
Spontan Farel berbalik menghadap ke pintu. Tangannya meraba-raba tembok mencari saklar lampu.
Cklak. Lampu di padamkan oleh Farel.
"Kok lampunya dimatikan sih, aku masih baca nih," protes Niki. Ia sedang berbaring di atas ranjang dengan novel di tangannya.
"Pakai bajumu," ujar Farel dengan dada berdegub.
"Aku pakai baju kok."
"Baju model apa itu," gerutu Farel sembari berjalan menuju kamar mandi. Matanya yang sulit diajak kerjasama, berulangkali berusaha melirik istrinya yang terbaring dalam pose yang menantang.
"Ini namanya lingerie, Mas Farel. Pakaian untuk tidur para wanita," ujar Niki dengan nada mendayu.
"Pakaian tidur itu piyama, daster kalau yang kamu kenakan itu pakaian renang," sahut Farel tak setuju dengan pendapat istri kecilnya.
Kepalanya tanpa sengaja menoleh ke arah Niki yang memakai baju super minim berwarna hitam. Dengan kain satin bercelana pendek yang mempertontonkan keseluruhan paha mulusnya, dan atasan yang bertali tipis dengan belahan dada yang lebar, membuat seakan Niki hampir telanjang seluruhnya.
"Astaga," ulang Farel lagi. Mulutnya terus mengucapkan istighfar berulang kali. Kedua tangannya mengusap wajahnya agar ia terus tetap sadar. Meski ruangan dalam keadaan gelap, kulit Niki yang putih tetap terlihat jelas bagai berpendar.
"Kenapa sih?" Niki turun dari ranjang menghampiri suaminya. Jujur ia sebenarnya sangat malu berpenampilan seperti ini di depan seorang pria. Baru kali ini ia memperlihatkan bentuk tubuhnya pada orang lain. Semenjak beranjak dewasa ia tidak pernah berpakaian terbuka yang berlebihan, bahkan di depan kedua orangtuanya sekalipun.
Namun langkah ini harus ia pilih, demi mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Ia yakin, Marisa bukanlah wanita yang tepat untuk pria sebaik Farel. Meski dosennya itu terlampau keras kepala dan bodoh menilai wanita, Niki tetap mencintainya.
"Ngapain kamu kemari? Kembali tidur," titah Farel dengan suara bergetar. Apa yang keluar dari mulutnya, tentu sangat bertolak belakang dengan apa yang diinginkannya. Keinginan hati ingin menuruti hawa nafsunya, merobek baju yang istrinya sebut pakaian tidur itu dan melemparkan tubuh Niki ke atas ranjang.
"Aku mau mengambilkan handuk, Mas Farel mau mandi 'kan?" Tangan Niki terjulur menggapai gantungan handuk di belakang tubuh suaminya.
Tubuh Niki yang jauh lebih pendek membuat mata Farel leluasa menikmati apa yang terhidang di hadapannya. Ia masih ingat rekaman dua gundukan putih saat Niki membuka kancing kemejanya di dalam mobil, sekarang dua gundukan itu ada di depan matanya dan sangat terjangkau oleh tangannya.
Perang batin terjadi lagi antara ingin mundur menjauh atau meraih sesuatu yang menggoda di depannya.
__ADS_1
"Jadi mandi ga?" tanya Niki dengan suara menggoda. Sengaja handuk yang sudah ia ambil tadi tidak langsung diberikan pada suaminya. Niki mundur selangkah lalu mengacungkan handuk ke arah suaminya.
"Kemarikan handuknya Niki," pinta Farel. Bola matanya tak mau lepas dari dada halus milik istrinya.
"Ini, ambil aja," ucap Niki seraya mengulurkan tangannya yang memegang handuk.
"Nikiiii," keluh Farel gemas, ketika istri kecilnya itu usil menyembunyikan handuk di belakang tubuhnya saat ia ingin meraihnya.
"Bercanda aja, jangan marah dong." Niki memberikan handuknya dengan gaya sensual.
Farel berusaha bernafas dengan normal, ia mundur perlahan lalu berbalik masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Farel menghembuskan nafasnya yang sejak tadi ia tahan tanpa sadar.
