Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Pupus


__ADS_3

"Aku ke ruang administrasi dulu ya, kamu tunggu di sini." Farel memegang kedua pundak Niki yang terpaku di depan ruang rawat. Istrinya itu tampak tegang melihat Marisa sedang dipersiapkan untuk dibawa ke meja operasi, "Nik ... Niki." Farel mengusap-usap bahu istrinya yang diam tak menghiraukannya bicara.


"Iya, iya aku di sini." Tanpa memalingkan kepalanya, Niki memberi kode pada suaminya untuk segera pergi ke ruang administrasi. Farel menghembuskan nafas panjang. Walau berat hatinya meninggalkan Niki dalam suasana hatinya yang kurang baik, ia terpaksa tetap melangkahkan kaki menyusuri lorong.


Sepanjang perjalanannya ke ruang administrasi, Farel kembali mencoba menghubungi Galih yang kabur begitu saja.


"Brengsek! Setidaknya kamu harus tahu anakmu mau lahir. Kalau tahu kamu sebejat ini, aku tidak ingin mengenalmu dulu." Farel mengumpat terus sembari menekan nomer Galih berulangkali.


Sementara itu Niki tak mengalihkan matanya dari Marisa yang terbaring lemah di atas meja operasi. Ia diperbolehkan masuk untuk mendampingi, tapi ia juga tak berani mendekat. Niki hanya berdiri di pojok ruangan sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.


Seumur hidup baru ini ia menyaksikan proses kelahiran manusia baru secara langsung.


"Ibu takut lihat darah? Kalau tidak kuat, lebih baik tunggu di luar ya," ucap perawat yang bertugas.


"Saya kuat, Sus. Cuman grogi aja, saya tunggu di sini saja boleh ya," pinta Niki memelas. Antara takut dan penasaran, ia ingin melihat bagaimana si bayi akan keluar dari perut Marisa. Andai perawat dan dokter tahu Niki belum pernah melahirkan, mungkin ia akan dikeluarkan dari ruang operasi saat itu juga.


Proses operasi berlangung tak lama, tapi sesuatu terjadi. Para medis terlihat panik sesaat setelah bayi berhasil dikeluarkan dari rahim Marisa. Niki memanjangkan lehernya, berusaha melihat apa yang di lakukan dokter dan perawatnya pada bayi yang baru lahir itu.


Sedangkan Marisa masih dalam proses penyelesaian operasi, membuat Niki tak dapat lebih dekat pada mantan istri dari suaminya itu. Suasana semakin tegang manakala dokter dan perawat saling bersahutan dengan suara tinggi dan cepat.


"A-ada apa?" Niki mencegat salah satu perawat yang untuk kesekian kalinya keluar untuk mengambil sesuatu dari luar.


"Maaf, Bu situasi darurat, bayi membiru tak menangis dan detak jantungnya semakin lemah."


"A-apa itu bahaya?"


"Kami lagi mengusahakan yang terbaik ya, Bu. Tolong dibantu doanya." Perawat itu langsung melesat membuka pintu dan keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban Niki.


Hawa yang dingin dalam ruang operasi dan kepanikan perawat serta dokter, membuat Niki semakin tegang. Ia ingin memanggil Farel yang menunggu di luar untuk menemaninya, tapi peraturan yang tertulis hanya boleh satu orang saja yang menunggu di dalam.


Bibir Niki bergerak melafalkan doa berulang kali, melihat Marisa terbaring di atas meja operasi membuat ia teringat akan Mamanya yang mungkin sama kondisinya saat melahirkan dirinya.

__ADS_1


Seorang dokter wanita berjalan menghampirinya dengan wajah sedih. Perasaan Niki mendadak tidak nyaman dengan tatapan dokter itu. Dari balik punggung dokter itu ia dapat melihat aktivitas perawat sedang membungkus sesuatu. Sudah tidak ada ketegangan lagi, yang terdengar hanyalah alat medis yang berdenting.


"Bu ... Bu." Dokter itu menggoyang-goyangkan tangan Niki yang melamun.


