Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Tersinggung


__ADS_3

Niki berbalik menghadap mama mertuanya yang baru hari ini bertemu dengannya. Dikepalanya masih berkutat dengan dua pertanyaan yang bertolak belakang. Manakah yang sebenarnya terjadi?


"Niki cinta sama Pak Farel, Tante," ucap Niki. Tak mungkin 'kan ia menjawab tidak mencintai suaminya di depan ibu mertuanya. Biarlah pertanyaan tadi menjadi bahan renungan pernikahan untuknya.


"Mama," ralat Mama Farel. Niki tersenyum tersipu, "Terima kasih, Mama senang mendengarnya. Meski secara usia kamu sebenarnya belum matang untuk menikah, tapi Mama harap kamu dapat lebih dewasa setelah menjadi seorang istri." Niki menganggukan kepala mengerti.


"Farel pernah punya pengalaman buruk di pernikahannya yang lalu, kamu tahu?" Niki kembali menggangguk, "Kamu menikah dengannya dalam posisi ia belum bercerai?" Niki kembali mengangguk, "Orangtuamu tahu dengan status suamimu?" Niki kembali mengangguk kali ini sedikit ragu.


Mulut Mama Farel sudah terbuka hendak menanyakan sesuatu, tapi urung ia malah mengusap punggung anak mantunya. Walaupun kabar berita yang ia dengar dari Marisa sungguh mengejutkan, tapi kesan pertama kali bertemu dengan menantu barunya itu sudah membuat mama Farel jatuh hati.


"Kapan Mama bisa bertemu orangtuamu?"


"Ma-mama mau ketemu orangtuaku?"


"Iya, kenapa? Saat kalian menikah, mama tidak ada. Mau taruh di mana muka ini di depan kedua orangtuamu?"


"Mama sama Papa mengerti kok ... mmm, saya bilang orangtua Pak Farel ada di luar negeri." Niki menyengir malu.


"Kamu ini nakal ya." Mama Farel menarik telinga Niki gemas. Dalam sekejap mertua dan menantu yang belum ada satu jam bertemu itu sudah langsung akrab.


"Munafik!" desis Marisa dari balik tubuh Farel.


Sejak awal Farel sudah mencuri dengar pembicaraan antara mamanya dan Niki. Saat ia ingin ke dapur menaruh mangkok, ia mendengar jawaban istri kecilnya saat mama bertanya apakah Niki mencintainya. Dada Farel berdesir mendengar pengakuan cinta dari bibir mungil Niki. Walaupun ia sudah tahu perasaan gadis itu, tapi entah mengapa saat mamanya yang bertanya terdengar seperti ikrar kesetiaan di telinga Farel.


"Ngapain kamu kesini?" cetus Farel terkejut dengan suara mantan istrinya dari balik tubuhnya. Entah sudah berapa lama wanita itu berdiri di belakangnya.


"Mau ambil makan, biasa kamu yang mengambilkan aku. Apakah sekarang aku harus ambil sendiri?" keluh Marisa sembari mengusap perutnya.


"Dapur di depan mata, rak piring tidak tinggi. Semua bisa terjangkau tanganmu, jadi aku rasa tidak sulit untukmu mengambil makan sendiri."


Marisa berdiri menatap Farel lurus, ia berharap mantan suaminya itu jatuh kasihan dan luluh padanya.


"Makanlah, kasihan bayimu," ucap Farel sembari masuk ke dalam dapur.

__ADS_1


'Kamu masih perhatian, Farel. Aku yakin kamu masih mencintaiku. Beri sedikit waktu lagi, aku akan membuatmu kembali berpaling kepadaku.'


Malam ini mereka habiskan di apartement milik Farel, baru besok mereka akan pindah ke rumah yang dulu ditempati Marisa dan Farel.


"Pak Farel tidur di sini?" Niki yang sedang mengoleskan krim malam di wajahnya sedikit terkejut, ketika Farel masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.


"Iya, kenapa?"


"Ga tidur sama Mama Pak Farel?"


"Kamar di sini hanya ada dua, kalau aku tidur sama Mama, kamu tidur sama Marisa, mau?"


"Ogah!"


"Jadi milih tidur sama aku?" goda Farel.


"Ga ada pilihan. Pak Farel kok nyebutnya pakai aku, aku, biasanya juga saya. Risih ah!"


