
Kening Farel terlipat membaca pesan yang ada di galeri ponsel Niki. Namun ia sedikit terkejut tapi juga tersanjung saat melihat nama pengirim pesan itu. Istri kecilnya itu memberi nama my lovely hubby my dosen pada nomernya, membuat Farel merasa diakui dan dicintai.
"Aku tidak pernah merasa mengirim pesan itu," ucap Farel sembari mengembalikan ponsel ke tangan Niki. Kedua ujung bibirnya melengkung kebawah seakan sedang menertawakan tuduhan Niki.
"Jangan bohong deh, Pak. Jelas-jelas ini dari nomer Bapak." Niki memperlihatkan nomer di ponselnya.
"Mmm, my lovely hubby my dosen itu saya?" Farel memasang wajah tanya yang polos. Niki menutup layar ponselnya dengan kikuk. "Nomer saya, tapi bukan berarti saya yang kirim," lanjut Farel.
"Lalu siapa? Hantu?"
"Mungkin," sahut Farel tak acuh. Jelas ia sudah tahu siapa dalangnya, tapi malam ini ia sedang tidak ingin menyebut nama itu apalagi membahasnya.
Farel berjalan semakin mendekat ke arah Niki yang masih berdiri tak beranjak di dekat pintu.
"Mau ngapain?" tanya Niki curiga. Bukannya ia tidak mau didekati oleh Farel, tapi ia masih menjunjung tinggi nilai agama jika tidak ada hubungan resmi, berarti haram untuk bersentuhan secara intim.
Farel tidak menghiraukan pertanyaan ketakutan Niki, baginya itu malah membuatnya semakin bersemangat untuk mengerjai istri kecilnya. Sengaja memasang wajah jahil, ia terus merapatkan tubuhnya ke arah Niki yang bergerak mencari celah untuk menjauh.
"Pak, stop!" seru Niki dengan mata terbelalak saat tangan Farel terulur ke depan.
"Kamu kenapa? Saya mau ambil tas di dalam lemari, justru kamu yang ngapain di situ halangin saya?"
Niki bergeser dengan rasa malu. Pikirannya kembali diliputi tanda tanya, kapan dosennya ini menaruh barang-barangnya.
"Tadi rasanya Bapak ga bawa tas?"
"Bawa, saya pesan kamar sekalian minta petugas hotel untuk mengambil tas saya di mobil dan bawa ke dalam kamar, karena ada istri kecil cerewet yang minta ditemani ke lantai tujuh," ujar Farel santai.
"Istri kecil cerewet siapa maksud Bapak? Saya? Saya bukan istri Bapak lagi."
__ADS_1
"Apa perlu saya tegaskan berulang-ulang, jika bukan saya yang mengetik pesan itu dan mengirimkannya padamu. Saya bukanlah pria yang memanfaatkan situasi karena sedang bersama seorang wanita dalam sebuah kamar hotel. Sampai detik ini kamu masih menjadi istri dan tanggung jawab saya, dan saya suamimu." Farel berkata dengan sangat tegas namun pelan. Ia berdiri tegap di depan Niki dengan jarak yang cukup dekat.
Niki menahan nafasnya saat merasakan udara beraroma mentol berhembus menerpa kulit wajahnya yang berasal dari mulut Farel. Apalagi pria itu masih belum mengenakan baju, sehingga ia sulit mengedipkan matanya dari pemandangan di depannya. Bulu kuduk Niki meremang saat Farel menyentuh bahunya, lalu dengan sangat perlahan turun ke lengannya.
"Mandi, baumu asem seperti badut kelinci," bisik Farel sembari menaruh kaos di tangan Niki. Farel menggiring istri kecilnya sampai ke depan pintu kamar mandi, lalu mendorong tubuh Niki pelan dan menutup pintunya.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Niki menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan beberapa detik tadi. Ia melihat dan membentangkan kaos yang ada di tangannya. Kaos putih itu berukuran cukup besar di badannya, tapi memang tak ada pilihan lain. Benar kata Farel badannya terasa sangat lengket setelah seharian berada di dalam kostum maskot.