Kenapa dia bisa seberani itu? Masa iya aku kalah mental dengan anak baru gede macam Niki? Apa iya dia sudah berpengalaman hak seperti ini sebelumnya? Ia bukan seperti wanita yang belum mengenal **** sebelumnya. Apa jangan-jangan ....
Pikiran buruk mulai mengisi otak Farel. Segala dugaan dan kemungkinan yang jelek tentang istrinya memenuhi kepalanya. Celetukan dan sindiran Marisa ketika pertama kali mereka bertemu Niki di apartement teringat kembali.
Farel menggeram marah. Ia merasa ditipu mentah-mentah oleh gadis yang ia kira polos selama ini. Ia berusaha menjaga Niki hingga saatnya tiba, tapi ternyata istrinya itu sudah berbuat lebih bahkan mungkin sebelum bertemu dengannya.
Pikiran buruk Farel semakin tak terkendali. Hatinya diliputi oleh kemarahan besar.
Braakk!
Tangannya menghempas sabun dan peralatan mandi lainnya yang berjajar di atas wastafel.
Apa itu?
Niki memegang dadanya terkejut. Tanpa Farel ketahui begitu suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi, Niki pun sibuk meredakan debaran jantungnya. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin menampilkan akting terbaiknya demi memikat hati suaminya.
"Mas Farel baik-baik aja?" Niki mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban dr suaminya, yang terdengar adalah suara kucuran air yang semakin keras.
Di bawah air yang mengalir, Farel membasahi seluruh tubuhnya dari atas kepala hingga kaki. Dipejamkannya kedua matanya, mencoba menghapus segala pemandangan yang seharian ini berusaha menggodanya.
__ADS_1
"Sialan!" Buughh!
Farel memukul dinding kamar dengan tangan terkepal. Bukannya hilang, pemandangan itu semakin menjadi ditambah dengan imajinasi liarnya.
Sepanjang pernikahannya dengan Marisa, ia tidak pernah merasakan hasrat yang setinggi ini walaupun mereka berada dalam satu ranjang. Farel tidak pernah menginginkan Marisa sekuat ini.
Dua tahun pernikahan mereka, ia masih bisa dapat menahan keinginan untuk menyentuh mantan istrinya itu. Namun dengan Niki, ada rasa ingin memiliki seutuhnya.
Rasa marah dan cemburu bercampur menjadi satu hanya dengan membayangkan Niki bermesraan dengan Tomi. Mengapa saat Marisa dengan jelas-jelas mengkhianatinya ia masih bisa bersabar, tapi dengan Niki ia marah dan tak terima padahal apa yang ada di kepalanya itu belum tentu benar.
Hampir tiga puluh menit, Farel belum ada tanda-tanda keluar dari kamar mandi. Niki yang memakai baju minim, sudah bergidik menahan suhu dari pendingin ruangan.
"Lama sekali, apa ketiduran ya Pak Farel di dalam. Dingin banget, kepingin pakai piyama tebal." Niki bergelung dalam selimut.
Bunyi kunci pintu kamar mandi terbuka, Niki dengan sigap menegakkan tubuhnya. Ia duduk bersandar dengan pose yang cukup mengundang.
Farel meliriknya sekilas. Masih tersisa kemarahan dan rasa curiga dalam kepalanya. Farel tersenyum sinis melihat cara duduk Niki yang dengan jelas ingin menggodanya.
"Apa yang kamu inginkan?" Farel menatap Niki dengan tajam.
"Mmm, ga ada," sahut Niki gugup.
"Kamu ingin mencobaiku, Niki?" Farel mulai berjalan mendekat.
"Ma-maksudnya?" Niki beringsut mundur. Ia sedikit takut melihat sikap dosennya yang berbeda dari sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Belajar dari mana kamu menggoda laki-laki, Niki? Apa ini sudah menjadi kebiasaanmu?" Farel memindai tubuh Niki mulai dari ujung kaki hingga wajahnya.
...❤️🤍...
Mampir sini kakak, cerita temanku ini ga kalah bagusnya loh
__ADS_1