"Kalau di kampus wajib pakai saya. Kita suami istri terdengar aneh pakai kata saya, apalagi kamu panggil saya Pak. Memangnya kamu minta saya ajari apa di kamar seperti ini?" Niki melirik suaminya yang duduk di ranjang melalui cermin. Senyum dan kerlingan matanya tampak nakal sekali.


Farel terperangah, rupanya ia lupa kalau gadis yang duduk membelakanginya ini adalah perempuan yang nekat.


"Kamu ga apa-apa tinggal satu rumah dengan Marisa?" Farel memutar arah pembicaraannya. Ia belum mau menghabiskan malam ini menjadi malam pertamanya dengan Niki sebagai suami.


"Kenapa memangnya? Yang harus ditakutkan apaahh?" Niki semakin berani menggoda suaminya, ia berdiri dan mendekati Farel dengan langkah anggun menggoda.


"Ya sudah kalau ga apa-apa. Baguslah." Farel menggaruk dagunya sembari mendongak menatap Niki yang berdiri di hadapannya.


"Bapak tidak mau membimbing aku sesuatu gitu?" pancing Niki.


Farel tersenyum tipis, menahan rasa gemas ingin menjatuhkan istri kecilnya ke atas ranjang.


"Kamu benar, sudah lama kamu ga dibimbing." Farel berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Niki. Mereka berdiri berhadapan dengan mata tertaut saling mengadu kekuatan.

__ADS_1


"Iyaaa, Pak Farel mau ajari aku apaaa," ujar Niki menantang dengan suara genit. Sebelah tangannya memutar ujung rambutnya dengan senyum menggoda.


Keduanya saling mengukur kekuatan, padahal dada mereka bergetar menahan hasrat sekaligus takut.


"Saya ingin mengajari kamuuu ...." Farel berjalan maju, mendesak Niki ke arah meja yang ada di sudut ruangan.


Kening Niki sedikit berkerut mendengar suaminya menyebut kata saya. Namun ia masih tetap memasang wajah dewasa yang menggoda. Sembari berjalan mundur, Niki sesekali tersenyum menggoda dan menyentuh dada Farel dengan jari telunjuknya.


"Ini." Farel memutar tubuh Niki dan mendudukan istri kecilnya itu di kursi belajarnya.


"Mau apa?" Niki memprotes tak terima ketika dosennya itu membuka laptop miliknya.


"Selesaikan tugas akhirmu, Sayang," bisik Farel di telinga Niki.


"Ga mau!" Niki menutup laptopnya dengan kasar. Ia merasa kesal diperlakukan seperti anak kecil.


"Kalau ga dikerjakan sekarang, kamu ga bisa ikut wisuda tahun ini."


"Siapa yang bilang aku mau wisuda tahun ini?"


Farel menghela nafas panjang, istri kecilnya itu tampak emosi sekali. Ia tidak mau Marisa dan mamanya mendengar pertikaian mereka.


"Kamu pernah bilang, ga mau wisuda tahun ini karena nanti kita akan berpisah setelah kamu wisuda. Apa karena itu kamu ga mau wisuda?"


"Siapa bilang? Itu dulu, sekarang aku sudah berubah pikiran. Aku juga pernah bilang, sekarang sadar kalau Pak Farel ga pernah serius dengan pernikahan ini. Terbukti dengan membawa Mba Marisa masuk ke dalam rumah. Asal Pak Farel tahu, aku mau tinggal dengan Mba Marisa karena aku menghargai Mama Pak Farel. Dan siapa bilang aku belum menyelesaikan tugas akhirku? Dosen pembimbing aku bukan hanya Pak Farel, tanpa Pak Farel pun tugasku sudah hampir selesai dan aku pastikan wisuda tahun ini!"


Nafas Niki terengah-engah antara emosi dan kehabisan nafas setelah mengomel panjang hampir tanpa jeda.


"Sekarang aku mau selesaikan tugasku, Pak Farel kalau mau tidur, silahkan aku bisa belajar sendiri," ucap Niki ketus sembari berbalik kembali menghadap meja dan membuka laptopnya.


...❤️🤍...


Kembali lagi bawa cerita bagus untuk kamu. Jangan sampai kelewatan semua episodenya looh

__ADS_1



__ADS_2