
Farel terkejut, tangan Niki yang kecil menyelusup nakal ke arah paha bagian dalam miliknya.
"Niki!" serunya dengan suara bergetar. Pria normal mana yang tidak suka digoda oleh wanita cantik dan muda macam istri kecilnya ini, tapi ia hanya tak menyangka Niki akan seberani ini.
"Kenapa?" tanya Niki sembari mengerling menggoda.
Sejujurnya ia pun malu dan takut melakukan hal ini. Seumur hidupnya hanya Farel yang pernah menyentuhnya sangat jauh. Itupun hanya sebatas berciuman dan mengusap leher, padahal mereka sudah resmi menjadi suami istri. Namun itu semua suaminya yang memulai, dan sekarang ia ingin mencoba menggoda Farel. Bukankah pahala, menggoda pasangan yang sudah halal?
"Apa-apaan sih kamu?" Farel mengenggam tangan Niki sebelum menjalar semakin jauh. Bukannya tak ingin, tapi ia takut tak dapat mengendalikan otaknya saat sedang menyetir seperti sekarang ini.
"Cuman pegang kaki aja kok panik." Niki tersenyum mengejek. Farel menghela nafas lega ketika istri kecilnya yang nakal itu menarik tangannya dari atas pahanya.
"Panas ya." Niki mengangkat rambut panjangnya dan menjepitnya di atas kepala. Leher jenjangnya terpampang dengan jelas.
"AC nya besarkan lagi kalau masih panas," ujar Farel seraya mencuri pandang ke arah leher yang menggodanya untuk digigit, tapi tiba-tiba matanya terbelalak ketika istri kecilnya itu membuka kancing kemejanya hingga sebatas dada hingga kedua pundak putihnya terpampang jelas.
"NIKI!" Farel langsung menepikan kendaraannya lalu segera merapikan baju Niki, "Ini di jalan, Niki! Kamu mau badanmu jadi tontonan pengendara lain?" Mata Farel nyalang menahan emosi dan juga hasrat ingin menerjang istrinya.
"Kaca mobil Pak Farel 'kan gelap," ucap Niki pelan. Hatinya ciut melihat kemarahan dosennya yang tak pernah ia lihat selama ini.
"Memangnya kalau gelap, orang dari luar ga bisa lihat sama sekali? Nikiiii ... aarrgh!" Farel menggeram kesal sembari mengacak-acak rambutnya. Ia melakukan hal itu bukan hanya karena marah, tapi mengalihkan pikirannya yang sudah merekam gundukan di dada Niki.
"Maaf," cicit Niki.
Nafas Farel masih menderu meski sudah sampai di tempat tujuan. Istri kecilnya yang sudah berani menggodanya itu, sedang asyik mendorong kereta belanja menyusuri lorong satu ke lorong yang lain.
Farel menyipitkan matanya melihat beberapa barang yang dimasukan Niki ke dalam kereta belanjanya. Corak warna barang pilihan istri kecilnya itu sangat cerah menyakitkan matanya.
"Bagus ga?" Niki menyodorkan sebuah poster berukuran besar dengan deretan wajah pria oriental di dalamnya.
"Siapa mereka?" tanya Farel dengan mata membesar.
"Penyanyi K-POP, Pak," ucap Niki dengan mata tak kalah besarnya.
"Lalu?"
__ADS_1
"Buat pajangan di kamar." Niki menaruh poster besar itu ke dalam kereta belanjanya.
"Niki, yang seharusnya kamu taruh di dinding kamar itu foto pernikahan bukan foto orang lain," ucap Farel sembari mengiringi langkah Niki yang lincah.
"Pak Farel lucu, memangnya kita punya foto pernikahan?" ucap Niki sambil berjalan terus tanpa menoleh, "Namanya juga main nikah-nikahan," lanjutnya lirih seraya tertawa kecil.
"Kamu ngomong apa sih?" Farel menarik lengan Niki agar berbalik menghadapnya.
"Aku hanya bilang kita ini seperti main nikah-nikahan, karena pengantinnya seperti main drama. Ga serius!," ucap Niki ketus lalu dengan cepat membalikan badan dan melanjutkan belanjanya.
