
Disha lebih dulu menutup pintu itu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam ruangan sang ibu.
Dia masih terkejut saat melihat ibunya tidak sendirian di ruangan ini, melainkan bersama seorang dokter wanita paruh baya yang wajahnya tidak asing bagi Disha.
"Dokter Samantha," sapa Disha, sementara dokter Samantha tidak menjawab sapaan itu. Dia langsung memeluk Aresha dengan erat. Gadis kecil yang kini telah tumbuh dewasa.
Aresha terlihat sangat cantik, terlepas dari penampilannya yang begitu cupu. Rambut dikepang dan kaca mata bundar.
"Kamu cantik sekali sayang, seperti mommy mu," ucap Samantha, dia melerai pelukan mereka dan membelai lembut wajah Aresha. Seorang gadis yang sudah dia anggap seperti cucunya sendiri.
Mereka semua duduk disana. Anna menjelaskan bahwa kedatangan dokter Samantha kesini adalah untuk mengembalikan ingatkan Aresha yang telah hilang.
Mendengar itu Disha hanya diam, hanya jantungnya yang berdegub kencang.
Alam tidak bisa datang, Alam memutuskan untuk menemui Alex Carter dan menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Duduklah disini sayang," ucap Samantha, sebuah kursi panjang dengan sandaran yang cukup tinggi, Disha akan berbaring disana.
Anna tetap duduk di samping sang anak, menyaksikan dan mendampingi.
"Tarik nafas, buang perlahan,"
"Tarik nafas, buang perlahan,"
__ADS_1
"Kosongkan pikiran dan tutup matamu secara perlahan,"
Disha memejamkan kedua matanya sampai terlihat gelap. Namun dalam kegelapan itu dia tidak merasa takut sedikitpun. Suara dokter Samantha yang terus bicara seolah membimbingnya untuk keluar dari kegelapan itu dan masuk ke dunia yang lain.
Aresha kecil berlari di taman dan kemudian terdengar suara seorang bocah memanggil namanya dengan sangat keras ...
'Aresha!!' pekik Rayden.
'Tidak kena! kak Rayden tidak akan bisa menangkap ku.'
'Lihatlah! sejauh apapun kamu berlari aku akan mendapatkan mu!'
'Aleia! Alden! tolong aku.'
Aresha melihat ke arah sang ibu, melihat keluarga Dude dan keluarga Carter duduk di bawah sebuah pohon rindang.
Akhir pekan kala itu mereka pergi bersama ke taman kota.
Karena menatap ke arah ibunya, Aresha tidak sadar jika Rayden semakin dekat.
'Kena!' pekik Rayden seraya memeluk tubuh Aresha dan memutarnya. Aresha tertawa dan memekik sekaligus.
Kenangan itu menghilang, kembali memutar ingatakannya yang lain. Saat makan malam di rumah utama keluarga Dude.
__ADS_1
Aresha memeluk mommy Jia dan daddy Alex bergantian.
'Anak mommy cantik sekali,' ucap mommy Jia.
Malam itu adalah malam pertunangan diantara Rayden dan Aresha.
Satu per satu kenangan itu bermunculan. Sampai tanpa sadar ada air mata yang mengalir di kedua sudut mata Disha.
Anna yang melihat itu segera mengambil tisue dan menghapusnya. Sementara Samantha terus membuka semua tabir masa lalu yang dia tutup.
Sampai entah di menit keberapa, akhirnya Disha membuka mata. Bangun dengan dadanya yang terasa sesak. Bahkan air matanya pun terus mengalir dengan semena-mena.
Karena kemudian ingat saat Rayden pertama kali datang ke rumah Sakit ini dalam keadaan yang kritis.
Andai hari itu sedikit saja dia salah mengambil tindakan, maka Disha akan kehilangan cinta pertamanya.
Atau mungkin di tangannya lah Rayden akan mati.
"Maafkan mommy sayang," ucap Anna dengan lelehan air mata yang tak bisa dia tahan. Anna memeluk sang anak dengan sangat erat.
Berakhir dengan keduanya yang saling memeluk.
Sementara Samantha membuang nafasnya dengan sangat lega. karena setelah waktu berlalu sekian lama, akhirnya dia mengembalikan kenangan itu.
__ADS_1