
Tiba di ruang Fisioterapi, kedatangan Disha dan Rayden menjadi bahan pembicaraan semua petugas di sana.
Pasalnya Mereka berdua terlihat persis seperti sepasang pengantin baru dibandingkan seperti pasien dan perawatnya.
Keduanya saling tertawa begitu dekat, Rayden juga terus menggenggam erat tangan Disha ketika mereka berhenti untuk melengkapi administrasi di sana.
Sebelum masuk ke ruangan Exercise, Rayden lebih dulu melakukan pemanasan. Disana ternyata hasilnya sangat baik. Rayden sedikitpun tidak ragu untuk menapakkan kakinya di lantai.
"Dokter, di ruang Exercise nanti biar saya saja yang menemani tuan Rayden," ucap Disha, meminta izin pada sang dokter jaga disana. Tidak perlu ada pendampingan lebih.
"Baiklah, jika ada kesulitan segera panggil saya."
"Baik Dok."
Dan disinilah kini Rayden dan Aresha berada, di ruangan Exercise.
Tempat dimana Rayden akan mulai berlatih untuk mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi kaki kanannya setelah operasi patah tulang.
__ADS_1
Dibantu Aresha, Rayden bangkit dari kursi rodanya dan berpegangan pada penyangga yang tersedia disana. Kaki kiri Rayden masih berfungsi dengan baik, jadi mempermudah semuanya.
"Apa terasa nyeri Kak?" tanya Aresha.
"Kalau nyeri langsung cium aku, pasti langsung hilang rasa sakitnya," balas Rayden, sebuah jawaban yang sampai membuat Aresha tak mampu membalas lagi.
"Aku tidak mau berpegangan pada ini, aku ingin memeluk tubuh mu," ucap Rayden lagi, ini bukan sebuah permintaan atau pun permohonan, ini terdengar seperti sebuah perintah yang tak bisa dibantah.
Rayden kemudian menarik sang istri hingga masuk di area latihannya, memeluk pinggang Aresha hingga mereka berada diposisi sangat dekat.
"Pengang yang kuat kalau sakit," ucap Aresha, bagaimana pun ini adalah kali pertama Rayden berdiri dengan kedua kakinya. Sedikit membuatnya cemas. Meski sebenarnya kondidi Rayden memang telah siap seperti ini.
"Tidak perlu memegang mu terlalu kuat Honey, aku hanya tinggal bertumpu pada kaki kiri jika kaki kananku sakit."
"Baiklah." jawab Aresha.
"Sekarang coba mulai berjalan," timpal Aresha lagi, dia mundur perlahan dan Rayden maju perlahan. Gerakan mereka seirama.
"Mau agar lebih mudah?" tanya Rayden, memberi sebuah penawaran.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Aresha pula, dia sedikit mendongak hingga bisa membalas tatapan sang suami kepadanya.
"Seperti ini," balas Rayden, setelah kalimat itu habis dia langsung mencium bibir sang istri. Melumaatnya dengan sangat lembut lalu menelusupkan lidahnya masuk.
Aresha mendesah kecil, tidak menolak sedikitpun ciuman sang suami. Aresha bergerak cepat menyentuh penyangga agar mereka berdua tidak jatuh, tapi Rayden malah menarik tangan istrinya dan diletakkan di leher.
Keduanya saling peluk, berciuman dan bergerak seperti sedang dansa. Dan Rayden tidak merasa sakit sedikitpun di kaki kanannya.
Rasa ini malah membuatnya candu.
"Kak," lirih Aresha, sangat susah dia melepaskan diri dari ciuman sang suami.
Namun bukan raut wajah menyesal yang Aresha lihat di wajah suaminya, Rayden malah tersenyum.
"Bagaimana jika ada yang lihat, CCTV di ruangan ini tidak aku retas. Bahkan bagian administrasi pun bisa melihatnya," ucap Aresha buru-buru. Sejak tadi dia ingin mengatakan itu.
"Itu bukan masalah besar Honey, kalau mereka bertanya aku akan jawab, kamu adalah istri ku." balas Rayden. Dia menyesap bibir istrinya lagi, menyesapnya sampai Aresha merasa tubuhnya tertarik.
Masih sakit saja Rayden sudah sangat ganas, bagaimana jika sembuh nanti?
__ADS_1
Mungkin akan jadi buas.