Untuk kesekian kalinya Farel menghembuskan nafasnya panjang dan berat. Walaupun berbeda, menghadapi Niki tak ubahnya seperti menghadapi Marisa dulu.
'Apakah seperti ini semua wanita yang ada di dunia?'
Farel menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Mau kemana lagi?" tanya Farel ketika Niki sudah mau kabur padahal proses pembayaran belanjanya belum selesai.
"Bapak tunggu di sini dulu ya, aku mau ke ujung sana," ujar Niki tanpa menghentikan langkahnya.
"Nikah muda ya, Pak, anaknya sudah remaja," celetuk kasir dengan senyum menggoda.
"Saya belum punya anak, itu istri saya," sahut Farel tajam lalu segera mendorong kereta belanja yang isinya sudah menggunung menyusul Niki yang entah di mana.
"Eh, Pak Farel, kok nyusul 'kan aku bilang tunggu di sana aja." Niki terkejut sembari tangannya menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.
"Apa itu?"
"Kebutuhan wanita," ucap Niki malu. Semburat merah muncul di wajahnya. Farel tak membahasnya lagi, yang ada dipikirannya soal kebutuhan wanita adalah pembalut tidak ada yang lain.
"Niki, sepertinya saya sudah pernah bilang sama kamu, jika kita tidak berada di area kampus tolong jangan panggil Bapak. Bisa ga ada panggilan lain yang pantas untuk saya?"
"Mba Marisa panggil Pak Farel nama aja. Apa saya juga harus seperti itu?"
"Jangan, ga pantas di dengar orang."
__ADS_1
Bibir Niki mencebik merasa dibedakan oleh suaminya.
"Panggil Mas aja ya," pinta Farel lembut. Niki memandang suaminya yang sedang menyetir, senyumnya kembali terbit.
"Mas Farel."
Farel menoleh memandang Niki yang juga sedang menatapnya. Badannya yang capek setelah seharian mengikuti Niki menyusuri lorong toko perlengkapan rumah tangga, dan hatinya yang kesal karena dianggap Bapak oleh kasir toko kembali menghangat.
"Mba Marisa punya panggilan kesayangan, Echa. Kalau aku Mas Farel panggilnya apa?"
"Kamu mau dipanggil apa?"
"Sweetie." Farel menyengir mendengar panggilan yang menurutnya terlalu berlebihan untuk seumur dirinya.
"Yang lain ada ga?" tawarnya.
"Terserahlah, panggil nama aja aku juga noleh." Niki membuang pandangannya ke arah luar jendela. Bibirnya cemberut permintaannya di abaikan.
Farel menarik nafas pelan dan kembali menghembuskannya pelan, mungkin untuk seratus kalinya hari ini. Ia mencoba mengerti kondisi Niki yang mungkin sedang mengalami PMS, sesuai dugannya tadi istrinya itu membeli kebutuhan untuk wanita.
"Sayang," ucap Farel, "Sayaaang ...," panggil Farel dengan suara sangat lembut. Walaupun istri kecilnya itu tidak menoleh, tapi ia tahu Niki sedang tersenyum dari pantulan kaca mobil.
"Boros banget," celetuk Marisa ketika mereka baru sampai dan membawa barang belanjaan masuk ke dalam rumah.
"Aku sedang membelanjakan uang milik suamiku sendiri, sebelum wanita lain ikut-ikutan meminta jatah," sahut Niki tak peduli. Ia terus berjalan masuk ke dalam kamar dengan tangan penuh kantung plastik.
Dari kamarnya di lantai dua, ia masih mendengar suaminya sedang bercakap-cakap dengan mertuanya di lantai satu. Niki segera bergegas mandi dan berganti pakaian. Ada rencana besar yang sudah ia persiapkan sejak di dalam Mall.
Langkah kaki suaminya semakin mendekati pintu kamar. Dada Niki berdegub semakin kencang, ia tidak bisa mundur lagi. Semuanya harus berjalan sesuai bayangannya malam ini. Pegangan pintu bergerak, Niki segera merapikan posisinya.
"NIKI, ASTAGA!"
...❤️🤍...
Hai hai haaii, mampir kemari yuk karya temanku yang bagus banget
__ADS_1