
Tidak sampai 30 menit, Rayden sudah memutus sambungan diantara dia, Zhack dan Darco. Baginya tidak perlu berlama-lama tersambung dalam DarkWeb, cukup mengucapkan terima kasih dan sudah.
Dan ketika makan malam tiba, Sam memutuskan untuk pergi dari sana. Meninggalkan sepasang suami istri itu berdua.
Namun langkah Sam terpaksa berhenti di depan pintu ketika melihat 2 orang perawat wanita berdiri disana.
Lama tinggal di rumah sakit ini membuat Sam pun bisa menghafal semua perawat yang sering mendatangi sang Tuan. Termasuk 2 perawat ini, Rafaela dan Dena.
"Untuk apa datang kesini?" tanya Sam dengan suaranya yang sangat dingin. Tatapanya pun terlihat tidak ramah. Dia paling tahu jika Rafaela dan Dena selama ini tidak pernah menyukai sang Nyonya. Bahkan sering mengintimidasi Nyonya Aresha yang sebagai perawat Disha.
"Maaf Tuan Sam, kami ingin bertemu dengan perawat Dish ... anu, maksudnya Dokter Aresha," Jawab Rafaela dengan susah payah, masih kaku lidahnya untuk menyematkan nama itu pada seseorang yang selama ini dia kenal sebagai Disha si perawat paling cupu di rumah sakit.
Kini wajah Rafaela terlihat tidak tenang, Dena pun terus menundukkan wajahnya takut. Mereka berdua sudah sepakat untuk meminta maaf, demi menyelamatkan karir mereka di rumah sakit ini. Tapi ternyata belum apa-apa mereka sudah lebih dulu di hadang oleh asisten berwajah datar.
Pria paling menyebalkan yang pernah mereka tau.
Sangat mengerikan.
"Dokter Aresha tidak bisa diganggu, lebih baik temui beliau esok hari." Tolak Sam dengan tegas.
Namun sungguh, Rafaela dan Dena tidak bisa menungu, mereka terlalu cemas sebelum mengetahui nasibnya aman di rumah sakit ini.
"Maaf Tuan Sam, sebentar saja saya mohon beri waktu kami untuk bertemu dengan dokter Aresha, Sebentar saja, kami hanya ingin meminta maaf." Rafaela menyenggol lengan Dena, ingin Dena pun ikut buka suara juga.
__ADS_1
"Kami mohon Tuan Sam, kami janji tidak akan lebih dari 10 menit." mohon Dena pula, lengkap dengan kedua tangannya yang mengatup di depan dada.
Rafaela dengan cepat mengangguk-anggukan kepalanya, menyetujui ucapan Dena itu.
"Tidak." balas Sam singkat.
"Silahkan pergi," ucap Sam lagi. Bukan apa-apa, tapi Tuan dan Nyonya nya kini tengah melewati makan malam romantis.
Dan seketika penolakan itu membuat Rafaela dan Dena sama-sama tercengang. Terlebih saat mereka melihat Sam yang malah mengambil langkah untuk pergi meninggalkan mereka.
Tapi belum sampai tiga langkah Sam berjalan, dia kemudian memutuskan untuk kembali berbalik dan menatap dua perawat wanita itu.
"Aku tahu apa tujuan kalian ingin meminta maaf kepada Nyonya Aresha. Kalian berdua hanya ingin mengamankan posisi di rumah sakit ini, benar kan?" tanya Sam.
Rafaela dan Dena melihat dengan jelas saat Sam tersenyum miring, sangat mengerikan, apalagi saat itu tatapannya begitu dingin.
"Lebih baik ubah niat kalian itu, terlalu menjijikkan mengucapkan kata maaf tanpa ketulusan dari dalam hati." Timpal Sam, setelah mengatakan kalimat sindiran yang begitu menusuk di hati itu, Sam kemudian benar-benar pergi dari sana.
Sementara Rafaela dan Dena seketika tergugu. Tak kuasa untuk mengucapkan sepatah kata pun dan hanya saling tatap dengan tatapan yang entah.
Malam itu akhirnya mereka gagal untuk menemui Aresha, dan kini keduanya duduk di ruang jaga IGD.
"Meminta maaf dengan tulus? Aku tidak akan bisa melakukannya, itu terlalu menjijikkan Dena," ucap Rafaela.
__ADS_1
Dena membuang nafasnya pelan sebelum menjawab ucapan sang sahabat.
"Aku juga bingung Raf, tapi hidup kita akan benar-benar terancam di rumah sakit ini jika tidak mendapatkan Maaf Dari Disha."
"Dia bukan Disha lagi, namanya Aresha."
"Aku lupa Raf."
Huh! keduanya membuang nafas dengan sangat kasar. Sementara para perawat lain yang melihat keduanya begitu stres malah tertawa.
Di ruang VIP 001.
Rayden tidak lagi menggunakan kursi rodanya. Dia telah berdiri sendiri menggunakan alat bantu tongkat. Dia dan Aresha berdiri di dekat jendela kamar itu. Jendela yang dibuka lebar hingga angin malam bisa masuk sesukanya.
Mereka saling tatap. Berulang kali Aresha mengulum senyum, jadi malu sendiri terus ditatap seperti ini.
Sedangkan Rayden tak ada puasnya menatap sang istri.
"Besok pagi sebelum pulang ke rumah momny Anna, kita lebih dulu datang menemui mommy Jia, mau?" tawar Rayden dan Aresha langsung mengangguk.
Besok Rayden akan memperkenalkan istrinya itu secara resmi di hadapan semua keluarga.
Memberi tahu semua orang bahwa dia telah berhasil menemukan Aresha dan menjadikan wanita ini satu-satunya di dalam hidup.
__ADS_1
Bukan hanya pada keluarga inti Rayden ingin mengungkap ini, tapi juga pada sang paman, uncle Niel.