My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 56 - Sampai Terasa Nyata


__ADS_3

Dengan degub jantung yang tidak tenang, Disha mengikuti langkah Sam menuju ruang VIP 001. Ruangan dimana Rayden Carter berada.


"Silahkan masuk perawat Disha, Tuan Rayden hanya ingin bertemu dengan anda berdua, tidak dengan saya," ucap Sam, tepat ketika mereka berhenti di depan pintu ruangan itu.


Disha mendelik, malah jadi semakin takut untuk masuk ke dalam sana. Seperti sedang menghadapi penebusan dosa.


Glek! Disha menelan ludahnya dengan kasar, sampai bisa terlihat gerak di lehernya.


Sam lantas membuka pintu dan membuat Disha tak bisa mundur lagi. Dengan langkah perlahan dia masuk ke dalam sana.


Deg! Disha tergugu ketika sepasang mata Rayden menyambutnya dengan begitu sayu. Tak biasanya dia melihat tatapan seperti itu dari sang tuan muda. Saat itu juga pintu pun kembali tertutup dan menyisahkan mereka berdua di ruangan ini.


Jangan gugup Sha, dia tidak akan sepandai itu untuk menyadari jika alat penyadap itu adalah ulah mu. Ya, aku hanya seorang gadis cupu, aku tidak akan bisa bertindak sejauh itu. Batin Disha, mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak terlalu larut dalam ketakutan.


Disha mendekat, dan tiap gerak yang dia lakukan selalu tak lepas dari tatapan Rayden yang sendu.


"Selamat sore Tuan, tuan Sam mengatakan jika anda ingin bertemu dengan saya, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Disha.


Namun Rayden masih tergugu, masih menatap lekat wajah gadis kecilnya. Rambutnya, kedua matanya, hidung, bibir, pipi hingga wajah keseluruhan.


Suaranya, tubuhnya.

__ADS_1


Gerak matanya, sudut bibir gadis ini. Rayden tatap lekat seperti sedang merekam di dalam memori.


Dadanya terasa akan meledak andai sedikit saja dia kehilangan kendali.


Aresha.


Bukan maunya Rayden, namun air mata itu kembali keluar dengan sendirinya. Dadanya teramat sesak untuk tetap menyimpan kebenaran ini.


Rayden menangis dengan mulut yang terkunci rapat.


"Tuan, kenapa Anda menangis? apa ada yang terasa sakit?" tanya Disha dengan kedua mata yang melebar, bukan hanya terkejut, namun dia pun merasa tangis Rayden begitu pilu, membuat hatinya berdesir.


"Katakan, apa yang anda rasakan saat ini? berbaring lah, saya akan memeriksa kaki Anda." Disha mendekat, menyentuh tubuh Rayden.


"Tuan, berbaring lah,"


"Tuan ..."


Disha terus bicara dengan bingung, sementara Rayden hanya diam, hanya bisa meneteskan air matanya. Sampai akhirnya kedua tangannya bergerak dengan gemetar untuk menarik Aresha ke dalam dekapannya.


Hahh. Nafas Rayden terbuang kasar, dia peluk erat tubuh Aresha tanpa jarak.

__ADS_1


Sangat erat sampai Disha sesak. Namun tangis tertahan yang masih mampu Dia dengar buat Disha tak bisa berkutik.


"Tuan, kenapa Anda menangis?"


"Peluk aku, aku mohon Sha," balas Rayden akhirnya.


Dan perlahan, Disha pun membalas pelukan itu. Mengelus puncak kepala Rayden, ingin pria ini tenang.


Dalam pelukan itu hanya Rayden yang menangis, hanya Rayden yang merasa sesak. Sementara Disha, dia tidak tahu apa-apa.


Hanya bergerak sesuai naluri untuk menenangkan pria ini.


Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi Sha, tidak akan pernah. Mulai sekarang, tiap langkah yang akan kamu ambil, aku akan selalu mengawasi mu.


Oh Ya Tuhan, jantungku ingin pecah, tapi aku mohon jangan ambil nyawaku. Jangan berani-beraninya memisahkan aku lagi dengan Aresha.


Aresha ... Aresha!!


Rasanya ingin sekali berteriak memanggil nama itu. Namun tak kuasa untuk melakukannya.


Yang bisa Rayden lakukan hanya satu ...

__ADS_1


Memeluk Aresha semakin erat, sampai dia merasa jika ini semua nyata.


__ADS_2