Bunyi air mengucur dari dalam kamar mandi, membuat Farel tersenyum geli. Ia mengambil sebuah kaos lagi dari dalam tas kecil yang selalu ia siapkan dalam mobil. Selama menunggu Niki selesai mandi, Farel merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit, pikirannya terarah ke lantai tujuh di mana Marisa dan Galih berada.
Ia masih tidak menyangka kata talak mengalir lancar dari mulutnya. Selama lebih dari dua tahun hidup dalam sandiwara rumah tangga bahagia, sekarang seakan ada batu besar yang terangkat dari dadanya.
Melihat Marisa menangisinya tadi, ia hampir saja memeluknya dan mengatakan jika apa yang ia katakan tadi bohong. Jujur di sudut hatinya yang terdalam, nama Marisa masih tersisa di sana. Bukan sesuatu yang mudah menghapus rasa cinta hanya dalam satu malam. Walau sudah banyak orang mengatakan ia pria yang bodoh, tapi cinta tetaplah cinta.
Farel menegakan tubuhnya saat terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka dengan pelan. Niki keluar dari dalam kamar mandi dengan kepala tertunduk. Rambutnya yang masih basah ia biarkan menetes membasahi kaosnya.
"Kamu tidak keringkan rambutmu dulu?"
"Keringkan dulu, maaf saya hanya bawa celana rumah satu. Kamu pakai punya saya aja ya."
"Jangan, Pak! Nanti pakai celana jeans yang tadi saya pakai aja, tapi masih basah karena kena air sedikit," tolak Niki saat Farel akan membuka celana pendek yang ia gunakan. Lebih baik ia yang mengalah tidur menggunakan celana jeans dari pada dosennya yang tidak mengenakan apa-apa. Lagipula di balik handuk, ia masih menggunakan celana pendek yang selalu ia pakai sebagai lapisan celana panjang.
"Ya udah, selama kamu nyaman tidur pakai celana jeans."
"Ga apa-apa, cuman semalam aja."
"Duduk sini, kenapa berdiri terus di sana? Celana jeansmu ga mungkin langsung kering kalau kamu pandangi terus."
Niki menyampirkan celana jeans yang sejak tadi ia dekap di sandaran kursi. Celananya itu hanya bagian belakang saja yang basah gara-gara saat mandi, ia tak sengaja mengarahkan shower ke arah gantungan baju.
__ADS_1
"Sini." Farel menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong. Dengan malu-malu, Niki duduk di sebelah Farel. Dadanya berdegub semakin kencang saat dosennya itu menggeser badannya semakin dekat kearahnya.
Saat mandi tadi, ia memikirkan perkataan Farel perihal kata talak yang ia terima melalui pesan singkat. Ia percaya jika dosennya itu berkata jujur dan ia juga sudah bisa menduga, siapa yang mengetik dan mengirim pesan itu padanya.
Sekarang statusnya masih istri dari Farel dan mereka sedang berduaan di dalam kamar hotel yang terkunci. Duduk dalam satu ranjang yang luas dengan lampu kamar yang temaram. Pikiran nakal Niki mengembara kemana-mana membayangkan pria yang duduk di sebelahnya itu meminta haknya malam ini.
Niki melirik ke arah Farel. Wajahnya langsung merona saat matanya bersibobrok dengan mata Farel. Suaminya itu sedari tadi terus menatapnya hampir tak berkedip.
Farel menahan rasa geli melihat bahasa tubuh Niki yang resah dan gelisah. Tangannnya terulur ke arah wajah Niki, gadis itu mulai meredupkan matanya.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya, ramaikan di sana
Blurb :
Perempuan mana yang tak menginginkan sosok lelaki yg bertanggung jawab dihidupnya.
Yah, sebuah perjalanan kisah cinta yg panjang untuk Annara ...
Cinta pertamanya gagal karena Tomy memilih tuk berselingkuh dari Annara.
Dan begitu banyak lelaki yang mencoba mendekati dirinya saat ia memilih tuk sendiri ...
Tanpa ia sadari, bahwa dirinya telah
menaklukkan begitu banyak hati lelaki.
akankah dia mendapatkan seorang lelaki yg di inginkannya?.
__ADS_1