
Marisa memilih diam tak menanggapi karena ia sadar apa yang dikatakan Farel semua benar adanya. Egonya yang terlalu tinggi, membuatnya tak mau ditinggalkan tapi juga tak mau mencintai.
"Kamu mau makan apa, cepatlah." Farel menggeser daftar menu di atas meja ke arah Marisa sedikit kasar. Marisa melirik kesal, tapi karena masih ada pelayan yang menunggu ia mengurungkan niatnya untuk mengomel.
Selama menunggu makanan datang, tatapan mesra dan hangat tak lagi diberikan Farel untuknya. Farel tampak tak sabar ingin segera makan dan pergi dari sana. Bahkan suaminya itu sama sekali tak mengajaknya mengobrol sedikitpun.
Marisa yang sejak awal menikah tidak pernah membuka topik pembicaraan, bingung karena ia tidak tahu sama sekali tentang kehidupan Farel. Denting pesan masuk dari Galih mengalihkan perhatiannya.
"Kalau kamu ingin bersama dia, kenapa ada di sini?"
Marisa mendongakan kepalanya, matanya bertemu dengan mata Farel yang menatapnya sinis.
"Kamu cemburu?" Marisa tersenyum manis.
"Lebih ke harga diriku sebagai suami."
"Aku senang kalau kamu cemburu." Tangan Marisa terulur ingin memegang tangan Farel, tapi suaminya lebih cepat menyembunyikan tangannya di bawah meja. Bersamaan dengan itu pesanan mereka datang, sehingga Marisa tidak mengira kalau Farel memang sengaja menghindarinya.
"Aku turun di Mall Mahkota ya," ucap Marisa saat mereka baru saja selesai makan siang.
"Hmm," sahut Farel datar.
"Ga tanya aku mau jalan sama siapa?" pancing Marisa.
"Kalau kamu mau bilang ya silahkan," ucap Farel malas. Ia sudah tahu kalau istrinya itu pasti ada janji dengan Galih, karena selama makan siang Marisa kerap kali tersenyum sembari mengetik pesan di ponselnya.
"Sama Lidya kok," ucap Marisa berbohong. Ia berharap Farel akan mencari tahu seperti biasanya atau bahkan melarangnya untuk pergi. Namun yang ada suaminya itu hanya mengangguk samar.
"Aku harap kamu selesaikan hubungan dengan perempuan itu secepatnya," ucap Marisa saat mobil Farel berhenti di depan area Mall, "Aku cinta kamu," tambah Marisa kaku. Ia terdiam menunggu reaksi Farel. Suaminya itu hanya diam dan memandang lurus ke depan, "Aku turun dulu ya," ucap Marisa pelan.
__ADS_1
Marisa berdiri di pinggir jalan menatap mobil milik Farel yang sudah menjauh. Dulu saat ia ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama Galih, kedatangan mobil itu untuk menjemputnya adalah hal yang paling ia benci. Namun sekarang ia ingin mobil itu kembali mundur untuk menjemputnya kembali.
Marisa berjalan masuk ke dalam Mall dengan langkah gontai, dari cuaca panas di luar berganti hawa dingin dalam Mall ditambah suasana hati yang tidak enak, membuatnya sedikit mual. Segera ia masuk ke dalam toilet mencoba mengeluarkan segala isi perutnya yang mengganjal.
"Kamu dari mana?" Galih mengusap rambutnya. Pria itu sudah menunggunya sejak tadi di kedai kopi ternama.
"Toilet, agak mual tadi." Marisa menyambar kopi milik Galih, tapi tangan kekasihnya dengan cepat menahan cangkir kopi agar tetap di tempatnya, "Kenapa? pelit banget."
"Kapan kamu terakhir haid?" Galih memegang tangannya dan menatapnya lekat.
"Kok tanyanya gitu sih."
"Aku tanya, kamu kapan terakhir haid?" tekan Galih.
"Aku ga tau, ga pernah merhatikan," cetus Marisa kesal. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, inginnya memadu kasih dengan Galih, ternyata mendapat perlakuan yang sama seperti dengan suaminya.
"Tunggu di sini," titah Galih. Ia segera pergi ke toko yang menjual obat dan alat kesehatan yang ada di Mall itu, lalu kembali dan menyerahkan satu kantong plastik kepada Marisa.
