My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 45 - Tidak Masuk Akal


__ADS_3

Huh! Sam membuang nafasnya dengan perlahan, kemudian mengambil langkah mundur untuk menjauhi semua orang. tidak ingin usahanya dengan sang tuan menjadi sia-sia dia pun dengan segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa disadari oleh siapapun.


Karena disaat Sam mengambil langkah mundur, Rayden dengan segera mengambil perhatian semua orang.


Pura-pura meringis merasakan sakit di bagian kaki, padahal sungguh kakinya berada dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Masih terasa sakit?" tanya dokter Anna dan Rayden menggeleng pelan, menciptakan kesan bahwa dia masih menahan rasa sakit.


Tentang bersandiwara adalah keahlian Rayden pula.


Dokter Anna kemudian melakukan pemeriksaan umum. Dara dan Disha pun bergantian menyampaikan progres kesehatan sang Tuan muda.


Hampir 20 menit pertemuan itu dan akhirnya usai. Dokter Anna dan semua tim 5 keluar, memberi kesempatan Rayden untuk beristirahat.


Dan setelah semua orang keluar, Sam mengunci pintu kamar itu rapat-rapat lalu menghadap pada sang Tuan.


Seketika raut wajah diantara keduanya berubah jadi serius, tak ada sedikitpun gurat raut wajah yang tercetak, keduanya sama-sama menunjukkan wajah yang datar.


"Segera kirim kedua Sampel itu, aku tidak ingin menunggu terlalu lama."


"Baik Tuan."


"Pastikan tidak ada yang mengusik tes DNA itu, minta anak buah Zhack yang pergi dan mengutus semuanya, kamu tetap di rumah sakit ini."

__ADS_1


"Baik Tuan."


Setelahnya Sam pergi, meninggalkan Rayden sendirian disana. Berkubang dalam kenangan yang kembali dia ingat dengan jelas.


"Aresha," gumam Rayden.


"Andai kamu Disha, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya lagi, bicara pada diri sendiri. namun dia pun tak tau jawabannya, semua masih terasa abu-abu.


Kehadiran Disha seolah membuatnya kembali yakin jika Aresha masih hidup.


"Kamu Disha kan?" tanya Rayden pula, seolah bertanya pada Aresha kecil di dalam ingatannya.


Namun Aresha tidak menjawab, malah tertawa sambil berlari menjauhi dia.


Dari dulu kamu memang selalu berlari dari ku Sha. Batin Rayden.


Mencoba terlelap namun dia tidak bisa, lagi-lagi Rayden berakhir dengan membuka kedua matanya.


Dia lantas menggerakkan tangan kanannya naik dan menekan tombol untuk memanggil seorang perawat.


"Kalau yang datang Disha berarti benar dia Aresha," gumam Rayden, karena ingin bersenang-senang dia membuat taruhan itu sendiri. Bersenang-senang dengan pikirannya sendiri.


Tak sampai 5 menit pintu kamarnya terbuka, dia sangat berharap Disha yang datang.

__ADS_1


Dan ternyata ..


Tebakannya ...


Benar!


Sial, ini kebetulan atau apa? Batin Rayden. Dia tetap diam sampai akhirnya Disha berdiri di samping ranjangnya.


"Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Disha pula, seraya menatap Rayden lekat.


"Aku tidak bisa tidur."


"Apa yang ada butuhkan."


"Genggam tangan ku."


Disha terdiam, maksud pertanyaannya bukan bantuan yang seperti itu. Tapi apakah bantal yang Rayden gunakan tidak nyaman? apakah Rayden ingin mengganti spreinya? apa Rayden ingin lampu utama dimatikan dan semua tirai ditutup lalu tidur dalam keadaan yang temaram Atau Rayden ingin minum dulu baru tidur?


Yang seperti itu maksud Disha. bukan seperti apa yang dijawab oleh sang Tuan Muda ini.


"Genggam tangan ku," ucap Rayden lagi, dia bahkan mulai membuka telapak tangan kanannya, ingin Disha segera menggenggam itu.


Sementara Disha masih terpaku, masih merasa permintaan itu tidak masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2