My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 41 - Satu-satunya Penentu


__ADS_3

Sambil makan Rayden terus berpikir, otaknya telah bekerja keras seharian ini. Tentang Darco, Disha dan Aresha.


"Buka kacamata mu," titah Rayden, pada gadis berkacamata yang duduk di kursi samping ranjang. Disha memang selalu menunggu Rayden untuk menghabiskan makanannya.


"Kenapa Tuan?" tanya Disha pula dengan kedua matanya yang lebih lebar, seperti anak kucing yang.


"Jangan banyak bertanya, lepas saja."


Disha menurut, dia melepas kacamatanya meski bingung. Namun kebingungan itu membuatnya tak banyak berpikir, tak banyak menduga-duga apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh sang tuan muda.


"Lepas ikat rambut mu," titah Rayden lagi, saat ini rambut Disha terkepang dengan tapi.


"Maaf Tuan, anda sedang makan bagaimana jika nanti saja saya lepas ikatan rambut ini?"


"Apa rambutmu bisa terbang?"


"Tidak."


"Ya sudah lepas sekarang."


"Tapi Tuan."


"Sekarang."


"Memangnya kenapa?"


"Aku ingin lihat."


"Kenapa jadi ingin lihat?"


"Ingin saja, memangnya tidak boleh."


"Stop!" potong Sam tiba-tiba, menginterupsi pembicaraan diantara mereka berdua, Disha dan Rayden. Ah, itu bukan pembicaraan tapi di matanya lebih terlihat seperti perdebatan.

__ADS_1


"Maaf Tuan, kalau anda bicara terus kapan makannya?"


"Dan anda perawat Disha, kalau berdebat terus tuan Rayden kapan selesai makannya, jadi turuti saja tanpa mempersulit apapun."


ucap Samuel, bicara pada kedua orang itu dengan tatapannya yang datar, bicara dengan tegas.


Seketika benar-benar membuat kedua orang itu diam.


Disha yang sedari tadi menatap aneh pada kedua pria ini pun tak lagi banyak bicara. Dengan gerakan pelan dia melepas ikatan rambutnya sendiri, sementara Rayden dan Samuel langsung melirik dengan intens. Memperhatikan dengan rinci tiap pergerakan wanita itu secara diam-diam.


Disha mengurai rambutnya yang terkepang, entah sudah berapa lama tiap hari dia mengepang rambutnya seperti ini, sampai membentuk gelombang yang alami. Ketika rambut itu sudah tergerai, Disha telihat sangat cantik. Layaknya seorang nona muda dari keluarga terhormat.


Deg! Rayden tergugu.


Seperti waktu kembali terulang beberapa tahun silam, disaat semuanya masih baik-baik saja, disaat dia masih mengejar Aresha berlarian di taman.


Tawa gadis itu bahkan seolah berdengung dengan jelas di ingatkan. Seperti kaset rusak yang berulang kali berputar otomatis.


Astaga. Batin Sam, buru-buru dia memalingkan muka. Kembali menatap dinding di ujung sana dengan tatapannya yang datar.


Sementara Disha setelah menggerai rambutnya pun langsung menatap Rayden, melihat pria itu yang asik makan sendiri seolah tidak peduli dengan penampilannya yang seperti ini.


Disha melihat Sam, pria itu sama seperti tuannya. Sibuk sendiri menatap entah apa di depan sana.


15 menit kemudian Rayden telah menghabiskan seluruh makanannya. Disha merapikan itu, karena rambutnya tergerai jadi sedikit menyulitkan, dia harus berulang kali menyelipkan rambut-rambut itu di belakang telinganya.


"Tuan," panggil Disha.


"Apa?"


"Boleh diikat lagi tidak rambutnya? saya risih seperti ini."


"Hem, biar aku yang ikat rambut mu."

__ADS_1


"Tidak perlu Tuan, saya bisa sendiri."


"Aku paling tidak suka penolakan."


"Dan saya paling tidak suka menerima bantuan."


"Hem!" Sam berdehem dengan cukup kuat, seperti sebuah interaksi agar Disha diam.


"Kemarahan dia lebih mengerikan dari pada kemarahan ku, sini," ucap Rayden pula, lalu menarik tangan Disha untuk duduk di tepi ranjang.


Rayden mengikat rambut waktu itu, menghirup aroma wangi dari rambut Disha. Dia tidak bisa mengepang, jadi hanya diikat tinggi seperti ekor kuda.


Setelahnya Disha pun kembali memakai kacamatanya yang bundar.


Lalu pamit dari sana.


"Saya permisi Tuan."


"Hem," jawwb Rayden singkat, namun kini dengan bibir yang tersenyum kecil.


Selepas wanita berkacamata itu pergi dan menutup pintu.


Rayden dan Samuel saling pandang.


"Ini rambutnya, sekarang carilah sampel milik dokter Anna. Setelah itu bawa keluar negeri dan lakukan tes DNA."


"Baik Tuan." jawab Sam patuh.


2 rumah sakit ternama di kota ini adalah milik kelaurga Walker dan Dude. Rumah sakit Medistra dan Rumah Sakit Royal Dude. Dia tidak akan bisa melakukan tes DNA di 2 rumah sakit itu.


Karena itulah Rayden putuskan untuk melakukannya di LN.


Pikirannya tentang Disha dan Aresha sangat menganggu, hanya jalan inilah satu-satunya penentu.

__ADS_1


__ADS_2