Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
NAPD 37


__ADS_3

Farel mengikuti Niki masuk ke dalam kamar, setelah sebelumnya mengunci pintu depan dan mematikan semua lampu di ruang tamu dan dapur.


"Pak Farel kalau mau masuk ketuk pintu dulu, dong!" sembur Niki begitu ia membuka pintu kamarnya. Awalnya sedikit terkejut ada yang marah saat ia akan masuk ke dalam kamarnya sendiri, tapi ia baru sadar kalau kamar ini sekarang sudah bukan hanya miliknya.


Niki memandang kesal pada suaminya. Ia juga lupa kalau ini bukanlah kamarnya di rumah Papa. Tadi karena terlalu marah, ia langsung membuka kaosnya. Beruntung saat dosennya itu membuka pintu kamar, kaosnya baru terangkat sebatas perut.


"Maaf, aku lupa kalau ada kamu di kamar," ujar Farel. Matanya sempat menangkap perut rata dan putih milik Niki. Ingin ia mengusapnya, tapi begitu ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah garang istri kecilnya, niat itu menguap dengan cepat.


"Mana bisa lupa, baru juga aku masuk." Niki menggerutu gemas, tanpa menyadari kalau ia sendiri lupa ini apartment Farel bukan rumah Papanya.


"Kamu marah-marah terus, mandi dulu biar dingin kepalamu." Farel menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Farel sendiri memilih membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang ada di dekat dapur. Wajah Niki masih terlipat ketika keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang panjang terurai setengah basah. Farel menahan senyumnya melihat piyama yang digunakan istrinya. Sama sekali tidak ada unsur wanita dewasa, yang ada gambar kucing yang seakan menggodanya.


"Seingat saya, dulu Bapak pernah mengatakan kalau kita akan berpisah setelah saya wisuda. Bapak bisa tepati janji itu?" Raut wajah geli Farel kembali suram mendengar pertanyaan istrinya. Ia tidak suka dengan pembahasan ini.


"Tidurlah, Niki. Besok saya antar kamu ke kampus sebelum ke bandara." Farel naik ke atas ranjang lalu memejamkan matanya.


"Saya hanya mengingatkan ucapan Bapak dulu. Waktu itu situasinya terbalik dengan saat ini." Niki terkekeh pelan dengan mata menerawang ke langit-langit kamar.


Ia teringat bagaimana ia berusaha menunjukan perasaannya. Bagaimana ia berusaha membuktikan pada suaminya, jika ia mencintai dan pantas dicintai. Namun setelah waktu berjalan, pikirannya pun semakin dewasa dan bijak. Ia menyadari jika ada hal yang tidak bisa ia paksakan dan terjadi sesuai keinginannya. Salah satunya ia memang memiliki raga dosen idolanya, tapi tidak dengan hatinya.

__ADS_1


Mungkin bagi sebagian orang di luar sana, ia sebagai mahasiswi terlihat menjijikan dan tak berpendidikan. Mengejar suami orang sampai mengarang cerita yang tidak benar demi egonya. Ia dulu sempat yakin, jika Farel dapat mencintainya. Setelah melihat dan menyadari begitu besarnya cinta Farel pada istri pertamanya, Niki kehilangan kepercayaan diri dan memilih mundur.


"Besok saya akan kejar tugas akhir ya, Pak. Tolong dibantu, biar saya bisa ikut wisuda tahun ini."


Farel semakin memejamkan matanya. Ia sedang tak ingin membahas topik pembicaraan yang tidak akan menemukan ujung pangkal perdebatan mereka.


Niki menghela nafasnya sedih ketika suara dengkuran halus terdengar dari mulut suaminya. Tanpa mengucapkan selamat malam dan tanpa kecupan mesra pengantar tidur yang diinginkan istri pada umumnya, suaminya itu sudah terlelap dalam tidurnya. Untuk kesekian kalinya, ia merasa menjadi wanita yang tak punya daya pikat bagi kaum adam.


'Bagi Pak Farel aku memang anak kecil yang ga ada menarik-menariknya. Aku tak setinggi Mba Marisa, dada dan pan tatku juga tidak sepadat Mba Marisa. Wajar aja Pak Farel tak tertarik, tapi kenapa Tomi terus mengejarku? Mungkin daya tarik tubuhku hanya untuk pria usia sepantaran.'