"Bawa ke toilet, segera pakai semua lalu bawa kesini," pinta Galih.
"Ta-tapi ...."
"Sekarang, Echa!" perintah Galih tak mau ditawar lagi. Wajah pria itu mengeras dan terlihat kalut.
Dengan perasaan dan pikiran yang kacau, Marisa mengikuti permintaan Galih. Ia menuju ke toilet dan memilih tempat paling ujung. Tangannya bergetar saat mencoba alat yang sama sekali belum pernah ia pegang.
Marisa bukan wanita yang bodoh, ia segera tahu arti dua garis merah yang tertera dengan jelas di tiga alat tes kehamilan itu. Seketika rasa mualnya mendesak ulu hatinya lagi.
Langkahnya semakin gontai dan tatapannya kosong saat kembali ke kedai kopi di mana Galih masih menunggu dengan hati cemas.
__ADS_1
"Gimana?"
Marisa tidak menjawab ia mendorong kembali plastik berwarna merah ke arah Galih.
"Sudah kuduga, kamu hamil," ucap Galih lirih, "Saat kamu di toilet tadi, aku sudah memikirkan semuanya," lanjut Galih. Marisa merasa sedikit tenang melihat wajah kekasihnya yang tampak jauh lebih tenang dibanding sebelum ia ke toilet.
"Kita menikah?" Marisa memegang tangan Galih penuh harap.
"Bukan begitu, Sayang. Aku sudah punya Delilah, dia juga sedang hamil anak kami yang kedua. Kamu juga sudah ada Farel yang mendampingi, jadi kamu ga perlu khawatir," ucap Galih pelan sembari mengusap pipi Marisa.
"Tega kamu!" luruh air mata Marisa.
Ia merasa harapannya hidup bersama pria yang ia cintai tak akan terwujud. Kehadiran janin yang sedang bertumbuh di rahimnya pun tidak merubah keputusan Galih untukberpisah dengan istrinya, bahkan kekasihnya itu tampak bahagia saat mengatakan wanita yang dinikahinya dua tahun silam sedang mengandung anak kedua darinya.
"Hei, heii, Baby. Apa yang kamu khawatirkan? kita akan tetap bersama-sama. Tidak akan ada yang berubah, semua akan tetap sama. Bayi yang kamu kandung sekarang, tetaplah anakku meski nanti ia tidak akan memanggilku dengan sebutan ayah." Galih terkekeh pelan seolah itu sesuatu yang sangat lucu baginya.
"Tapi aku ingin bersamamu." Marisa memohon dengan air mata berlinang. Ia sudah tidak peduli dengan pandangan curiga dari pengunjung lainnya.
"Tidak bisa, Sayang. Kamu tahu aku tidak bisa meninggalkan Delilah, Papa bisa langsung membunuhku. Lagipula dia sedang hamil seperti kamu sekarang. Kamu pasti mengerti 'kan?" Galih merengkuhnya ke dalam pelukan. Marisa sama sekali tidak melawan, ia sudah sangat hafal akan jawaban pria itu. Seharusnya ia tahu dan pergi sejauh-jauhnya, tapi ia tidak bisa. Hatinya sudah terlanjur terikat pada Galih, meskipun ia sadar tidak akan pernah dapat memilikinya.
"Apa lagi yang kamu khawatirkan, Farel sangat mencintaimu. Dia pasti bahagia dengar kamu hamil," lanjut Galih masih mendekap Marisa.
"Aku tidak pernah berhubungan dengan dia, hanya sama kamu," ucap Marisa lirih.
"Waah, luar biasa sekali dia. Aku juga kagum kamu bisa menjaga cinta kita, Sayang," sahut Galih ringan sembari mencubit hidung Marisa.
"Tidak. Dia sudah menikah lagi." Mengingat hilangnya cinta Farel untuknya, membuat air mata Marisa kembali mengalir.
"Apa maksudmu? itu ga mungkin, Sayang. Dia pasti berbohong, supaya kamu tidak berhubungan lagi denganku. Dia cinta mati sama kamu, aku tahu itu."
__ADS_1
...❤️🤍...