubah jadi lembut sampai berhasil meloloskan kata Ahk di mulut Aresha.
Rayden benar-benar membuktikan ucapannya bahwa kakinya telah pulih, di dalam kamar ini akhirnya Rayden memimpin percintaan panas mereka.
Terus menghentak sang istri sang sampai Aresha berulang kali melayang ke nirwana. Sampai suara Ahknya terdengar sangat lirih.
Di lantai 1 rumah itu, mommy Karin bingung sendiri karena sudah sore tapi Rayden dan Aresha tidak keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sudahlah Mom, biarkan saja mereka," ucap Daniel.