My Geeky Doctor

My Geeky Doctor
MGD Bab 83 - Aresha Dude


__ADS_3

"TIDAK!!"pekik Maura, suaranya sampai menggelegar ke seluruh penjuru rumah sakit. Beberapa perawat dan dokter yang melintas tak jauh dari sana dengan segera berlari menghampiri. Dan melihat Maura sudah bersimpuh di lantai dengan tatapan yang kosong.


"Nyonya Maura!" ucap seorang dokter dengan cemas, sementara Maura tidak memberikan respon apapun. Tatapannya benar-benar kosong, kemudian jatuh kedua air mata dari kedua matanya.


Terlihat jelas olehnya saat mobil truk itu menghantam mobil sang anak dengan sangat keras. Teriakan Tamara bahkan mampu dia dengar dengan jelas di telinganya. Kesakitan, darah mengalir dan suara ledakan.


"Nyonya, apa yang terjadi? kenapa Anda menangis? Ayo bangun Nyonya, mari saya bantu bangun."


"Nyonya ..."


"Nyonya ..."


Maura tertawa diantara air mata yang terus mengalir dengan deras.


"Hahaha, tidak mungkin, hahaha, anakku." Tawa itu hilang, diganti dengan tangis yang sangat pilu, dadanya sesak sekali, sampai sulit membuat Maura untuk bernafas.


"Tamara," lirihnya, dia memukul dadanya sendiri yang terasa sakit, ingin rasa sakit itu menghilang dari sana. Namun seolah abadi, rasa sakit itu tak mau pergi.


"Tamara, Dad, Tamara ... Tamara. Tidak mungkin."


"Nyonya_"


"Jangan menyentuhku!" Pekik Maura, wajahnya telah basah dengan air mata, gurat kesedihan itu terpancar jelas di wajahnya. Impian memiliki hidup yang bahagia setelah membalaskan semua dendam ternyata tidak bisa terwujud.

__ADS_1


karena pada akhirnya yang mati bukanlah Aresha, melainkan malah anaknya sendiri, lengkap pula dengan sang ayah.


Ternyata Tuhan selalu tidak adil kepadanya dan keluarganya. karena lagi-lagi Anna yang menang dan mendapatkan semuanya.


"Jangan menyentuhku!!" Teriak Maura, tak sudi satu pun tangan kotor menyentuh tubuhnya.


Para perawat dan dokter yang mengelilingi Maura pun sontak menyingkir, namun tidak benar-benar meninggalkan wanita itu.


"Pergi kalian semua! PERGI!!" Maura bangkit, dengan cepat dia mengambil pisau buah di atas meja dan mengarahkannya kepada semua perawat dan dokter di sana.


"Pergi atau ku bunuh kalian satu per satu," ancam Maura, dia sungguh merasa tak suka jadi pusat perhatian Di saat tengah terpuruk seperti ini. Maura tahu, bukannya membantu tapi semua orang itu hanya akan membuatnya jadi bahan tertawaan.


Dan melihat orang-orang itu tidak menjauh dari sana, membuat Maura tiba-tiba melukai tubuhnya sendiri.


"Nyonya!"


"Jangan MENDEKAT!! aku tidak sudi kalian sentuh!"


Dengan cepat Maura kembali melukai tubuhnya, dia sungguh ingin cepat mati dan meninggalkan dunia ini. Tapi sayang pisau itu tidak cukup tajam untuk menyayat seluruh tubuhnya. hingga dia butuh waktu lama untuk merenggang nyawanya sendiri dan hanya merasakan kesakitan di sekujur tubuh.


Bahkan sampai dokter dan perawat berhasil mencekal tubuhnya, Maura masih belum juga mati.


Wanita itu menangis, menangis dengan sangat pilu.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, polisi mulai mengamankan tempat terjadinya kecelakaan. Aresha melihat secara langsung 2 mayat, Temara dan Ben yang sudah tak berbentuk.


Kris sudah pergi dari sana, diganti Sam yang mendampingi sang nyonya muda Carter.


Zhack dan Darco mengirim semua berkas yang mereka dapat tentang kasus ini pada pihak kepolisian menggunakan paket tanpa nama.


Tentang kasus pembunuhan keluarga Walker berpuluh-puluh tahun lalu, tentang Benedick Thomson sebagai dalang utama dan tentang Maura dan Tamara yang terlibat, Tentang Ron Dominic yang telah menjadi suami Maura dan menjadi penyalur dana untuk tindak kejahatan itu.


Dalam satu hari, semua tabir masa lalu telah terkuak. Benang kusut itu telah terurai dan terlihat pangkal ujungnya.


Alamsyah dan Alex segera mendatangi kantor polisi melihat semua bukti kiriman anonim itu.


Anna sangat syok.


Dan tatapan nanar Aresha pada jalanan di depan rumah sakit itu jadi buyar saat dia mendengar Sam berucap.


"Nyonya, semuanya telah berakhir, mari pergi dari sini tuan Rayden sudah menunggu Anda."


Aresha tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menganggukkan kepalanya kecil.


Pergi dari sana Aresha melepas kacamata bundarnya dan melepas ikatan rambut itu.


Mulai kini dia bukan lagi Disha si gadis cupu, melainkan Aresha Dude, putri satu-satunya keluarga Dude.

__ADS_1


__ADS_2