
"Anna," lirih Maura, ingatannya kembali berputar berpuluh-puluh tahun yang lalu di saat pertama kali dia bertemu dengan wanita berparas cantik itu. Usianya masih muda dan sangat piawai dalam dunia kedokteran.
Di malam penyambutan Anna bekerja di rumah sakit Medistra, Maura mengingat dengan jelasnya jika saat malam itu Alam terus memperhatikan Anna dengan lekat. Malam itu adalah dimulainya kebencian Maura pada Anna.
Kebencian yang kemudian sampai dia turunkan pada anaknya. Tamara yang sejatinya tidak tau apa-apa namun harus terlibat dalam lingkaran dendam yang dia buat.
Maura menangis, merasakan sesak di dada yang luar biasa.
Andai waktu bisa diputar dia ingin memperbaiki semuanya. Ingin memutus semua dendam dan bisa melihat Tamara hidup bahagia.
Tangis Maura yang pilu sampai terdengar oleh narapidana yang lain. Sangat menganggu.
"Diamlah! yang punya masalah di dunia ini bukan cuma kamu saja!"
"Berhenti menangis atau aku akan memukul mu!!"
Dan karena tangis Maura tidak berhenti, pukulan bertubi pun dia terima.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat jam 8 pagi, Rayden sudah menggandeng sang istri di depan pintu rumah utama keluarganya, keluarga Carter.
Keduanya saling pandang dan sama-sama tersenyum, sebelum akhirnya Rayden mendorong pintu utama itu dan masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Kedatangan keduanya tentu disambut dengan hangat oleh semua keluarga. Karena sebelumnya Sam pun sudah melaporkan tentang kedatangan Rayden dan Aresha pagi ini.
Daddy Alex dan mommy Jia memeluk Aresha erat. Lalu Aleia adik pertama Rayden pun memeluk tak kalah erat pada sang kakak ipar. Aleia menangis, masih tidak menyangka jika Aresha masih hidup.
Alden adik kedua Rayden pun memeluk Aresha juga, teman mainnya dulu.
"Aku sudah menikah, ini istriku Dinda dan ini anak kami Abian." Terang Alden.
Aresha menangis haru, banyak sekali hal yang telah dia lewatkan.
Belum lagi saat bertemu dengan adik kembar Rayden, Aaron dan Arion, suasana kekeluargaan itu benar-benar kental terasa.
Rayden yang diacuhkan pun tetap tersenyum, dia sudah sangat bahagia melihat Aresha akhirnya berkumpul bersama mereka.
Aresha telah dikuasai oleh mommy Jia dan Aleia. Kini Rayden duduk berdua dengan sang ayah di ruang tengah.
"Iya Dad, aku tidak mau memupuk masalah. Aku akan selesaikan semuanya hari ini."
"Kamu sudah menghubungi Uncle Niel sebelum datang."
"Belum, pikir ku langsung saja datang kesana."
"Telepon dulu, jangan buat mereka terkejut. Terlebih untuk Airin, bagaimana pun mereka juga adalah keluarga kita."
__ADS_1
Rayden membuang nafasnya kasar.
Daddy Alex pun melakukan hal yang sama. Meski keluarga Carter dan Lincoln tidak jadi bersatu, namun daddy Alex tetap ingin hubungan mereka terjalin dengan baik.
Tentang Airin dia pun sudah menganggap seperti anak sendiri.
"Baiklah Dad, aku akam telepon Uncle Niel sekarang," jawab Rayden akhirnya.
Setelah mengatakan itu, Rayden pun menjauh dari sana. Mendatangi taman yang ada di samping ruang tengah dan coba menghubungi sang paman.
Di panggilan pertamanya, telepon Rayden langsung mendapatkan jawaban.
"Uncle Niel, nanti aku akan datang ke rumah," ucap Rayden setelah mereka saling bertukar sapa.
"Daddy mu sudah memberi tahu uncle, tentang Aresha uncle juga merasa sangat terkejut," terang uncle Daniel. Dia bahkan langsung mengucapkan turut bahagia atas kebenaran itu.
Rayden tersenyum. Daddy Alex selalu saja seperti itu. Selalu selangkah lebih maju dari pada dia. Bicara seolah uncle Niel akan marah, padahal dia sudah memberi tahu semuanya.
"Tidak Uncle, bukan Aresha yang mencintai aku, tapi aku yang sangat mencintai Aresha," balas Rayden saat uncle Niel menggodanya.
Uncle Daniel tertawa. Seolah semua didikannya selama ini agar Rayden jadi casanova seketika hilang begitu saja. Gagal total, Karena pada akhirnya Rayden lah yang jadi budak cinta.
"Uncle tunggu kedatangan mu."
__ADS_1
"Baik Uncle," balas Rayden dan panggilan mereka pun putus.