"Bayinya kenapa, Dok?" tanya Niki lirih. Entah mengapa ia merasa ada yang tidak beres di ujung ruangan tempat bayi Marisa dibersihkan.


"Maaf, kami sudah berusaha yang terbaik ...." Belum selesai terucap air mata Niki sudah mengalir. Kalimat yang biasa diucapkan dokter ketika mengabarkan berita duka, sudah sangat ia hafal.


Tak terdengar lagi apa selanjutnya yang dokter itu katakan. Yang ia tahu tubuhnya di tuntun keluar ruangan oleh seorang perawat dan dibawa mendekati Farel, lalu suaminya itu memeluknya dengan erat. Di sana tangisannya semakin pecah.


"Kita keluar cari minum sama roti dulu yuk," ajak Farel setelah istrinya terlihat lebih tenang.


"Mba Marisa?"


"Aku sudah tinggalkan nomer ponsel sama perawat, tadi katanya Marisa masih dalam proses pemulihan nanti kalau ada apa-apa mereka akan kabari. Lagian kita hanya ke minimarket di depan. Kamu juga makannya sedikit tadi, besok pasti lebih capek lagi karena harus bawa bayi Marisa ke makam." Farel berusaha membujuk istrinya.


"Bayikuuu ...." Diingatkan lagi tentang bayi Marisa, Niki kembali menangis.


Dengan satu kantong plastik berisi air mineral dan beberapa makanan, Niki dan Farel kembali ke rumah sakit. Saat baru akan memasuki halaman rumah sakit, sebuah ambulans melewati mereka dengan sirene yang meraung-raung.


Awalnya mereka tak mempedulikan kejadian darurat yang kerap terjadi di rumah sakit, tapi begitu pintu ambulan di buka dan pasien dibawa turun, langkah Farel dan Niki terhenti seketika.


"Itu Galih, Mas!"


Farel yang sudah mengenali dari jauh, meski wajah kawannya itu sudah hampir tak berbentuk lagi segera mendekati ranjang pasien yang di dorong tergesa.


"Galih! Galih!" Farel mengejar hingga pintu ruang IGD tertutup.


"Bapak kenal dengan korban tadi?" tanya salah satu perawat yang membawa Galih ke rumah sakit.


"Dia teman saya, apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Sepertinya mobil yang dikendarai korban tadi menabrak sesuatu. Saat kami datang tadi mobil korban sudah dalam keadaan hancur sedangkan kami tidak melihat benda atau mobil yang ditabrak di sekitar kendaraan korban." Penjelasan perawat itu membuat kening Farel tertaut.


"Keadaannya bagaimana?"


"Pemeriksaan awal di lokasi, kondisi cukup parah karena organ vital hampir semua kena tapi jangan khawatir tim medis akan berusaha sebaik mungkin."


Farel meraup wajahnya kasar mendengar penjelasan perawat itu. Dengan kondisi Galih yang sempat ia lihat tadi dan apa yang dijelaskan perawat, ia merasa harapan hidup untuk kawannya itu sangat tipis.


Belum sempat ia menarik nafas, ponsel di tangannya berdering menampilkan deretan nomer asing.


"Halo."


"Halo, maaf Pak segera ke ruang pemulihan Ibu Marisa."


"Baik, terima kasih."


Farel menutup ponselnya lalu menarik tangan Niki tanpa mengatakan apapun.


"Gimana keadaan Galih, Mas?"


Farel tetap diam, langkahnya semakin cepat sehingga tak sadar ia sedikit menyeret Niki yang mempunyai kaki lebih pendek dibanding kakinya.


"Kok buru-buru, ada apa?"


Farel tak mau bicara, karena ia pun juga tidak tahu apa yang terjadi. Dari nada suara perawat di telepon ia merasakan ada situasi yang penting bahkan gawat terjadi.


"Mas Farel! Ada apa?" Niki menyentak tangannya. Setengah hari penuh emosi dan menguras tenaga membuat kesabarannya habis.


"Aku juga ga tahu, perawat Marisa tadi telepon," ucap Farel berusaha sabar.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2