My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 71 - Tidak Sempat Berucap


__ADS_3

Disha ke luar dari ruangan sang ibu dengan nafasnya yang masih memburu, sisa-sisa tangisnya masih jelas terlihat.


Dan hal itu makin membuat Rafaela dan Dena berbahagia. Dengan cepat pun mereka menghampiri Si Gadis Cupu itu. Menghentikan langkah Disha dan berdiri menantang.


"Bagaimana? enak dapat teguran?" tanya Rafaela dengan jumawa, mengangkat wajah dengan sombongnya.


Sementara Disha masih sesenggukan, tujuannya kini hanyalah ingin menemui Rayden, ingin memeluk sang suami dengan sangat erat. Meluapkan rindu yang nyaris membuat dadanya pecah.


Lantas tanpa menjawab sepatah katapun, dia segera menerobos barisan Rafaela dan Dena yang menghalau langkahnya.


Rafaela dan Dena sampai terhuyung, nyaris jatuh.


Sedangkan Disha sudah berlari dengan cepat menuju ruang VIP.


"Kurang ajar!" gerutu Rafaela, dia ingin mengejar Disha dan menjambak rambut garis cupu itu, namun dengan cepat langkahnya terhenti ketika lengannya ditahan oleh Dana.


"Cukup Raf," cegah Dena, dia malah menahan tawa.


"Biarkan saja dia pergi, pasti kembali ke ruangannya dan menangis, hahaha," tawa Dena tak bisa ditahan lagi dan saat itu juga akhirnya Rafaela ikut tertawa juga.

__ADS_1


Yang perlu mereka lakukan saat ini hanyalah menunggu, esok hari pasti akan ada pengumuman tentang hukuman yang akan diperoleh oleh Disha. Biasanya akan menjalani bakti sosial secara gratis di salah satu yayasan.


Sementara itu Disha terus mempercepat langkahnya. Berlari menuju ruangan sang suami.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, dia langsung masuk ke dalam sana. Nyaris bertabrakan dengan Sam yang hendak keluar.


"Perawat Disha," ucap Sam, dia sangat terkejut. Lebih terkejut lagi ketika melihat wajah sang Nyonya terlihat habis menangis.


Namun Disha tak peduli sapaan itu, dia melewati begitu saja tubuh Sam dan segera berlari menghampiri sang suami.


Rayden yang saat ini tengah duduk di sofa dengan kaki kanannya yang dibuat lurus dengan alat penyangga.


Sam mendelik, menelan ludah dengan kasar dan segera keluar dari ruangan itu. Mengunci pintu membuatnya tak bisa masuk ke sana lagi, hanya orang-orang di dalam sana lah yang bisa membukanya nanti.


"Hey, ada apa? kenapa menangis?" tanya Rayden pula, dia bingung. Rayden tahu tentang desas desus yang terjadi, tahu pula jika Rafaela membuat aduan resmi dan sang istri dipanggil oleh ibu mertuanya.


Tapi Rayden sungguh tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Sedikit pun dia tidak tahu tentang kedatangan dokter Samantha.


Belum sempat dia bertanya ataupun Disha menjelaskan, namun istrinya itu malah menangis dan memeluknya semakin kuat. Seolah tak ingin kehilangan dia.

__ADS_1


"Honey? apa mommy Anna marah?" tanya Rayden lagi, mengelus punggung sang istri, Disha seperti bayi koala yang memeluk erat induknya.


"Kak Rayden ..." panggil Disha dengan sesenggukan. Susah payah mencoba tenang, dia melerai pelukannya sendiri dan coba menatap sang suami. Wajahnya sudsh basah dengan air mata.


Rayden melepaskan kacamata sang istri dan menghapus air mata itu.


"Kenapa? Mommy Anna memarahi mu?" tanyanya dengan penuh perhatian.


Disha menggeleng.


"Bu-bukan."


"Lalu."


"Aku ... aku mencintai kak Rayden."


Rayden tergugu, mendengar kata cinta itu membuatnya menatap sang istri dengan tatapan tak percaya. Seolah Disha telah menemukan ingatannya yang telah hilang, tentang mereka yang telah terhubung sejak dulu.


Rayden tidak sempat berucap karena Disha sudah lebih dulu menyesapp bibirnya kuat.

__ADS_1


__ADS_2