Farel membalikan badan dan menyelipkan tangannya di balik kaos bergambar kucing, yang digunakan Niki ketika ia benar-benar yakin gadis itu sudah terlelap. Telapak tangannya berhasil menyentuh dan mengusap perut tipis Niki yang sejak tadi menghantui isi kepalanya. Farel tak berani menyentuh bagian lain, walaupun ia sangat ingin dan jarak titik berbahaya atas dan bawah milik Niki dari telapak tangannya itu, sangatlah dekat. Namun ia tidak berani mengambil resiko terlalu jauh, jika tidak ingin wajahnya terluka saat bertemu ibunya besok pagi.


Tak berapa lama ia merasakan pergerakan dari sisi ranjang. Farel berusaha menampilkan ekspresi tidur yang nyenyak. Suara pintu kamar mandi terbuka dan suara pancuran air mengucur, ia tahu istrinya itu sedang mandi. Farel tersenyum dengan mata terpejam, ia masih merasakan kehangatan kulit perut Niki. Otaknya sedang membayangkan istri kecilnya itu sedang mengusap perutnya dengan sabun berulang-ulang lalu naik ke atas dan menyabuni dua benda yang ingin ia lihat selanjutnya. Tangan Niki yang penuh sabun perlahan turun kembali ke perut dan turun terus ke arah ...."


"Pak Farel!"


"Ha?" Farel terjingkat dari tidurnya. Ia langsung bangkit dan duduk di atas ranjang. Niki sedang memandangnya curiga.


"Bahaya dari posisi tidur langsung duduk gitu. Pelan-pelan bangunnya, Pak," ujar Niki sembari terus menatap curiga ke arah Farel.


Farel mengambil segelas air yang selalu ia sediakan di atas nakas. Ia terlalu larut dalam khayalannya hingga tak sadar jika wanita yamg ada di otaknya tadi, sudah menyelesaikan mandinya.

__ADS_1


"Kamu kok cepat mandinya?"


"Biar Pak Farel gak ketinggalan pesawat. Mimpi apa sih tadi kok senyumnya lebar sekali." Niki tak bisa menahan rasa penasarannya. Tadi saat ia keluar dari kamar mandi, ia melihat dosennya itu tersenyum lebar dan sesekali mengeluarkan suara desa han.


"Mimpi? Ow, biasa mimpi laki-laki," sahut Farel tak acuh. Ia langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia melanjutkan fantasi liarnya dan menuntaskan hasratnya dengan objek wanita yang sedang menunggunya di balik pintu kamar mandi.


'Dia pikir aku lugu, namanya mimpi basah di sekolah juga sudah dipelajari. Pasti lagi kangen sama Mba Marisa, mau ketemuan sampai kebawa mimpi.'


"Mandinya lama banget." Farel keluar dari kamar mandi disambut gerutuan Niki. Ia tidak biasa menahan rasa cemburunya. Niki membayangkan Farel akan bertemu dengan mantan istrinya di rumah orangtua Farel. Lalu mereka saling memaafkan, kembali bersama dan menghabiskan waktu berdua di kampung halaman.


Farel tak membalas, ia hanya memberikan senyuman termanisnya. Tubuhnya sedikit lelah setelah aktifitas solo di kamar mandi tadi.


Niki memperhatikan penampilan Farel yamg sedikit berbeda sari biasanya. Tampilan dosen yang formal dan serius tak lagi nampak. Farel tampil sangat modis dengan celana coklat di atas lutut, dipadu kaos putih dan jacket kulit.


"Ayo, kamu ada kelas jam sembilan 'kan?"


"Kok tahu," sahut Niki ketus. Ingin ia menarik baju Farel dan menggantinya dengan kemeja yang tidak menarik.


"Jadwal kelas yang kamu ambil aku juga pegang. Kamu lupa kalau aku dosen pembimbing sekaligus suamimu?" Farel tersenyum manis. Hati dan pikirannya setenang laut di pagi hari setelah menuntaskan hasratnya di dalam kamar mandi tadi.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2